ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Amarah Bayu


__ADS_3

Bayu mengemudikan sendiri mobilnya menuju mansion. Setelah pulang dari Kota J, ia singgah di kantornya untuk mengurusi beberapa berkas sebelum menyerahkan kantor kepada orang kepercayaan ayahnya.


Sebenarnya urusannya di kantor belum selesai, tapi entah kenapa ia ingin segera pulang ke mansion menemui wanitanya. Mungkin rasa rindu karena tiga hari tak bisa bertemu dengannya. Karena itu ia menyerahkan sisa urusannya di kantor kepada Beni.


Mobil terus melaju menyibak gelapnya malam dan rimbunnya hutan. Sepanjang jalan hanya ada kesunyian diiringi suara-suara binatang malam yang saling bersautan.


Beberapa saat kemudian, mobilnya sampai di gerbang mansion. Ia menghentikan mobil dan menurunkan kaca mobilnya. Bodyguard yang berjaga memberi salam dan bergegas membukakan gerbang.


Bayu menutup kembali kaca mobilnya kemudian melajukannya kembali memasuki halaman mansion. Di depan pintu masuk, penjaga memberinya salam. Di balik pintu, Bi Ratna sudah berdiri menyambutnya. Ia memberikan jasnya kepada wanita setengah baya itu.


"Dimana Prita?"


"Di kamarnya, Tuan."


"Apa dia sudah makan malam?"


"Nona baru saja makan malam dan setelah itu kembali ke kamarnya."


"Apa yang dilakukannya selama 3 hari aku tak ada? Apa ada hal aneh yang dia lakukan?"


"Tidak ada, Tuan. Nona bersikap seperti biasanya. Dia hanya berjalan-jalan di sekitar taman dan lebih banyak berdiam diri di kamarnya."


"Dia tidak mencoba kabur? Memaksa penjaga membukakan gerbang atau berusaha memanjat tembok?"


"Tidak, Tuan."


"Baiklah, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu."


"Apa saya perlu menyiapkan makan malam untuk Tuan?"


"Tidak perlu. Aku tidak lapar. Aku mau langsung naik saja."


"Baik, Tuan."


Bayu langsung bergegas menaiki tangga. Ia sudah tidak sabar menemui wanita kesayangannya.


Cklek!


Senyumnya langsung hilang melihat apa yang dilakukab Prita. Wanita kesayangannya itu sedang menelepon seseorang dengan ponsel. Kerinduannya berubah menjadi amarah yang membuncah.


"Darimana kamu mendapatkan benda itu!?" tanyanya dengan nada penuh amarah.


Prita yang terkejut langsung menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh. Bayu berjalan mendekatinya.


"Berikan ponsel itu!"


"Tidak mau!"


"Siapa yang kamu telepon? Cepat berikan!" paksa Bayu. Ia berusaha merebut ponsel yang disebunyikan Prita.

__ADS_1


"Jangan! Ah.... " pekik Prita.


Bayu akhirnya berhasil mengambil paksa ponsel yang Prita pertahankan. Ia segera mematikan sambungan telepon dan menonaktifkan ponsel itu.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Prita.


Bayu mengambil ponselnya sendiri, "Kumpulkan semua pelayan dan penjaga di ruang utama sekarang juga!" perintahnya.


Bayu memegang dagu Prita, mengangkat kepalanya agar bisa menatap matanya yang kini dipenuhi amarah. Namun wanita itu hanya bisa menangis dan ketakutan terhadapnya.


"Katakan... kenapa kamu bisa memegang benda ini? Siapa yang berani memberikannya padamu." desak Bayu. Ia meminta jawaban Prita segera.


Prita tidak menjawab. Tangisannya semakin tersedu-sedu.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau menjawab. Aku akan mencari jawabannya sendiri."


Bayu menarik kasar tangan Prita, menyeretnya keluar kamar. Di ruang utama, semua pelayan dan penjaga telah berkumpul. Mereka tampaknya keheranan melihat sikap kasar Bayu kepada wanita yang selama ini ia perlakukan seperti putri.


Bruk!


Bayu mendorong keras tubuh Prita hingga tersungkur ke lantai di hadapan semua orang.


"Siapa yang berani memberikan ponsel ini kepada wanitaku!"


Semua pelayan dan penjaga terdiam. Mereka tahu, saat ini majikannya sedang sangat marah. Heni yang merasa bersalah, tubuhnya langsung bergetar ketakutan. Ia sangat takut ketahuan.


Suasana kembali hening.


"Pengawal... cambuk semua pelayan sampai ada yang mengaku. Jika tidak ada yang mengaku, cambuk mereka sampai mati!"


