
"Kali ini jawab dengan jujur, ya. Aku akan menanyakan ini untuk terakhir kali. Kamu yakin mau menikah dengan Prita?"
Irgi duduk santai di sofa sambil menghisap rokok kemudian menghembuskan asapnya melalui mulut. Kali ini ia ada di kantor Ayash.
Ayash menyandarkan punggung pada kursi empuknya, "Aku harus menjawab seperti apa agar kamu percaya?"
"Pernikahan kalian sudah tinggal beberapa hari lagi. Masih ada waktu untuk mundur kalau kamu tidak siap menerima Prita."
Ayash terdiam sejenak, "Aku sudah memikirkannya berkali-kali dan perasaanku masih tetap sama."
"Kamu juga harus memikirkan kedepannya, bukan hanya untuk saat ini. Bagaimana kalau suatu saat keluargamu tahu anak yang dikandung Prita bukan anakmu?"
"Apapun yang terjadi aku akan selalu ada di pihak Prita."
"Baguslah! Aku akan merasa tenang jika ada yang bisa menjaga Prita."
"Kalau aku tidak menikahi Prita, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu yang akan menikahinya?"
Irgi tertawa kecil, "Raeka akan marah kalau mendengar ini."
"Mungkin, jika Prita menyuruhku menikahinya, aku akan setuju."
"Wo... culas."
"Aku mengatakannya karena tidak mungkin terjadi. Prita pasti akan memilih membesarkan anaknya sendiri daripada memintaku menikahinya."
"Prita bilang beberapa hari yang lalu Bayu menemuinya."
Irgi tersentak. Ia langsung berpindah duduk di depan meja Ayash.
"Sudah aku duga suatu saat dia akan kembali. Aku bilang juga apa, kalian pergi saja ke luar negeri. Di sini tidak aman."
"Aku tetap harus melaksanakan pernikahan di sini. Setidaknya untuk menghormati orang tuaku."
*****
"Kenapa berhenti?"
Bayu protes ketika merasakan truk yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti. Truk di depannya juga ikut berhenti.
"Sepertinya kita dihadang oleh orang suku pedalaman, Bos." jawab si sopir.
Dalam hati Bayu menggerutu. Dia sudah menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas. Senjata sudah ia kirimkan ke tujuan. Saat waktunya pulang, malah ada kendala dari penduduk lokal. Ia sudah tidak sabar mencapai daerah kota agar bisa mendapatkan akses internet.
Darahnya berdesir, emosinya memuncak terhadap pengganggu yang menghalangi jalannya. Ingin ia bantai semua yang memperlambat perjalanannya kembali pada Prita.
Sudah susah payah ia menahan diri selama lima hari tanpa kenyamanan yang biasa ia nikmati, terutama jaringan telepon, demi tugasnya. Hanya hutan dan hutan yang bisa ia pandang setiap hari.
__ADS_1
"Ayo keluar dan hadapi mereka!" perintahnya.
Bayu mengambil M-16 yang ia simpan di bawah jok mobil. Rasanya sudah tidak sabar untuk bermain tembak-gembakan dengan mereka.
Ben menghentikan tangan Bayu ketika hendak membuka pintu truk. "Jangan gegabah, bos. Biasanya mereka membawa panah atau tombak beracun."
Bayu tersenyum meremehkan, "Kenapa harus takut? Kita punya banyak senjata api."
"Di truk depan orang kita sedang mencoba diskusi. Siapa tahu dengan sesama orang daerah bisa selesai dengan damai."
Bayu menyilangkan tangannya memeluk M-16 sembari fokus melihat anak buahnya di truk depan yang mencoba berunding.
"Mau mereka apa mencegat orang di tengah jalan?"
"Saya tidak tahu. Kadang ada yang ingin menjarah."
"Huh! Menjarah apa? truk ini hanya ada pasir. Mereka pikir kita mengangkut emas?"
Mereka terus memperhatikan anggota rombongan dan orang-orang suku yang tampaknya sedang mengalami diskusi yang alot. Orang-orang itu tampak marah dan memojokkan anggota rombongan.
Jleb!
Salah satu anak buah Bayu terkena anak panah. Keributan sudah tak bisa dielakkan.
"Bawa senjata! Bantai mereka semua! Bangsat!" umpat Bayu seraya membuka kasar pintu truk yang menghalanginya.
