ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Hari Pernikahan


__ADS_3

Prita menatap pantulan dirinya di kaca. Hari ini dia tampil sangat cantik memakai baju pengantin putih yang dipilihkan Mama Maya untuknya. Di tangannya ada buket bunga berwarna senada dengan gaun.


Rasanya masih seperti mimpi memakai gaun pengantin di hari pernikahan. Sebentar lagi ia akan resmi menjadi istri seorang Ayash Hartadi, lelaki yang sejak dulu ia cintai.


Prita mengelus perutnya yang masih rata. Ia meminta janinnya agar bisa tenang selama prosesi pernikahan. Matanya kembali sendu mengingat orang yang akan ia nikahi bukanlah ayah dari calon bayinya. Apakah egois jika nanti ia merahasiakan ayah kandung dari anaknya. Ayash pasti akan menjadi seorang ayah yang sempurna bagi calon bayinya.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu ruangan diketuk. Muncul Irgi dari balik pintu dengan senyuman yang mengembang. Prita berjalan menghampiri dan langsung memeluknya.


Air matanya meleleh. Meskipun sering bertemu dengan Irgi, namun pertemuan di hari pernikahannya tetap membuatnya merasa terharu. Irgi sahabat terbaiknya yang serasa kakaknya sendiri. Tempat berkeluh kesah dan bergantung saat ia ada masalah.


"Hari ini kamu cantik sekali, Ta. Ini bedaknya waterproof, kan?"


Perasaan haru yang Prita rasakan berubah menjadi tawa mendengar lawakan Irgi. Ia mengusap air matanya dengan tisu secara hati-hati.


"Dimana Raeka?"


"Aku tinggal di luar bersama mama papa."


"Oh, Om dan Tante sudah datang, ya."


Irgi mengangguk. Orang tua Irgi sengaja pulang ke Indonesia untuk mendampingi Prita di pernikahan.


"Ta.... " Irgi menyerahkan sebuah kotak dengan warna hijau tosca bertuliskan tiffan* & co.


Prita menerimanya. Kotak itu berisi sebuah kalung berlian berbentuk snowflake yang sangat berkilau.


"Simpan ya, Ta. Siapa tahu suatu saat bisa berguna."


"Terima kasih ya, Ir." Prita kembali memeluk Irgi.


"Ekhm!"


Raeka berdehem melihat Irgi dan Prita sedang berpelukan. Mereka segera melepaskan pelukannya setelah melihat kehadiran Raeka bersama kedua orang tua Irgi.


"Hai, Raeka." Prita menyunggingkan senyum kepada wanita yang selalu punya rasa cemburu padanya.


"Selamat ya, Ta." Raeka memeluk Prita.


"Terima kasih."


"Tante, Om.... "


Prita mencium tangan kedua orang tua Irgi kemudian memeluk mereka. Sudah lima tahun orang tua Irgi pindah ke Singapura untuk berbisnis. Selama itu pula Prita tak bertemu mereka.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali, sayang. Rasanya baru kemarin melihatmu dan Irgi lulus SMP. Hari ini, kamu sudah akan menikah."


Mata Ibu Dela berkaca-kaca melihat Prita kini telah tumbuh dewasa. Masih ia ingat jelas masa-masa Prita dan Irgi yang sering menghabiskan waktu bermain di rumahnya. Ia bahkan pernah berharap Prita akan menjadi menantunya. Tapi ternyata masing-masing dari mereka memiliki tambatan hatinya sendiri.


"Om, Tante, terima kasih sudah mau datang dan menjadi wakil keluarga saya."


"Kamu memang bukan orang lain bagi kami, Prita. Jangan bicara seperti itu. Kita memang keluarga." sahut Pak Bakri.


"Nanti mau didampingi aku atau papaku, Ta?" celetuk Irgi.


Raeka langsung manyun. Prita hanya tersenyum. Irgi memang selalu suka membuat gara-gara di antara dia dan Raeka.


"Tentu saja Om Bakri." Prita memegang lengan Pak Bakri dengan manja layaknya tingkah anak perempuan pada ayahnya.


Irgi walaupun suka bicara asal tapi bisa mencairkan suasana. Orang kadang bisa tertawa dengan candaannya yang garing.


"Kalau begitu, kami keluar dulu ya, Sayang." pamit Ibu Dela seraya mengajak Pak Bakri keluar ruangan.


"Kamu temani papa mama ya, sayang." bisik Irgi. Raeka mengangguk. Ia mengikuti kedua orang tua Irgi keluar.


