
"Sayang.... " sapa Raeka yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu private lift apartemen Irgi.
Irgi tersenyum. Ia langsung menghampiri Raeka dan memeluknya. "Kenapa tidak bilang mau datang? Aku bisa menjemputmu."
"Kebetulan aku bertemu teman di dekat sini. Jadi, sekalian aku mampir."
Irgi mengajak Raeka duduk di sofa ruang tv.
"Tadi ngomong di telepon sama siapa?" Tanya Raeka ingin tahu.
Sebenarnya ia sudah berdiri sejak lama di ambang pintu. Tapi, saat melihat Irgi sedang sibuk bertelepon, ia hanya diam di tempat. Apalagi ketika mendengar nama Prita disebut, tiba-tiba muncul rasa kesal di hatinya. Irgi masih saja begitu peduli pada Prita.
"Oh, kamu dengar, ya? Aku menelepon Ayash." Irgi menjawab dengan santai pertanyaan Raeka.
"Ah, orang songong itu.... " lirih Raeka. "Bagaimana, apa Prita sudah ketemu?"
"Belum."
"Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja? Biar mereka juga bantu mencari."
Irgi mengusap puncak kepala Raeka, "Kamu nggak pernah nonton film, ya? Biasanya polisi kan datangnya selalu telat."
"Kamu pasti khawatir banget ya, dengan Prita?"
Irgi menoleh, menatap mata bening kekasihnya. Sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraannya.
"Kalau... aku yang hilang, apa kamu juga akan sangat khawatir dan mencariku?"
Irgi tersenyum. Ia menarik Raeka ke dalam pelukannya. "Ya, tentu saja."
"Terkadang, aku merasa berat menjalani hubungan kita. Aku masih saja belum bisa menerima jika kamu masih memikirkannya."
Raeka melepas pelukannya. Ia memegang erat kedua tangan Irgi seraya menatap matanya dalam-dalam. "Irgi... Prita sudah punya Ayash yang bisa menjaga dan melindunginya."
Irgi melepas tangan Raeka. Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya, dan mulai menghisapnya. Raeka hanya bisa menghela nafas dengan respon Irgi.
"Kalau Ayash becus menjaga Prita, semua ini juga tidak akan terjadi." Irgi terus menghisap rokoknya, mengabaikan keberadaan Raeka.
"Kamu mungkin tidak sadar, kepedulianmu pada Prita mungkin telah melukai Ayash. Mana ada cowok yang suka kalau ada cowok lain yang lebih perhatian dengan pacarnya?"
"Hah! Isu lama seperti ini kenapa terus diungkit-ungkit?"
__ADS_1
"Karena perlakuanmu pada Prita memang tidak wajar. Apa kamu juga tidak peduli pada perasaanku?"
"Jadi, apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya kalau Prita hanya temanku?"
Raeka menunduk, "Jangan perlakukan dia sama sepertiku. Aku ingin lebih diperhatikan daripada dia."
Irgi terdiam. Ditekannya puntung rokok yang sedari tadi ia hisap pada asbak. Ia tekan kuat-kuat hingga bara apinya mati.
Irgi menyunggingkan senyum, "Apa caraku memperlakukanmu dan Prita benar-benar sama? Apa kamu benar-benar tidak bisa melihat perbedaanya?"
Irgi melayangkan tatapan tajam kepada Raeka. Mata Raeka terlihat berkaca-kaca. Sepertinya Irgi sedang marah padanya.
"Memang seperti itu yang aku rasakan." Raeka masih berusaha menjawab.
Urat-urat wajah Irgi mengencang. Sangat jelas saat ini ia sedang menahan emosinya. Dengan cepat ia menyambar bibir Raeka dan ********** dengan kasar.
Raeka sama sekali tidak bisa mengelak. Irgi terus ******* bibirnya dengan perasaan marah. Ciuman agresif itu justru membuatnya ketakutan. Tidak ada sama sekali kelembutan.
"Hiks... hiks... hiks.... " Raeka menangis sesenggukan.
Irgi berdiri. Ia lepaskan satu persatu kancing kemejanya kemudian melemparkannya begitu saja ke lantai. Raeka menunduk malu tak berani melihat Irgi bertelanjang dada.
Tak sampai di situ, Irgi mulai membuka celananya di depan Raeka. Lelaki itu benar-benar sudah gila. Raeka reflek menutup matanya.
"Kamu jangan gila!" teriaknya.
