ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Sindrom Stockholm


__ADS_3

Sinar matahari mulai masuk melalui cela-cela tirai kamar mengusik ketenangan tidur Bayu. Ia mulai membuka mata dan menghimpun nyawanya ada sepenuhnya sadar. Di sampingnya ada Prita yang masih terlelap bagaikan putri.


Entah mengapa Bayu selalu bangun lebih awal daripada Prita. Biasanya, ia sudah langsung bersiap-siap pergi meninggalkan Prita yang masih tertidur. Pagi ini lain. Ia belum puas memandangi wanita yang masih tertidur tenang di sampingnya. Rasanya ia ingin menggodanya.


Ia tersenyum mengingat aktivitas mereka semalam. Prita pasti kelelahan mengikuti kemauannya bercumbu semalaman. Bahkan, kegiatan itu dilakukan tidak di satu tempat. Dari bathtube mereka berpindah ke sofa dan akhirnya kembali melakukannya di kamar tidur sebelum akhirnya keduanya sama-sama tertidur.


Memandangi wajah polos Prita membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur. Hari ini sudah ditentukan jadwal keberangkatannya ke luar kota. Rasanya malas sekali menuruti permintaan pria tua yang tak lain adalah ayahnya.


Dia masuk kembali ke dalam selimut. Dengan isengnya, ia menarik tangan prita dan mengarahkan pada juniornya. Ia tersenyum-senyum memperhatikan Prita yang tampak mulai gelisah namun matanya masih tetap terpejam.


Bayu semakin mengeratkan tangan Prita, membuatnya semakin terkekeh karena berhasil mengganggu ketenangan tidur Prita.


Prita yang merasakan sensasi benda asing di tangannya mulai menggeliat dan berusaha membuka mata agar terbangun dari tidurnya.


Saat matanya terbuka, ia melihat Bayu ada di sampingnya sedang memandanginya sambil tersenyum-senyum. Ia masih belum sadar sepenuhnya sampai akhirnya tangannya terasa menggenggam seperti benda panjang kenyal. Matanya langsung melotot ketika menyadari sesuatu.


"Ah!" pekiknya seraya langsung terduduk sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Hahaha.... " Bayu terus tertawa melihat tingkah Prita. Ia berhasil menjahili wanitanya.


Prita masih kaget karena bangun tidur sudah dikejutkan hal yang tidak-tidak.


"Sosis kanzler sayang, sarapan untukmu. Kamu mau memakannya sekarang?" goda Bayu.


Prita langsung menggelengkan kepala. Ia semakin merapatkan selimut pada tubuhnya.


"Yakin? Sepertinya semalam kamu sangat menyukainya. Aku bisa mendengarkan desahan sensualmu sepanjang malam." Bayu masih tersenyum-senyum menggoda Prita. Ia merapatkan tubuhnya mendekati Prita yang semakin meringkuk dalam selimutnya. "Sayang, satu kali lagi ya, sebagai sarapan.... " bisik Bayu sensual.


"No!" Prita langsung menyembunyikan dirinya dalam selimut.


Bayu semakin tertawa terbahak-bahak. Puas rasanya pagi-pagi membuat wanitanya terkejut dengan kelakuannya. "Aku cuma bercanda. Aku harus segera bersiap karena pagi ini aku harus pergi."

__ADS_1


"Aku masih pening karena terbangun paksa gara-gara kamu." protes Prita.


"Maafkan aku." Bayu membuka selimut yang menutupi kepala Prita. "Aku mandi dulu, ya. Kalau mau sarapan, sudah disiapkan pelayan di area minibar. Kalau masih ngantuk, kamu boleh melanjutkan tidur."


Cup


Setelah mengecup kening Prita, Bayu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


Sementara, Prita masih termenung di balik selimutnya. Ia merasa ada yang berbeda dalam dirinya yang ia sendiri tak tahu apa. Semalam, pertama kalinya ia merasakan kenikmatan sebuah hubungan intim. Bahkan, ia bisa mendapatkan pelepasannya beberapa kali saking antusiasnya.


Entahlah. Padahal semalam ia merasa tidak mabuk. Tapi ia bisa begitu bergairah dan menikmatinya tak seperti sebelum-sebelumnya. Biasanya yang ia rasakan hanya kesakitan yang malam ini sama sekali tak ia rasakan lagi. Ia justru mendapatkan kenikmatannya.