"Kamu nggak ikut keluar menemani mereka?" Sebenarnya Prita khawatir Raeka akan marah.


"Sebentar. Aku ada kejutan untukmu."


Irgi mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Apa, sih?" Prita penasaran dengan kejutan yang akan Irgi berikan. Padahal, hadiah dari Irgi juga sudah membuatnya terkejut.


"Nanti juga kamu tahu."


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka. Prita melihat Ayash masuk ke ruangannya mengenakan setelan jas putih yang senada dengan gaun miliknya. Ia terlihat sangat tampan. Prita ternganga melihat orang yang berjalan di belakang Ayash. Rasanya seperti ada ledakan kebahagiaan di hatinya.


"Andin! Vino!" pekiknya.


Prita langsung berlari memeluk Andin dan Vino sampai mengabaikan Ayash yang baru saja ia kagumi ketampanannya. Prita bagaikan anak kecil yang begitu bahagia saat bisa bertemu sahabatnya.


"Uhhh... Aku tidak menyangka kalian akan datang. Aku kangen kalian."


"Mana mungkin kami tidak datang saat kedua sahabat kami akan menikah. Kamu cantik banget, Ta." ucap Andin.


"Terima kasih. Kamu semakin feminim sekarang, ya. Apa karena pengaruh fashion di Perancis?" Prita melihat perubahan Andin yang dulu agak tomboy sekarang penampilannya sangat anggun.


"Jangan percaya tampilan luarnya, Ta. Dia masih bar-bar seperti dulu." Sahut Vino.

__ADS_1


Bugh!


Andin melayangkan satu tinju ke punggung Vino.


"Tuh kan, bar-bar dia."


"Vino juga masih menyebalkan seperti dulu, Ta. Dan juga masih playboy seperti dulu."


"Heh! Jangan menyebar fitnah ya. Aku sudah tobat."


"Tobat darimana, Vin. Aku lihat postinganmu bareng cewek-cewek bule terus. Betah ya, di Amerika." sahut Irgi.


"Diam kamu cowok sok ganteng tapi nggak laku!"


"Laku, memangnya dagangan? Aku pilih-pilih kali kalau cari pasangan. Beda sama kamu, asal cantik aja main sikat."


"Ya gimana lagi, Ir. Jadi orang ganteng itu sulit, banyak yang suka."


"Eh, ngomong-ngomong Raeka apa kabar?" tanya Andin.


"Baik." jawab Irgi.


"Irgi dan Raeka sudah balikan lagi, lho." ucap Prita.


"Wah, belum move on juga kamu Ir. Emangnya kamu nggak laku ya, dari dulu stuck melulu sama Raeka."


"Iya tuh, cewek cantik doang nggak bisa apa-apa kok kamu tungguin terus, Ir. Mending sama aku aja Ir, sekarang bisa desain baju. Hahaha.... " goda Andin.


"Nggak mau, Ndin. Kalau sama kamu, pas lagi bertengkar, kamu pasti ngajak adu tinju. Serem aku sama wanita berjiwa pria. Hahaha."


"Kalian asyik banget ngobrol sampai pengantinku juga lupa sama calon suaminya." Ayash protes karena Prita terlihat antusias dengan sahabatnya sementara ia merasa diabaikan.


Prita menggandeng lengan Ayash, merasa tidak enak sampai Ayash merasa diabaikan.


"Halah, sok melow! Biarin lah Prita sama kita. Lagian nanti malam juga kamu monopoli sendiri di kamar." Andin menarik Prita ke sebelahnya.


"Ini pertama kalinya kita kumpul bareng lagi ya, setelah 5 tahun?" kata Irgi.


"Benar, rasanya baru kemarin kita main bareng di taman hiburan. Kenapa kalian cepat banget sih mau nikah? Nggak mau nikmatin masa muda dulu?"


"Kan bisa nikah sambil menikmati masa muda, Vin." jawab Ayash.


"Eh, kita foto berlima yuk, buat kenang-kenangan."


Irgi mengatur kamera yang telah terpasang pada tripod. Setelah setingan selesai, ia bergabung bersama teman-temannya. Mereka berlima berfoto dengan gaya yang berbeda-beda. Ada tawa yang terselip di sesi foto mereka.

__ADS_1


Prita merasa sangat bahagia hari ini. Ada banyak orang yang menyayanginya hadir di hari spesialnya. Meskipun tak ada keluarga, ia merasa merekalah keluarganya. Orang-orang yang selalu ada dalam hidupnya, orang-orang yanng selalu membuatnya bisa tertawa.


__ADS_2