
Flash back on
22 tahun yang lalu
Maya mengendarai sendiri mobilnya. Ditengah guyuran hujan, mobil ia jalankan pelan sambil memperhatikan alamat rumah yang ia cari. Setibanya di depan sebuah rumah minimalis, ia menepikan mobilnya. Ia keluar dari mobil dan berlari kecil menuju teras rumah.
Ting tong....
Seorang lelaki berwajah blasteran membukakan pintu. Ia tampak heran melihat seorang wanita yang bertamu ke rumah malam-malam dan sedang turun hujan deras. Wajah wanita itu tampak sendu.
"Ada perlu apa, ya?" tanyanya.
"Saya Oryza Maya, Istri Amar Prayoga."
Lelaki itu tampak memperlebar matanya karena terkejut. "Oh, silakan masuk dulu. Kita bicara di dalam." pintanya.
Lelaki itu mempersilakan Maya menunggu di ruang tamu, sementara dirinya membuatkan secangkir teh hangat di dapur. Ia membawanya ke hadapan tamunya.
"Silakan diminum dulu."
"Terima kasih."
"Jadi, apa keperluan ibu... "
"Maya, panggil saja saya Maya."
"Ah, iya. Apa keperluan Ibu Maya sampai malam-malam begini datang ke rumah saya?"
"Saya tahu, nama Anda Reonal, kan? GM di perusahaan suami saya?"
Reonal mengangguk.
"Istri anda Rianti, sekertaris suami saya?"
Reonal kembali mengiyakan. Memang, dia dan istrinya bekerja di perusahaan yang sama, perusahaan milik Amar.
"Sebenarnya saya kemari bukan untuk bertemu dengan Anda, tetapi Ibu Rianti."
Reonal mengernyitkan keningnya, "Tapi Rianti belum pulang. Dia ditugaskan Pak Amar untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota selama satu minggu."
__ADS_1
Maya menghela nafas panjang. Dikeluarkannya sebuah amplop coklat dari dalam tasnya. "Bukalah."
Reonal menerima amplop coklat itu. Ia membukanya dengan penuh tanda tanya. Pasti ada hal penting sampai istri bosnya itu datang ke rumah malam-malam.
Deg!
Tangan Reonal gemetar ketika melihat isi amplop coklat itu. Ada banyak foto-foto yang menggambarkan kemesraan antara istrinya dengan bosnya.
"Foto-foto itu diambil oleh orang suruhanku dua hari yang lalu. Mereka tidak sedang melakukan perjalanan bisnis, melainkan liburan ke Singapura."
Reonal tak bisa berkata-kata. ia masih merasa syok dengan apa yang dilihatnya. Rasanya tidak mungkin istri yang telah ia nikahi selama 11 tahun tega mengkhianatinya. Lagipula, dia, Amar, dan Riani sudah berteman baik sejak kuliah. Membangun bisnis juga mereka lakukan bersama-sama sampai perusahaan jadi cukup maju seperti sekarang.
"Anda pasti baru mengetahui ini sekarang, kan? Sebenarnya saya sudah tahu sejak lama, sejak awal pernikahan kami, empat tahun yang lalu."
"Mas Amar mengatakan kalau dia mau menikah dengan saya hanya karena permintaan orangtuanya. Dia tidak mencintai saya, dia mencintai wanita lain yang bernama Rianti. Katanya, dia sudah menyukainya sejak masih kuliah dan sampai sekarang masih belum bisa melupakannya."
"Meski begitu, saya tetap diam karena ingin tetap mempertahankan rumah tangga saya apapun yang terjadi. Pernikahan bagi saya adalah suatu hal yang sakral hanya bisa diakhiri oleh maut. Sekalipun ada wanita lain dalam pernikahan kami, saya akan tetap bertahan."
"Tapi, akhir-akhir ini semua semakin buruk. Mas Amar hampir tak pernah pulang ke rumah. Karena tidak mungkin untuk bertanya padanya, saya menyewa seorang detektif. Hasilnya, Mas Amar sering mengajak Ibu Rianti pergi bersama. Beberapa kali mereka menginap bersama di hotel atau apartemen Mas Amar."
Reonal mengusap kasar wajahnya. Ia tak habis pikir semua itu bisa terjadi.
"Pak Reonal, tolong bantu saya. Mari kita pertahankan keluarga kita masing-masing."
"Saya tidak bisa meminta suami saya untuk meninggalkan Ibu Riyanti. Tapi, mungkin Pak Reonal bisa membujuk istri Anda untuk meninggalkan suami saya. Kalian sudah lebih lama menikah dari kami dan pastinya pernikahan kalian dilandasi oleh cinta. Apalagi kalian sudah memiliki anak. Pasti Ibu Rianti mau untuk mempertimbangkannya. Saya yakin, asalkan ibu Rianti mau meninggalkan suami saya, Mas Amar pasti akan menyerah."
