ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Proyek Villa


__ADS_3

Ayash keluar dari kamar mandi masih mengenakan bathrobe. Disambarnya segelas coklat panas dari atas nakas. Ia membawanya menuju balkon hotel tempatnya menginap.


Langit tampak berkabut meski cuaca tak mendung. Pemandangan lumrah setiap pagi di pusat kota dan industri berpenduduk padat seperti Kota J. Jajaran gedung-gedung tinggi menjulang seakan berlomba menjadi yang terdekat dengan langit. Sementara di bawahnya lalu lalang kendaraan terus mengular tanpa henti.


Ayash menyeruput coklat panasnya. Kembali pandangannya mengarah entah kemana. Pikirannya tetap sama, masih memikirkan Prita.


Kota J memang kecil. Tapi, dari segi pertumbuhan ekonomi, Kota J adalah tempat yang sangat prospektif untuk membangun bisnis. Ayash tak tahu di sisi mana Prita berada saat ini. Mereka berada di kota yang sama namun tak bisa saling bertemu.


Semenjak Prita hilang, pikirannya kacau. Ia sama sekali tak bisa fokus bekerja. Ingin rasanya ia meninggalkan semua pekerjaannya untuk mencari Prita. Tapi, rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaan masih bisa memfungsikan akal sehatnya.


Prita wanita penting baginya. Pekerjaannya juga penting bagi dirinya dan ratusan karyawan yang bekerja di bawahnya. Banyak orang yang bergantung pada kelangsungan perusahaan. Ia tak boleh membiarkan perusahaannya hancur dah membuat semua karyawannya terlunta-lunta.


Kemarin sore, ia berangkat bersama sepuluh tim survey perusahaannya ke Kota J. Mereka ditempatkan pada hotel yang sama dengannya. Semalam ia menyuruh anak buahnya untuk beriatirahat karena pagi ini akan ada rapat sebelum kegiatan survey lokasi.


Ding dong...


Terdengar suara bel. Ayash masuk kembali ke dalam kamar. Ia meletakkan gelasnya kembali di atas nakas. Segera ia menghampiri pintu dan membukanya. Tampak Agus, salah satu timnya telah berdiri di depan pintu memakai pakaian kerja rapi.


"Maaf, Pak. Anda ditunggu rekan-rekan yang lain untuk sarapan bersama." tuturnya sopan.


"Ah, iya. Sepuluh menit lagi aku akan segera turun."


"Baik, Pak. Saya permisi."


Ayash kembali menutup pintu setelah Agus pergi. Ia bergegas mengenakan pakaian kerjanya.


Drrt... drrt... drrt...


"Halo." Ayash mengangkat telepon itu ketika baru selesai memakai kemeja. Itu telepon dari Egi yang berada di Kota S.


"Pak, 20 pengawal yang Anda minta sudah sampai di Kota J."


"Bagus. Sebar mereka di beberapa titik, terutama di sekitar perusahaan Bagaskara Corp dan anak perusahaannya."

__ADS_1


"Baik, Pak."


"Alihkan semua informasi langsung padaku. Selidiki setiap gerak-gerik Bayu padaku. Kamu fokus saja pada pekerjaannmu di sana."


"Baik, Pak."


"Kalau ada kesulitan apapun, ajak Irgi untuk membantumu di sana. Aku sedikit merasa bersalah melimpahkan tanggung jawabku padamu."


"Tidak apa-apa, Pak. Saya dengan senang hati membantu Anda. Jika Bapak merasa tidak enak hati, bisa berikan bonus tambahan di awal bulan untuk saya."


"Hahaha... itu pasti. Aku tidak akan lupa soal itu. Ya sudah, aku mau bersiap sarapan dengan para karyawan. Kamu lanjutkan bekerja."


"Baik, Pak."


Ayash mematikan sambungan telepon dan melanjutkan memakai celana kerjanya. Tampilannya disempurnakan dengan dasi yang terlilit di leher dan jas hitam. Tak lupa ia mengenakan jam tangan mahalnya untuk membuat penampilannya semakin terlihat berwibawa.


*****


"Tuan.... "


"Ada apa kamu kemari? Aku sedang sangat sibuk." Arga berucap tanpa melirik ke arah Glen. Ia tetap setia memperhatikan proposal yang ada di hadapannya.


