ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Jebakan Mario


__ADS_3

Prita berusaha mengerjapkan matanya yang tampak buram. Kepalanya masih pusing dan badannya sangat lemas tak bertenaga. Diedarkannya pandangan ke sekeliling, ruangan bercat cream itu seperti kamar hotel. Kasur yang ia tempati terasa sangat empuk dan nyaman.


Hal terakhir yang ia ingat, saat di balkon sedang berbincang dengan Mario. Kepalanya tiba-tiba pusing, tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga dan akhirnya pingsan.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Seorang lelaki keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Wajahnya tidak begitu jelas karena pandangan mata Prita masih samar. Lelaki itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Mario... " lirihnya.


Mario duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, "Kamu sudah bangun?"


"Ini dimana?"


"Di kamar hotel. Kamu sepertinya sangat lelah dan butuh istirahat." Mario mengusap pipi Prita dengan tatapan yang membuatnya tidak nyaman.


"Tolong ambilkan ponselku. Aku harus menghubungi Raya. Dia pasti sangat khawatir."


"Itu tidak perlu. Aku yang akan merawatmu di sini sampai sembuh."


Pandangan mata Mario seperti orang mesum. Tangannya menelusuri wajah Prita, membelai lembut lehernya dan hampir mengarah ke dadanya namun segera ia tepis sekuat tenaga.


"Jangan kurang ajar!" bentaknya.


"Hahaha... walaupun sudah meminum obat perangsang, kamu masih bisa menolak, ya. Mungkin masih perlu waktu setengah jam lagi dan kamu akan menerimaku."


Prita terhenyak mendengar perkataan Mario tentang obat perangsang.


'Apa katanya? Obat perangsang? Kapan dia memberikannya? Apa jangan-jangan dari minuman itu... Sebenarnya apa yang dia mau?' batinnya.


Mario kembali meraba-raba tubuhnya. Prita terus mencoba menepis, namun tenaganya sama sekali tak sebanding.


"Sambil menunggu, aku akan memijat tubuhmu agar rileks." ucapnya.


Mario benar-benar membuatnya ketakutan. Ia mulai berusaha melepaskan pakaiannya. Sekuat tenaga Prita menahan bajunya agar jangan sampai terlepas. Air matanya menetes, batinnya berkecambuk ingin berontak namun tak berdaya.


"Ini sudah kelewatan, Mario! Jangan seperti ini!"


"Menurutlah, nanti kamu juga akan menikmati."


Sret!


"Ah! Hiks hiks hiks."


Tangisnya pecah ketika Mario berhasil menariknya kencang blouse putihnya hingga terlepas. Kini tubuh mulus Prita bagian atas terekspose. Hanya dadanya yang masih tertutup bra warna putih. Ia meringkuk mencoba menyembunyikan tubuhnya.


"Jangan!" teriak Prita ketika Mario ingin melepas roknya juga.


Namun akhirnya Mario berhasil melakukan apa yang ia mau. Ia memandangi tubuh Prita yang hanya berbalit pakaian dalam. Libidonya meningkat melihat pemandangan indah itu.


"Hiks... hiks... apa maumu sebenarnya? Kenapa kamu tega melakukan hal seperti ini padaku."


Mario mengelus lengan mulus Prita, "Tubuhmu sangat indah. Aku menginginkannya."

__ADS_1


"Hentikan... ini tidak benar. Kita sudah berteman sejak kecil. Jangan membuatku membencimu."


"Kalau kamu sudah tahu kita berteman baik sejak kecil, kenapa menolakku! Kamu tahu, aku sangat membenci penolakanmu. Jadi, aku tidak peduli kalau kamu juga akan membenciku."


"Maafkan aku... tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu."


"Terserah! Yang penting, kita akan menikmati malam ini bersama." ucap Mario dengan senyum smirk.


*****


Ayash tengah berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan sama-sama diundang ke pesta ketika ponselnya bergetar. Ia memicingkan matanya ketika melihat nama kontak Raya di layar ponsel.


"Maaf, saya angkat telepon dulu." ijinnya seraya mencari tempat agak sepi untuk menerima telepon. Egi membuntutinya di belakang.


"Halo?"


"Yash, apa Prita ada bersamamu?"


"Prita? Bukannya tadi bersamamu?"


"Iya, tapi tadi aku tinggal ke toilet sebentar. Sekarang tidak ada. Aku kira dia pergi menemuimu karena bosan menungguku."


Ayash menghembuskan nafas kasar, "Tadi sudah aku bilang, jangan tinggalkan dia!"


"Sudah aku ajak, tapi dia nggak mau."


"Ya sudah. Cepat cari dia! Aku juga akan mencarinya." perintahnya ketus.


"Iya, iya... maaf."


Tut.


Tut... tut... tut...


Teleponnya tersambung, namun tidak diangkat.


"Ah, Shit!" Ayash menepuk dahinya setelah tiga kali panggilannya tidak diangkat Prita.


"Anda kenapa, Pak?" Egi yang sedari tadi memperhatikan bosnya, akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Prita hilang. Aku hubungi tidak diangkat."