Maya bersimpuh di hadapan Reonal dengan air mata yang berderai, "Tolong bantu saya, Pak. Biarkan suami saya pulang... saya sedang hamil... tolong katakan pada istri Anda... huhuhu.... "
"Ibu Maya jangan seperti ini. Saya juga tidak tahu harus berbuat apa."
"Tolong saya... huhuhu.... "
Reonal membantu Maya berdiri. Dipeluknya Maya untuk menguatkan. Padahal hatinya sendiri juga sedang bergemuruh. Entah ia bisa memaafkan Rianti atau tidak.
"Papa.... " terdengar suara anak kecil dari arah belakang.
Reonal langsung melepaskan pelukannya.
Anak lelaki berusia sepuluh tahun itu menatap penuh tanya pada sosok wanita yang ada bersama ayahnya. Wanita itu tampak masih menangis.
__ADS_1
"Ini Tante Maya, teman Papa."
"Oh, aku kira Mama. Mama belum pulang ya?"
"Mama pulangnya besok. Kamu tidak tidur?"
"Aku mau ambil minum. Setelah itu baru tidur."
"Papa mau antar Tante Maya pulang dulu, ya. Kamu baik-baik di rumah. Beneran langsung tidur loh ya."
"Em, oke." Arga berbelok ke arah dapur mengambil minum.
"Saya pulang sendiri saja, tidak perlu diantar."
"Tidak apa-apa. Kondisi Anda sedang tidak baik. Saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Ayo, saya antar."
Flash back off
"Arga, selama ini kamu pasti sudah salah paham. Malam ini akan Papa ceritakan semuanya dan kamu harus mendengarkan sampai selesai."
"Papa memang menikahi Mama Maya saat sedang hamil. Benar, Ayash bukan anak kandung Papa, tapi anak Amar Prayoga. Maaf Ayash, selama ini kami menutupinya darimu."
Ayash menghela nafas. Ia bahkan baru mendengar ada nama Amar Prayoga. Prita tiba-tiba menggenggam tanganny, tersenyum ke arahnya, mengisyaratkan agar ia tetap kuat.
"Aku menikahi Maya bukan karena kami berselingkuh, atau karena Maya merayuku. Aku menikahinya karena merasa bersalah atas apa yang telah Rianti, Mamamu lakukan kepada keluarga Ayash. Mamamu dan ayahnya Ayash berselingkuh di belakang kami."
"Hah! Tega sekali Papa menjelek-jelekkan Mama yang sudah meninggal."
"Kamu sendiri yang perlu tahu kebenarannya. Kalau kamu bisa menerima kondisi keluarga kita saat ini, Papa juga tidak akan mengingat-ingat hal buruk di masa lalu."
"Aku ke kamar dulu."
Maya yang sepertinya tak akan kuat mendengar, memutuskan untuk meninggalkan ruang makan. Prita ikut pergi mengikuti Maya.
"Kalau kamu tidak percaya omongan papa, baca sendiri buku diari mamamu. Masih papa simpan di lemari ruang kerja bersama foto-foto kebersamaan mamamu dan ayah Ayash. Mereka berdua saling mencintai, tidak ada yang bisa kami lakukan. Meskipun aku sudah menasihati mamamu untuk meninggalkan papanya Ayash, mereka masih sering diam-diam bertemu. Mereka akhirnya mengakui secara terang-terangan di depan kami bahwa mereka ingin hidup bersama. Mereka kabur ke luar kota meninggalkan kami. Tak berselang lama, datang kabar bahwa mereka mengalami kecelakaan."
"Silakan kamu cari tahu sendiri jika masih tidak percaya. Jangan menyimpulkan sesuatu yang benar-benar belum kamu tahu. Sikapmu selama ini sangat buruk pada Maya dan Ayash."
"PT Prayoga Jaya yang ingin aku berikan kepada Ayash adalah milik ayahnya. Dulu, papa hanya seorang GM di sana CEO dan owner-nya Amar Prayoga."
__ADS_1
"Papa bekerja keras membangun bisnis-bisnis baru juga untukmu. Setidaknya aku ingin kalian berdua sama-sama bisa memegang perusahaan. Perusahaanku banyak, ingin aku wariskan kepada kalian berdua. Tapi, Maya menolak. Dia bilang semua kerja kerasku sudah seharusnya menjadi milik Arga. Sedangkan Ayash, katanya cukup diberikan perusahaan ayahnya saja yang dulu sempat colaps. Itulah mengapa sejak awal aku ingin berikan PT Prayoga Jaya pada Ayash. Kamu seharusnya tak perlu iri, Arga. Bahkan, tanpa papa berikan perusahaan, sebenarnya kamu bisa membangunnya sendiri. Papa tahu kamu sangat kompeten."
Reonal bangkit dari tempat duduknya. Tersisa Ayash dan Arga yang sama-sama duduk membisu di ruang makan.