Anak panah mulai berterbangan dari berbagai arah. Sepertinya jumlah mereka lebih banyak dari yang Bayu bayangkan.
"Hati-hati Bos, panah yang mereka gunakan beracun."
"Aku tahu. Dasar orang-orang primitif membuang-buang waktuku saja."
"Nyalakan lampu truk! Tembaki mereka semua sampai mampus!"
Lampu truk langsung dinyalakan. Setiap ada bayangan musuh yang tertangkap, mereka langsung melesatkan tembakan.
Anak-anak panah masih terus berterbangan. Beberapa anggota rombongan ada yang terkena anak panah.
Sret jleb!
"Ah!" pekik Bayu ketika salah satu anak panah mengenai pundak kanannya.
"Bos!" Ben langsung berlari menghampiri Bayu.
Lagi-lagi sial bagi Bayu, harus terkena senjata musuh. Dengan sekuat tenaga ia pegang gagang anak panah yang menancal di tubuhnya kemudian menariknya kuat.
"Ah!" pekiknya lagi saat anak panah berhasil dicabut.
__ADS_1
Jangan ditanya lagi rasanya bagaimana, sangat sakit. Namun, Bayu sudah terbiasa untuk menahan rasa sakit seperti itu.
"Kita harus segera pergi dari sini, Bos. Kalau terlalu lama, mereka akan memanggil teman-temannya yang lebih banyak."
Ben membantu memapah Bayu naik kembali ke atas truk. Anak buahnya yang lain masih tetap waspada menembaki musuh yang terlihat.
"Lanjutkan perjalanan!" teriak Ben sebagai aba-aba memerintahkan anak buahnya kembali menaiki truk.
Beberapa anggota rombongan yang terluka, dibawa naik ke atas truk. Sementara, mereka yang mati, ditinggalkan begitu saja. Jalan sudah terbuka kembali, anak panah yang melayang ke arah mereka semakin berkurang jumlahnya.
Truk kembali berjalan. Ben membantu Bayu melepaskan pakaiannya untuk melihat bagian pundak yang terkena panah.
Darah segar masih mengucur. Lukanya tampak cukup dalam. Ben mengambil obat dari dalam tasnya. Obat itu adalah ramuan anti racun yang sengaja ia persiapkan untuk mengantisipasi hal-hal seperti itu.
Bayu meringis menahan sakit ketika Ben membersihkan lukanya dan mengoleskan obat. Sensasi perih menjalar ke seluruh tubuh.
"Ehh... hah!" geramnya.
Nafas Bayu terengah-engah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ia merasa lemas dan tiada daya. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, memandangi pepohonan dalam gelapnya malam.
"Sebaiknya Anda beristirahat karena efek obatnya akan membuat mengantuk."
"Kalau dipikir-pikir, aku sering tidak beruntung. Kenapa senjata-senjata orang suka sekali menempel di tubuhku." gumam Bayu.
"Tapi Anda selalu selamat. Artinya tubuh Anda kuat."
"Apa kamu pernah terluka, Ben?"
"Pernah. Badan saya lebih banyak bekas lukanya daripada Anda."
Bayu menyeringai, "Anehnya kamu masih betah bekerja di dunia seperti ini padahal sudah tau resikonya cacat atau mati."
"Semua pekerjaan memiliki resikonya sendiri-sendiri."
"Apa kamu ada niatan untuk berhenti?"
Ben terdiam sebentar. "Untuk saat ini sepertinya belum."
"Kalau Anda sendiri?"
"Aku sejak dulu tak pernah menyukai hidup seperti ini. Mungkin aku harus membunuh ayahku jika ingin berhenti dari dunianya."
"Aku lebih menginginkan kehidupan biasa seperti orang pada umumnya."
Tiba-tiba Bayu kembali teringat kepada Prita. Membayangkan mereka menjadi satu keluarga dan memiliki beberapa anak. Prita membuatkan sarapan saat ia hendak berangkat bekerja dan menyambutnya dengan pelukan saat ia pulang. Kemudian anak-anak yang lucu yang selalu menempel manja padanya. Begitu menyenangkan kehidupan yang tenang seperti itu.
Ia sudah kehilangan masa kecil dan remajanya karena ayahnya. Setidaknya ia bisa mendapatkan masa dewasa sesuai harapannya. Ia ingin hidup dengan Prita dan terlepas dari kungkungan ayahnya.
__ADS_1