"Mungkin sudah pulang, Pak."


"Tidak mungkin... kalau pulang pasti bareng Raya. Dia juga sedang mencarinya." Ayash kembali mencoba menghubungi nomor Prita, namun tetap tidak diangkat.


"Bukankah Anda sudah menyadap ponsel Nona Prita?"


Kata-kata Egi memberinya pencerahan, "Kamu benar, Egi."


Ayash langsung membuka aplikasi di ponselnya yang terhubung dengan ponsel Prita melalui sinyal GPS. Dilihat dari lokasi yang diterima, ponsel Prita masih berada di hotel tersebut. Ayash langsung berlari mengikuti posisi GPS. Egi mengikutinya.


Ting!

__ADS_1


Pintu lift terbuka di lantai 14. Ayash segera mempercepat langkahnya mengikuti lokasi yang ditunjukkan pada ponselnya.


"Ah, Shit!" pekiknya. Di lantai itu terdapat banyak kamar, sedangkan lokasi yang ditunjuk hanya bisa membaca radius 10 meter. Itu artinya, dia harus mengecek beberapa kamar yang paling dekat dengan perkiraan lokasi.


"Egi, cepat dobrak pintu-pintu ini!" teriak Ayash.


"Tapi, Pak... Bukankah lebih baik kita ketuk pintu satu-satu. Takutnya mengganggu tamu hotel." nasihat Egi.


"Kelamaan!"


Brak!


Ayash berhasil membuka paksa satu pintu yang paling dekat dengan posisinya. Amarahnya yang membuncah ternyata bisa melipat gandakan kekuatannya. Ia langsung menerobos masuk mencari Prita di dalam. Namun ia hanya menemui sepasang kakek nenek yang tampak tercengang dengan keadaan itu. Ayash langsung keluar.


"Ada apa ini?" tanya si kakek kepada Egi.


"Maafkan bos saya. Dia salah masuk kamar. Silakan dilanjutkan bersantainya." jawab Egi dengan perasaan tidak enak hati. Segera ia keluar mengikuti bosnya.


Ternyata di luar, bosnya sudah mendobrak pintu-pintu lain hingga membuat para penghuninya merasa kesal dan bertanya-tanya.


"Inilah bagian tidak enaknya jadi asisten. Bos yang melakukan kesalahan, aku yang harus meminta maaf. Baiklah, saatnya menjalankan tugas." lirih Egi. Ia lalu mendatangi kamar-kamar yang baru saja dirusak bosnya dan meminta maaf kepada mereka. Berbagai cacian ia terima dan berusaha mengabaikannya.


Ayash masih mencari-cari kamar yang kemungkinan ada Prita di dalamnya. Tersisa dua kamar paling ujung yang belum ia masuki.


Brak!


Ayash kembali mendobrak pintu dan langsung bergegas masuk. Di dalam kamar ia mendapati seorang lelaki bertelanjang dada sedang berada di atas seorang wanita. Setelah diamati, wanita itu adalah Prita. Darahnya semakin mendidih.


"Bangsat!" teriaknya seraya menarik lelaki itu hingga terjatuh ke lantai.


Dilihatnya wajah Prita yang berurai air mata sambil menangis sesenggukan. Tubuhnya hanya mengenakan pakaian dalam. Segera ia menutup tubuh itu dengan selimut. Perhatiannya teralih pada lelaki kurang ajar yang masih tersungkur ke lantai.


Bug! Bug! Bug!


Ayash melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah lelaki yang bernama Mario itu.


Ayash menjambak rambut Mario dan mendongakkan kepalanya, "Berani-beraninya kamu melakukan ini kepada pacarku." katanya dengan nada penuh amarah.


Mario masih bisa menyunggingkan senyum, "Dia memang milikku. Sejak dulu hanya milikku. Kamu hanya orang baru yang tak tahu apa-apa."


"Bangsat!" Ayash membenturkan kepala Mario ke tembok dan menendang tubuhnya.


"Sudah, Pak. Dia bisa mati!" Egi menarik bosnya agar berhenti memukuli Mario. Beberapa security yang masuk dengannya ikut menahan Ayash.


"Biarkan aku membunuhnya!"


"Lebih baik kita mengurus Nona Prita, Pak."


Ucapan Egi meredakan emosi Ayash. Tubuh Mario sudah tidak bergerak karena pingsan. Di arah pintu banyak orang berkerumun, penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam. Security berusaha membubarkan kerumunan itu, menyuruh semua tamu kembali ke kamarnya.


Ayash mendekati Prita yang masih sesenggukan di atas ranjang. Ia duduk di tepian ranjang, mengusap rambut dan mengecup keningnya.


"Huhuhu... Ayash... Ayash... " Prita hanya bisa menangis setelah diliputi rasa takut dan syok dengan kejadian yang menimpanya.

__ADS_1


"Iya, aku di sini. Kamu tidak perlu takut lagi." ucapnya menenangkan.


__ADS_2