Irgi membuka paksa kedua tangan Raeka yang menutupi mata. Raeka kembali tertunduk. Irgi benar-benar telanjang di depannya.
"Kamu ingin perlakuan berbeda, kan? Prita tidak pernah melihatku seperti ini tapi aku perlihatkan padamu. Kamu harus melihatnya."
Raeka menggeleng, "Sudah cukup. Maafkan aku." Dia mengaku salah.
"Ini belum cukup. Aku harus menunjukkan banyak hal supaya di lain waktu kamu tidak lagi bertanya."
Irgi menarik dress yang Raeka kenakan. Raeka menahannya.
"Irgi! Ini sudah keterlaluan!"
__ADS_1
Namun Irgi tak menggubris ucapan Raeka. Dia menurunkan resleting dress dan menariknya. Belum puas sampai di sana, pakaian dalam Raeka ikut ia lepakan.
Setelah keduanya polos, Irgi membawa Raeka ke arah kamar. Raeka menutup matanya. Ia bahkan tidak berani melihat dirinya sendiri. Irgi sudah seperti orang kesetanan.
Pyar!
Irgi menceburkan Raeka ke dalam jacuzzi kamar mandinya. Ia kemudian menyusul masuk. Raeka menutupi bagian tubuhnya yang paling private.
"Kenapa? Mau aku tunjukan lagi hal yang tidak aku lakukan pada Prita?"
Raeka langsung menggeleng.
"Ah.... nyaman sekali airnya." Irgi menyandarkan punggungnya pada tepi bak.
Raeka masih terdiam. Ia masih tidak menyangka Irgi bisa segila itu. Tapi, ia juga tidak memungkiri kalau semua itu memang salahnya. Selalu membawa-bawa Prita dalam hubungan mereka.
Air hangat dalam bak membuat tubuh lebih rileks. Perasaan mereka lebih tenang. Kekesalan Irgi juga tampaknya telah mereda.
"Aku tidak pernah berpacaran dengan Prita. Aku tidak pernah berciuman dengan Prita. Aku tidak pernah melihat Prita telanjang. Aku tidak pernah mandi Berdua dengan Prita. Tapi, aku pernah melakukan semuanya denganmu, Raeka."
Raeka menunduk, "Maafkan aku."
"Hal yang pernah aku lakukan untuk Prita tidak ada apa-apanya dengan yang pernah ia dan keluarganya lakukan untuk keluargaku. Aku lelah menjelaskan bagaimana pentingnya Prita dalam hidupku dan aku sangat menghormatinya. Sebatas itu saja."
"Aku juga sudah berusaha untuk tidak tertalu mengkhawatirkannya setelah Ayash menjadi pacarnya."
"Yah, walaupun cowok itu tidak peka dan payah, tapi dia cowok terbaik yang pernah aku kenal. Aku yakin dia bisa membuat Prita bahagia."
"Tapi, akhir-akhir ini Prita terus saja ditimpa masalah. Tentu saja aku tidak bisa diam saja melihatnya seperti itu."
"Prita bukan tipe orang yang mau dikasihani. Sesulit apapun, ia tidak mau terlihat lemah di mata orang lain. Dia juga tidak akan menerima bantuan orang lain begitu saja. Sulit sekali untuk membantunya. Aku dan Ayash selalu memikirkan bagaimana cara membantunya tanpa ia merasa dibantu. Itu sulit sekali. Kalau sampai dia tahu aku terang-terangan membantunya, aku rasa dia tidak akan lagi mau menganggapku teman."
"Aku kira kamu bisa lebih memahamiku daripada orang lain. Mencintaimu juga berat. Aku benar-benar tulus mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa mengabaikan Prita. Jika kamu menyuruhku untuk tidak peduli pada Prita, aku tidak bisa. Meskipun aku sangat menyayangimu."
"Ah! Aku rasa aku sudah cukup tenang. Aku akan keluar sekarang. Kamu bisa meneruskan berendam jika masih ingin menenangkan diri."
Irgi mengelus puncak kepala Raeka, "Maafkan aku, sudah kasar dan marah padamu." ucapnya seraya keluar dari jacuzzi.
Raeka menenggelamkan tubuhnya dalam air setelah Irgi pergi. Perasaannya lega. Irgi tak lagi marah. Mungkin ia akan kapok untuk membahas Prita di lain waktu.
"Dasar bodoh!" gumamnya.
__ADS_1