Seharusnya ia benci aktivitas semalam. Tapi yang terjadi, ia tak bisa memungkiri kalau ia menikmatinya. Bagaimana cara Bayu memberikan kenikmatan padanya masih terbayang di kepalanya.


Prita mulai berpikir, mungkinkah ia menderita Sindrom Stockholm? Ya, Sindrom Stockholm. Dimana seorang yang diculik bisa merasa jatuh cinta kepada penculiknya. Apakah mulai ada rasa cinta untuk Bayu di hatinya?


Prita merasa Bayu sebenarnya tak sejahat dan semengerikan yang ia bayangkan. Selama ini, dia diperlakukan dengan sangat Baik oleh Bayu. Meskipun sesekali ia menjadi kasar, tapi tak bisa menutupi kalau kebaikannya juga banyak. Ia bahkan bisa mengembalikan harta peninggalan orang tuanya yang telah dibawa kabur pamannya.


Prita menepuk-nepuk kepalanya. Bagaimana bisa ia punya pikiran jika Bayu orang baik... Jelas-jelas dia orang yang merenggut kesuciannya, menyekapnya, dan memisahkannya dari Ayash. Seharusnya ia sangat membencinya.


Prita menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya. Ia meraih bathrobe yang tergantung di sisi lemari. Hanya itu yang saat ini bisa ia kenakan untuk menutupi diri karena pakaiannya semalam entah terlempar di sebelah mana. Menginap di hotel juga tidak direncanakan. Tak satupun baju ganti yang sempat dibawa.


Ia berjalan ke luar kamar. Dilihatnya ruang tamu yang berantakan akibat aktivitas mereka semalam. Ternyata pakaiannya tercecer di sana. Prita kembali memukul-mukul kepalanya yang masih saja memunculkan ingatan-ingatan vulgar semalam.


Dia mengambil secangkir teh hangat yang sudah tersaji di minibar. Berharap dengan begitu pikirannya menjadi lebih terang. Di sana juga sudah ada sarapan pagi yang tersaji untuk porsi dua orang. Ada nasi goreng seafood, dimsum, potongan buah, dan jus.


"Kamu sudah bangun?"


Tampak Bayu berjalan menuju ke arahnya dalam kondisi rapi sudah mengenakan pakaian yang semalam ia kenakan.


Cup

__ADS_1


Bayu mencium pipi Prita sebelum duduk di sebelahnya. "Ayo, aku temani sarapan."


"Kamu pergi sekarang?" tanya Prita sembari menikmati dimsum di piringnya.


"Ya, jadwal penerbanganku jam 08.30. Ben sudah berkali-kali meneleponku." Bayu menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Boleh aku kembali ke apartemen saja?"


"Kenapa? Kamu tidak suka tempat ini?"


Prita menggeleng, "Aku tidak punya satupun pakaian di sini."


"Aku sudah menyuruh orang membawa barang-barangmu kemari. Sebentar lagi pasti datang."


"Oh, baiklah."


"Kalau butuh sesuatu, telepon saja pelayan hotel. Nomornya sudah tertempel di sana. Mereka akan menyediakan yang kamu butuhkan."


"Oke."


"Sepertinya kamu kurang semangat pagi ini? Apa karena akan aku tinggal beberapa hari? Kamu tidak mau aku tinggal?" goda Bayu.


Prita langsung membulatkan matanya, "Tidak... aku hanya masih merasa pusing karena bangun terlalu pagi." elaknya.


"Oh, ya?" Bayu mengusap surai Prita dengan lembut. Ditatapnya wanita yang terlihat lemas dan tak bersemangat itu. Mungkin memang dia benar-benar kelelahan dan Bayu dengan iseng mengganggunya.


"Tapi habiskan dulu sarapanmu. Setelah itu, kamu boleh melanjutkan tidur. Maafkan aku tidak bisa menemanimu sarapan sampai selesai. Aku harus berangkat sekarang. Baik-baik disini dan tunggu aku pulang. Aku akan secepatnya menyelesaikan urusanku dan kembali padamu."


Bayu memeluk Prita kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Prita sendiri.


Prita menghela nafas. Rasanya ia tak berselera makan. Padahal, badannya terasa lemas. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2