
Bruk!
Om Robi didorong oleh dua orang anggota Tiger King hingga tersungkur di lantai. Mereka membawa Robi Hartanto kembali ke rumahnya. Selama lima tahun ini, ternyata Om Robi membawa keluarganya hidup di Kota J.
Bayu sudah lama mengincar Robi Hartanto sejak ia masih berada di Kota S. Dia sangat penasaran dengan orang yang tega membiarkan Prita hidup sengsara. Tentu saja, ia ingin membalasnya meskipun ia tak kenal siapa Robi Hartanto. Baginya, orang yang berani menyakiti Prita berarti berurusan dengannya.
Dia menyuruh anak buahnya untuk melacak jejak Robi. Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya mereka menemukannya. Robi Hartanto justru ada di Kota J, sarang Tiger King. Robi pasti tidak pernah menyangkan akan berurusan dengan para mafia itu.
Selain mencari keberadaan Robi, Bayu juga menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kasus kecelakaan orang tua Prita. Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia kejahatan, dia sedikit banyak paham pola pikir orang licik seperti Robi. Ternyata benar, dia berhasil mendapatkan bukti-bukti pembunuhan berencana.
Setelah menemukan Robi, mereka menculik dan memaksanya untuk menandatangi berkas-berkas pengalihan harta. Perusahaan yang baru Robi rintis di Kota J tak luput dari penyitaan. Sebagian surat kepemilikan tanah dan rumah di Kota S masih ia simpan. Sebagian lagi sudah ia jual untuk mendirikan perusahaan baru itu.
"Ada apa ini?" Yuni yang mendengar suara ribut-ribut di halaman rumah segera keluar. "Astaga... Mas!" pekiknya ketika melihat sang suami terkapar di halaman rumahnya.
Yuni menghambur langsung memeluk suaminya. Kondisi Robi begitu memprihatinkan penuh luka di sekujur tubuhnya. "Kalian siapa!? Apa yang sudah kalian pada suamiku!?" Yuni memarahi sekelompok orang berjas hitam yang tanpa permisi datang ke rumahnya.
Sebelumnya, Yuni sudah punya firasat buruk. Suaminya sudah tidak pulang selama dua minggu. Selama itu ia menantikannya dengan harap-harap cemas. Kekhawatirannya kini terjawab sudah. Suaminya pulang dalam kondisi babak belur digelandang oleh belasan orang.
"Ayah!" Zia yang merasa terusik dengan kegaduhan di luar juga ikut keluar. Ia menghambur memeluk ayahnya. Ayah kebanggaannya itu dalam kondisi buruk.
"Sebaiknya kalian segera berkemas dan pergi sekarang juga dari kota ini." perintah salah seorang dari mereka yang merupakan pemimpin.
"Maksudnya apa? Ini rumah kami sendiri. Kenapa kalian mengusir kami!?" Yuni masih lantang bersuara. Ia benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi. Seenaknya saja mereka menyuruh pergi.
Robi berusaha menenangkan istrinya yang belum tahu siapa orang-orang itu. Ia takut ucapan istrinya akan membuat mereka semakin geram.
"Kalau kalian tidak mau pergi ya siap-siap saja membusuk di penjara. Atau kalau ingin penderitaan kalian cepat berakhir, aku bisa menembak kalian sekarang juga." orang itu mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya. Diarahkan pistol itu tepat ke arah Robi.
"Mas, mereka siapa? Dan apa maksudnya menyuruh kita pergi?" Yuni meminta penjelasan pada suaminya. Yuni ketakutan.
Robi menghela nafas, "Mereka tahu kalau Mas Rudi mati bukan karena kecelakaan. Mereka tahu aku yang membunuhnya. Dan... mereka juga memegang bukti-bukti kejadian itu dan semua mengarah padaku." Ia memijat keningnya yang pusing.
"Aa... apa!?" tubuh Yuni langsung gemetar. Ia tidak menyangka perbuatan suaminya akan terbongkar setelah sekian lama. Padahal, ia ingin memulai hidup baru dengan damai setelah meninggalkan Kota S. Nyatanya, kejahatan yang selama ini mereka pendam bisa ditemukan celahnya juga. "Mas... bagaimana ini.... huhuhu.... "
__ADS_1
"Cepat kemasi barang kalian!" orang itu masih menodongkan pistolnya.
