ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Saranghae Tanpa Prita


__ADS_3

Ayash termenung di ruang kerjanya sembari memandangi sweater hitam milik Prita. Sweater itu terus ia bawa kemana-mana setelah ia temukan di mansion milik Bayu.


Rasanya sangat menyakitkan, mengingat ia bisa melihat Prita namun tak bisa menyelamatkannya. Dadanya sesak seakan ingin menghancurkan apa yang ada di hadapannya saat ini.


Tok tok tok


Ayash segera menyembunyikan sweater itu ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia berbupa-pura membaca berkas.


"Masuk." perintahnya.


Tampak Egi masuk ruangan membawa sebuah map dan diletakkan di meja Ayash.


"Ini data tim yang akan melakukan survey proyek kita di Kota J."


"Apa ini data-data karyawan kita yang terbaik dan kompeten?"


"Iya, Pak."


Ayash langsung membuka map yang diberikan Egi. Ia meneliti secara seksama data-data anak buahnya yang akan ia kirim ke Kota J. Proyek pertamanya harus ditangani oleh orang yang benar-benar kompeten di bidangnya. Jika ia berhasil menyelesaikan proyek kali ini dengan baik, papanya akan menyerahkan perusahaan seutuhnya padanya.


"Apa Bapak tidak berniat untuk ikut serta dengan tim kita ke Kota J? Kehadiran Bapak mungkin akan menambah semangat karyawan kita untuk bekerja.⁰" ujar Egi.


Ia seakan tahu, bosnya itu saat ini pasti sedang resah. Ayash dihadapkan dengan pilihan untuk fokus pada perusahaan atau fokus mencari kekasihnya. Ayash tak akan bisa fokus bekerja sebelum kekasihnya itu ketemu. Kinerja terbagus Ayash, saat Prita ada di sisinya. Setelah Prita hilang, Ayash benar-benar berubah. Kinerjanya menurun.


"Jika Bapak ingin ikut dengan tim yang sudah terpilih, saya bersedia menggantikan Bapak mengurus perusahaan di sini." usul Egi.


Ayash menutup map, menatap Egi yang duduk di hadapannya. "Kalau ayahku sampai tahu, dia bisa memarahimu, Gi. Kamu di sini tugasnya mengawasiku bekerja. Seharusnya kamu laporkan saja aku yang tidak becus bekerja."


"Anda ke Kota J juga dalam rangka melakukan pekerjaan, Pak. Itu artinya Anda tetap bekerja. Saya sangat percaya dengan kemampuan Anda. Karena itu, selama ini saya selalu membela Anda."


"Apa ayahku sudah mendengar kabar kalau aku memakai para pengawalnya?"


"Belum, Pak."


"Jangan sampai ayahku tahu."


"Saya bisa atur."


Tok tok tok


"Masuk!" perintah Ayash.


Tampak Irgi dan Raeka masuk ruangannya.

__ADS_1


"Egi, kamu boleh kembali ke ruanganmu dulu."


"Baik, Pak." Egi segera keluar ruangan memberi privasi kepada bosnya untuk berbicara dengan temannya.


"Duduklah." Ayash mengarahkan Irgi dan Raeka duduk di sofa.


"Kamu sudah pulang lagi, Ir?"


"Ya, aku rasa akan mulai membuka bisnis di sini saja."


"Bagaimana dengan kuliahmu?"


"Bisa dilakukan secara PJJ. Aku sudah tidak betah di sana mengingat aku punya pacar di sini."


Raeka tersenyum mendengar alasan Irgi kembali ke tanah air.


"Aku juga tidak tenang karena Prita belum ditemukan. Apa kamu ada petunjuk lain?"


"Sayang... aku sudah menyuruh orang memata-matai orang yang bernama Bayu. Dia ternyata sangat berbahaya. Katanya dia pengedar narkoba juga."


"Iya, sayang... kami juga sudah tau hal itu."


Raeka manyun karena informasinya seakan tidak berguna. Padahal, menurutnya itu adalah berita besar yang mencengangkan.


"Apa!? Gila itu om-om... dia membawa Prita ke sarangnya. Kita bakal makin sulit mencari."


