ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Konsolidasi Cinta


__ADS_3

"Sarapan dulu, Ta." ucap Irgi ketika melihat Prita keluar dari kamarnya bersama Ayash.


Ia sudah mempersiapkan nasi goreng dan segelas susu.


"Aku boleh ikut sarapan nggak?" sahut Ayash.


"Siapa dia, Ta? Kita usir saja apa?" Irgi sepertinya masih kesal dengan Ayash. "Aku cuma buat sarapan untuk kita berdua soalnya."


Prita tersenyum, "Kalau begitu, biar Ayash makan satu piring denganku saja."


"Ah, calon istriku memang pengertian." Ayash memuji.


"Bilangnya calon istri, tapi ditinggal." sindir Irgi. "Memangnya rumahku tempat penitipan calon istri orang apa?"


Prita dan Ayash duduk berdampingan. Di depan mereka, Irgi masih sibuk menata nasi goreng yang baru dimasaknya di atas piring.


"Lah, katanya cuma bikin dua porsi?" ujar Ayash ketika Irgi menyodorkan satu piring nasi goreng di hadapannya.


"Yakali aku begitu. Kasihan Prita kalau harus berbagi makan denganmu. Dia kan sekarang makan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk bayinya. Porsi juga harus lebih banyak."


"Kok malah kamu yang bersikap seperti calon suami Prita?"


"Ya kalau kamu nggak mau ngurusin Prita, aku yang bakal mengurus. Ayo dimakan, jangan ngomong terus!"


Prita senyum-senyum mendengar obrolan mereka. Pagi ini lebih berwarna dengan adu mulut mereka.


"Makasih ya, Ir."


"Sama-sama. Makan yang banyak, Ta. Biar kuat menghadapi Ayash."


"Ir... bagaimana dengan Raeka?"


Irgi berhenti menyuapkan makanannya, "Sudah aku bilang, Ta. Kamu nggak usah mikirin itu. Aku bisa menanganinya nanti."


"Irgi benar, Ta. Raeka itu kalau dikasih permen juga bakal ilang marahnya."


"Rencananya setelah ini kalian mau gimana?"


"Aku tetap akan menikahi Prita." Ayash berkata dengan mantap.


"Kamu yakin? Mungkin kedepannya akan semakin rumit, lho." Irgi mencoba memastikan.


"Aku sudah memikirkan semuanya. Dan aku siap dengan semua resikonya."


"Kalau sampai Bayu tahu Prita mengangandung anaknya, dia pasti tidak akan melepaskan Prita."


Prita memandang ke arah Ayash. Sekarang ia jadi takut.


Ayash menggenggam tangan Prita, "Kamu tak perlu khawatir. Kali ini, aku akan benar-benar menjagamu."


"Akan lebih baik kalau tidak ada lagi yang tahu tentang kehamilan Prita selain kita. Bagaimana kalau sementara kalian tinggal dulu di luar negeri sampai Prita melahirkan? Orang juga pasti akan percaya kalau itu anak kalian."


"Akan aku pikirkan lagi, Ir."


"Kamu yakin, benar-benar bisa menerima anak yang akan Prita lahirkan nanti?"

__ADS_1


"Irgi!" Prita memberi isyarat agar Irgi berhenti bertanya.


"Aku hanya ingin memastikan, Ta. Kalau Ayash keberatan dengan keberadaan anak itu nanti, biar aku yang mengurusnya. Kalian bisa menjalani kehidupan kalian berdua dan biarkan anak itu nanti hidup bersamaku."


"Kamu tenang saja, Ir. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuknya nanti."


*****


Irgi berada di lapangan panahan milik FAST Archery Club. Ponsel Raeka tidak bisa dihubungi. Ketika ia datang ke apartemennya, Raeka tak ada. Salah seorang pelayan mengatakan kalau sore ini Raeka latihan memanah bersama temannya.


Ia baru tahu kalau Raeka suka memanah. Raeka tak pernah cerita apapun tentang kegiatannya selain tentang belanja dan jalan-jalan. Meskipun sudah lulus kuliah jurusan Manajemen Keuangan, namun sepertinya Raeka tak tertarik meneruskan bisnis orang tuanya.


Sejak kecil, Raeka sudah terbiasa hidup mewah dan berkecukupan. Ia tak perlu melakukan apapun, semua kebutuhan sudah terpenuhi. Sampai sekarangpun, kebiasaan itu masih terbawa. Ia tak mau mencoba bekerja dan hanya melakukan hal-hal yang ia sukai saja seperti belanja dan jalan-jalan.


Raeka memiliki tiga orang kakak laki-laki. Dia anak bungsu dan perempuan sendiri. Makanya, kedua orang tuanya sangat memanjakannya. Apapun yang Raeka inginkan, selalu diusahakan untuk dipenuhi. Bahkan, Irgi sama sekali tak mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan Raeka. Orang tua Raeka setuju-setuju saja dengan hubungan mereka.