"Tuan Ayash ada di kota ini."


Deg!


Ucapan Glen bagaikan sebuah pukulan telak yang melayang tepat ke jantungnya. Arga langsung menghentikan aktivitasnya. Tubuhnya menegang, sepertinya dia sangat marah.


Mengingat Tiger King menolak untuk menyingkirkan sementara adik tirinya itu, emosinya kembali naik. Kenapa sulit sekali baginya untuk mengasingkan anai ingusan itu. Beberapa kali ia menyuruh orang dan mereka selalu gagal menjalankan tugasnya.


Sebenarnya Arga cukup menyukai adik tirinya itu. Dia menyayanginya. Tapi setiap kali teringat bahwa Ayash adalah anak dari wanita yang sangat dibencinya, rasa bencinya kembali muncul. Apalagi mengingat Ayash akan merebut perusahaan pertama ayahnya, perusahaan kenangan saat ayah dan ibunya masih harmonis sebelum kehadiran wanita pelakor.


"Untuk apa anak wanita murahan itu ada di sini?"

__ADS_1


"Dia mendapatkan proyek pembangunan villa di Pulau G."


"Apa!? Bagaimana bisa anak ingusan sepertinya mendapatkan proyek besar itu? Pokoknya, gagalkan proyeknya! Jangan sampai dia berhasil menyelesaikan proyeknya! Lakukan apapun!"


Arga menepuk keningnya. Pekerjaan di meja sudah membuatnya pusing, kini berita tentang adiknya itu semakin membuatnya pusing. Ia benar-benar tak rela jika sampai ayahnya menyerahkan perusahaan itu kepada adiknya.


"Tidak bisa, Tuan. Client mereka menggandeng beberapa investor asing dan memakai jasa keamanan dari Tiger King untuk melancarkan proyek mereka. Bahkan, para penduduk yang bermukim di sekitarnya sudah berhasil diusir. Dukungan dari para pejabat tinggi juga membuat proyek ini tidak mungkin digagalkan oleh siapapun."


"Kurang ajar sekali Tiger King itu. Mereka menolak permintaanku tapi malah bekerja dalam proyek yang sama dengan adikku."


"Lebih baik kita diam untuk kali ini."


"Itu sama saja aku melepaskan perusahaan yang ingin aku pertahankan!"


"Tuan, Perusahaan Anda saat ini ada tiga. Bahkan Anda kewalahan mengurusinya saat ini. Untuk apa berambisi mendapatkan perusahaan kecil itu."


Brak!


Arga mendorong seluruh berkas-berkas di mejanya hingga berceceran di lantai. Lagi-lagi asistennya itu mengatakan hal yang paling ia benci. Sudah ia katakan, bukan tentang besar kecilnya perusahaan, tapi kenangan yang ada di dalamnya. Perusahaan kecil itu adalah asal mula kehidupan masa kecilnya yang bahagia. Tak mungkin ia memberikan kenangan itu kepada orang lain. Ia ingin mempertahankan kenangan itu tetap menjadi miliknya.


Mengapa tak ada orang yang mau mengerti. Bahkan, ayahnya tak mau memberikan perusahaan itu padanya. Memang, ia diberi tiga perusahaan yang sudah stabil sejak awal dan dia berhasil memperbesarnya. Tapi, ia tetap menginginkan perusahaan kecil itu.


"Maafkan saya, Tuan."


"Suruh orang untuk membereskan semua ini!" perintah Arga.


"Baik, Tuan."


"Malam ini aku akan datang ke club. Kamu siapkan beberapa wanita untuk menemaniku."


"Baik, Tuan."


Setelah mengatakan keinginannya, Arga pergi begitu saja dari ruang kerjanya. Glen menghela nafas. Gara-gara ucapannya, Arga meninggalkan pekerjaan di kantornya yang masih menumpuk. Sudah dipastikan bosnya itu langsung pulang karena terlalu kesal.

__ADS_1


Glen kini harus melaksanakan tugas tambahannya kembali, mencarikan wanita penghibur yang diinginkan bosnya. Padahal, sudah beberapa minggu ini Arga meninggalkan kebiasaan buruknya mabuk-mabukan dan main wanita. Karena sedang kesal, ia akan melakukan hal itu lagi.


__ADS_2