"Jjangan, Tuan... Saya yang bersalah... huhuhu.... " Heni tiba-tiba angkat bicara dan maju ke depan.


Prita membelalak melihat Heni mengakui semuanya. Para pelayan saling pandang dan berbisik-bisik dengan keberanian Heni.


"Oh, jadi kamu yang berani memberikan ponsel pada wanitaku?"


Klek!


Bayu langsung mengacungkan pistol tepat mengarah Heni. Pelayan itu tampaknya pasrah dan hanya bisa menangis.


"Jangan lakukan! Ini salahku! Aku yang memaksa untuk memberikan ponselnya padaku. Kalau mau menembak orang, tembak aku!"


Dengan berani Prita berdiri tepat di depan Bayu, mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri.


Bayu menyeringai, "Kalau kamu takut aku membunuh orang, kenapa kamu berani melibatkan mereka? Kamu pikir aku orang yang pemaaf?"


Bayu kembali mengarahkan pistol kepada Heni. Prita menggenggam ujung pistolnya.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apapun yang kamu minta. Aku janji, ini terakhir kali aku berusaha kabur darimu. Aku mau menjadi milikmu selamanya jika itu maumu. Tolong jangan hukum orang lain karena kesalahanku. Aku benar-benar akan menurut padamu."


Bayu menurunkan pistolnya, ia menatap pancaran mata Prita yang penuh kesungguhan di matanya.


"Pengawal... bawa pelayan itu ke ruang bawah tanah." perintah Bayu.


Beberapa pengawal langsung menangkap Heni dan menyeretnya keluar mansion. Prita memegangi lengan Bayu, memohon-mohon agar Heni tidak di bawa ke ruang bawah tanah menyeramkan yang pernah ia lihat. Heni akan disiksa di sana.


Bayu tak menggubris permintaan Prita. Ia justru kembali menarik tangan Prita dan membawanya naik kembali ke kamar.


Bruk!


Bayu melemparkan Prita ke atas ranjang. Ia melepaskan pakaian sendiri satu per satu.


"Buktikan kalau kamu bisa menjadi milikku. Jika tanpa obat yang biasa aku berikan kamu bisa menerimaku, aku tidak akan membunuh pelayan itu. Jika kamu tidak bisa melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh pelayan itu. bahkan seluruh pelayan di rumah ini."


Dengan tangan gemetar, Prita ikut melepaskan pakaiannya satu per satu mengikuti apa yang dimau Bayu saat ini.


*****


Setelah menuntaskan hasrat dan kekesalannya, Bayu bersandar di kepala ranjang sambil menghisap rokoknya. Sementara Prita di sampingnya sudah tertidur. Sepertinya wanita itu kelelahan setelah hampir tiga jam melayani Bayu yang sedang dalam kondisi marah.


Bayu mengambil ponselnya, "Halo, Ben.... "


"Iya, Bos?"


"Kirimkan helikopter ke mansion sekarang juga. Secepatnya."


"Ada apa, bos?"


"Sepertinya akan ada yang datang ke mansion malam ini. Aku akan membawa Prita ke Kota J malam ini juga."


"Apa saya perlu menambah penjaga di sana?"


"Tidak perlu. Aku tidak berniat untuk meladeni mereka. Kamu cukup kirim helikopter. Aku akan kabur dengan itu. Meladeni perusuh hanya akan membuat masalah baru untukku."


"Baik, Bos. Saya sudah menyelesaikan pekerjaan Anda di kantor. Apa saya perlu datang ke sana?"


"Tidak usah. Nanti kita ketemu saja di Kota J. Suruh orang untuk mempersiapkan tempat tinggalku yang baru bersama Prita. Gunakan apartemenku yang ada di pusat kota."


"Baik, Bos."


"Ingat, rahasiakan semuanya dari ayahku."


"Anda bisa mempercayai saya, Bos."


"Ya sudah. Lakukan tugasmu. Aku tunggu kiriman helikopternya."


Bayu menutup teleponnya. Kini, perhatiannya beralih ke tampilan rekaman CCTV di layar televisinya. Ia memfokuskan rekaman di titik-titik terluar hutan sebelum memasuki area mansionnya.

__ADS_1


Sesuai prediksinya, ada rombongan mobil yang memasuki area hutan kawasannya dari arah barat dan timur. Mungkin mereka sengaja ingin mengepung mansion. Diperkirakan sekitar setengah jam lagi mereka akan sampai di tempatnya.


Bayu kembali mengambil ponselnya, "Perketat penjagaan di jalur timur dan barat. Pasang pagar pohon buatan untuk mengecoh tamu kita. Persiapkan para penjaga di sekitar mansion. Tahan mereka selama mungkin sampai nanti aku pergi dengan helikopter."


__ADS_2