"Besok aku akan berangkat ke Kota J. Aku mau meninjau lokasi proyek dekat sana. Sekalian aku akan mencari Prita."


"Kamu harus hati-hati. Mereka bukan orang sembarangan."


"Iya, aku tahu."


*****


Siang itu suasana kafe Saranghae masih cukup ramai seperti hari-hari sebelumnya. Walaupun tak seramai saat awal-awal buka, namun sudah cukup lumayan untuk sekelas kafe baru. Apalagi pemiliknya sudah hampir sebulan tak datang.


"Brisia... Prita lama banget nggak datang ke kafe." tanya salah seorang pelanggan kafe kepada Brisia.


Brisia memang sementara waktu menggantikan Prita mengurus kafenya. Rasanya ia hampir kati kebosanan karena setiap hari ada yang menanyakan keberadaan Prita. Tentu saja rata-rata yang bertanya adalah pelanggan pria.


Prita memang populer di kafenya sendiri. Banyak mahasiswa yang mampir ke kafenya karena ingin bertemu Prita. Walaupun pelayan di sana bisa dikatakan cantik-cantik, namun tetap Prita menjadi idola mereka.


Brisia menghela nafas, "Minggu lalu sudah aku katakan, Prita sedang ada urusan di luar negeri."

__ADS_1


"Ke luar negeri kok lama banget. Kayak orang minggat saja. Hahaha.... " celetuk pria lain yang satu meja dengan pria yang tadi bertanya.


"Kalian ke sini sebenarnya mau pesan makanan apa mau ketemu Prita?"


"Ya kalau bisa dua-duanya lah!" celetuk pria yang lain.


"Brisia, boleh minta nomor ponsel Prita?"


"Tuh, ada di sana." Brisia menunjuk ke arah poster layanan antar kafe. Di sana tertera nomor telepon kafe.


"Yah... bukan nomor telepon kafe. Tapi nomor pribadinya." ucap pria itu kecewa.


"Memangnya buat apa mau minta nomor ponsel segala."


"Mau tanya langsung, kenapa nggak pernah ke kafe lagi. Kita semua kan kangen.... "


"Haish... dia sudah punya pacar."


"Baru pacar, kan? Belum suami... selama janur kuning belum melengkung, masih bisa aku tikung."


"Hahaha... bisa aja kamu, Fal!"


"Aku juga mau usaha nikung Prita."


"Hu... Prita nggak bakal mau sama kamu, Yon!"


"Kalian ini, kuliah belum lulus sudah mikir cewek. Prita lebih tua dari kalian, lho."


"Umur kan hanya angka saja. Paling selisih berapa tahun sih sama kita. Lagipula, Prita masih kelihatan imut banget masih pantes jadi anak SMA."


"Betul, betul... aku setuju. Waktu dulu dia pakai seragam pelayan kafe saat hari pembukaan, dia imut banget, sumpah! Sejak itu aku sudah nge-fans sama dia."


"Ah, sudah-sudah! Kalian mau pesan apa?" potong Brisia. Ia tak ingin lebih panjang lagi meladeni percakapan trio itu.


"Oke, oke... kita pesan tiga ramyeon, dua moctail lemon, satu es cappuccino, dan satu porsi odeng."


"Sip! Tunggu sebentar ya.... " Brisia beranjak dari meja trio itu dan memberikan catatan pesananan ke karyawan bagian dapur.


Brisia duduk di bangku yang ada di salah satu sudut kafe. Sebenarnya, tugasnya di sana hanya mengawasi para karyawan, apakah pekerjaan mereka sudah baik atau belum. Tapi, sesekali ia turun tangan sendiri melayani pelanggan.


Sementara, ruang kerja Prita saat ini diisi oleh Yogi, yang mengurus masalah keuangan kafe. Ayash menyerahkan pengelolaan kafe kepada Brisia dan Yogi agar kafe impian Prita tetap berjalan.


Ayash berani memberikan gaji lebih kepada mereka berdua agar mau melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Ayash yakin, suatu saat Prita akan kembali. Dan saat ia kembali, kafenya masih baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2