Irgi terus mengamati sekeliling, mencari Raeka di antara belasan orang yang masih fokus pada busur dan anak panahnya. Tak sulit mencari Raeka. Penampilan paling stylist dan kecantikan paripurna bak Dewi Yunani membuat Irgi langsung mengenalinya.



Siapa sangka Raeka tetap terlihat mempesona saat memegang busur dan anak panahnya. Peluh yang mengalir membasahi pipinya membuatnya semakin seksi.


Raeka tetap fokus mengarahkan anak panahnya ke sasaran. Ia mendengarkan setiap instruksi yang pelatihnya berikan. Ketika pelatih memberi aba-aba untuk menembak, belasan anak panah melesat menuju target.


Tap tap tap


Ada anak panah yang tepat mengenai sasaran, ada pula yang meleset atau bahkan tak mengenai sama sekali.


Irgi memberanikan diri mendekati Raeka ketika prlatih menginstruksikan kepada mereka untuk istirahat.


"Ra.... "


"Ra.... "


Raeka mengarahkan anak panahnya kepada Irgi. Matanya memancarkan kemarahan seakan kali ini Irgi yang menjadi target sasarannya. String sudah ia tarik, cukup ia lepaskan dan anak panah pasti akan langsung menancap di dada Irgi.


"Raeka, hati-hati ya, itu bukan mainan." pelatih yang melihat Raeka mencoba mengingatkan.


"Baik, Coach."


Raeka menurunkan busurnya, menyimpan kembali anak panahnya pada quiver yang tergantung di punggungnya.


"Pergi kamu! Aku tidak mau lagi bertemu denganmu." Raeka berjalan melewati Irgi menuju tepian lapangan untuk beristirahat.



Belum sampai ke tepian lapangan, Irgi dengan cepat menyambar tangannya dan mengajaknya berlari. Mau tidak mau, ia harus mengimbangi kecepatan lari Irgi.


Sesampainya di luar area lapangan, mereka berhenti. Nafas mereka berdua terengah-engah.


"Aku mau kembali ke dalam. Latihanku belum selesai."


Raeka kembali ingin berjalan pergi, namun lagi-lagi tangannya Irgi tarik hingga ia terduduk di bangku taman.


"Lepaskan!"

__ADS_1


"Akan aku lepaskan setelah kita selesai bicara."


"Alasan apa lagi kali ini? Aku sudah muak dengan setiap pembelaanmu."


"Aku tidak memberi alasan, yang akan aku katakan adalah kenyataan."


"Ah, entahlah! Prita yang menghilang tiba-tiba ada di kamarmu. Apa justru kamu yang menyembunyikannya selama ini?"


"Tidak. Ayash yang menjemputnya dua minggu lalu di Kota J. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya Ayash."


"Semalam Ayash dan Prita bertengkar, jadi, Prita menginap di apartemenku. Biasa kan, menjelang pernikahan terkadang ada hal-hal yang membuat pasangan jadi bertengkar."


"Apa? Menikah!?" Raeka terkejut mendengar kabar pernikahan itu.


"Ya, mungkin kurang dari satu bulan mereka akan menikah."


"Aku masih tidak percaya. Kenapa mendadak sekali."


"Kata siapa mendadak? Mereka sudah lima tahun pacaran."


Ucapan Irgi ada benarnya juga. Raeka bisa menerima alasan itu.


"Tapi aku masih kesal! Kenapa Prita tidur di kamarmu dan tiba-tiba kamu keluar dari kamar mandi!" Raeka marah dengan gaya manjanya.


"Kamarku kan memang cuma satu. Tadi malam Prita tidur di kamar, aku tidur di sofa ruang tengah. Kamu bisa cek CCTV di apartemen kalau mau."


"Lagipula, kalau aku tidur dengan Prita, pasti wajahku sudah babak belur dihajar Ayash. Tadi pagi dia masuk apartemen pakai kartu akses yang kamu berikan, kan?"


"Ah, Ayash tidak marah atau salah paham melihat kalian berdua?"


"Tidak."


"Kenapa dia bisa percaya sekali padamu."


"Karena aku memang orang yang bisa dipercaya. Kecuali untukmu."


Raeka menunduk. Perasaannya melunak.


"Maaf untuk perbuatanku waktu itu. Aku terlalu malu untuk menemuimu."


"Sudah, jangan dibahas lagi."


"Kamu baik sekali tadi pagi datang membawakanku makanan dan berakhir salah paham. Lagi-lagi ini salahku. Aku minta maaf."


Irgi menggenggam tangan Raeka, "Ra, ayo kita baikan."


Wajah Raeka memerah.


"Kok diam? Masih marah?"


Raeka langsung memeluk Irgi dengan erat. "Siapa yang marah? Aku kangen banget sama kamu, tahu!"


"Aku selalu cemburu karena aku mencintaimu."


"Ah, ini baru Raeka. Aku kangen sekali ada wanita manja yang selalu merajuk seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2