"Yah.... " Zia ikut ketakutan melihat tatapan tajam orang-orang itu. Baru kali ini ia berhadapan dengan orang-orang yang menyeramkan.
"Stttt.... tidak usah takut. Kita hanya perlu menuruti kemauan mereka." Om Robi memeluk anak dan Istrinya.
Ia kemudian menggandeng keduanya masuk ke dalam rumah untuk mengemasi barang-barang. Beberapa orang berjas hitam itu ikut masuk ke dalam mengawasi.
"Jangan ambil apapun selain pakaian kalian!"
"Mas.... sebenarnya selama dua minggu ini kamu kemana? Kenapa pulang-pulang jadi begini?" Yuni mulai memasukkan baju ke dalam tas dan koper. Ia berbicara dengan suara kecil takut didengar oleh orang-orang itu.
"Mereka Tiger King. Mereka yang menculik dan menyekapku."
"Apa urusannya Tiger King dengan kecelakaan itu, mas? Kenapa mereka ingin tahu?" Yuni penasaran. Dia tahu tentang Tiger King.
"Prita... sepertinya Prita jadi wanita kesayangan Bayu Bagaskara."
"Aku rasa keponakanmu sudah jadi wanita tidak benar, Mas." Yuni menebak-nebak jika Prita hanya pura-pura polos saja. Sebenarnya, dia wanita nakal yang suka menggoda lelaki.
"Ah! Lepaskan aku!" pekik Zia. Ia berusaha melepaskan cekalan salah seorang di antara mereka yang menjambak rambutnya dan menyeretnya ke kamar orangtuanya.
Bruk!
Zia didorong hingga jatuh tersungkur di delan orang tuanya.
"Zia!" Yuni langsung memeluk anaknya.
"Ibu.... huhuhu.... " Zia menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya.
"Anakmu mau kabur lewat jendela!"
"Tapi kalian tidak perlu sekasar ini pada kami!" bentak Yuni. Bagaimana bisa mereka kasar lada perempuan.
__ADS_1
Robi merasa bersalah pada anak dan istrinya. Semua ini karena kesalahannya hingga keluarganya harus menerima perlakuan tidak baik. Ia sangat tidak berdaya untuk sekedar membela keluarganya. Seharusnya dulu ia menyerahkan diri saja pada polisi tanpa harus membunuh kakaknya. Ia benar-benar menyesal.
"Untuk apa kami lemah lembut pada kalian? Memangnya kalian orang baik."
"Hahaha.... " mereka menertawakan keluarga yang tampak ketakutan itu.
"Cepat keluar sekarang!"
"Pak... kalau kami tidak diperbolehkan membawa uang, bagaimana kami bisa hidup?"
"Heh! Kalian masih hidup saja seharusnya bersyukur! Kalian masih bisa memakai tenaga kalian untuk bekerja. Daripada kalian ditembak mati bos kami. Mau!"
Yuni dan Zia berpelukan erat.
"Semua yang kalian tinggalkan saja masih kurang untuk mengembalikan harta yang sudah kalian rampas. Kalian sudah enak-enakan lima tahun hidup dengan harta orang lain. Masih ngelunjak!"
"Sudah, sudah... kita pergi sekarang." pinta Om Robi.
Yuni dan Zia mengikuti ayahnya di belakang. Orang-orang itu terus mengawasi mereka.
"Yah... aku tidak mau jadi gembel. Aku tidak mau jadi orang miskin." Rengek Zia.
"Sudahlah, Zia. Lebih baik kita pergi sejauh mungkin dari kota ini. Nanti, ayah akan bekerja keras agar bisa membelikan semua yang kamu inginkan."
"Kenapa kita harus pergi dari kota ini?"
"Kalau kita tidak pergi, ayah akan dipenjara. Apa kamu mau ayah dipenjara?"
"Aku tidak mau!"
"Makanya menurut!" Yuni mencubit pinggang Zia yang banyak merengek disituasi seperti itu.
Robi memandangi rumah yang selama lima tahun terakhir ini ditempati. Rumah yang ia harapkan menjadi awal baru kehidupannya setelah tega membunuh kakaknya, kini harus ia tinggalkan. Walaupun telah meninggalkan Kota S, namun penyesalan telah membunuh kakaknya terus ia bawa sampai hari ini. Ia merasa inilah karma atas perbuatan buruknya di masa lalu.
__ADS_1