
Dear readers, bantu like karya ini ya, supaya author semakin semangat menulis 💕💕💕
----------------------------------------------------------------------------------
"Aaaa... Huuu... Hahaha.... " Prita dan Ayash terus berteriak dan tertawa selama di atas wahana perahu kora-kora.
Mereka berempat sengaja memilih tempat duduk paling belakang untuk mendapatkan sensasi menegangkan bermain kora-kora. Prita sangat antusias karena permainan itu adalah incaran pertama yang ingin ia naiki. Berbeda dengan Raeka, dia memegang erat tangan Irgi karena ketakutan.
"Ra, kalau kamu takut, tunggu di bawah dulu, ya." kata Irgi ketika merasa Raeka semakin erat memeluk lengannya.
Raeka menggeleng, "Aku nggak mau, aku mau ikut kamu." rengeknya.
"Oke. Tapi jangan nangis kalau sudah di atas." Irgi mengingatkan.
Sementara, Prita dan Irgi sudah berada di atas perahu bagian paling belakang. Mereka sudah tertawa-tawa, tidak sabar memacu adrenalin di atas wahana itu.
"Kalian kalau takut pergi saja. Jangan sampai pingsan kalau sudah di atas." ledek Ayash melihat Irgi dan Raeka tak kunjung naik.
"Tuh, kan... Kita diledek Ayash. Aku mau naik sekarang. Kamu kalau tidak berani, tidak perlu memaksakan diri."
"Aku berani!" tegas Raeka.
Penumpang kora-kora hampir penuh. Irgi dan Raeka duduk di sebelah Ayash.
"Kalau pingsan aku tinggal ya nanti. Hahaha..." ejek Ayash.
"Penumpang gratisan diam kau!" balas Irgi.
"He... kamu sendiri yang bilang mau bayarin ya, kurang ajar mengejekku!"
"Jangan memegang tanganku kalau nanti ketakutan." ledek Irgi.
"Kamu sendiri yang akan pingsan di atas sini."
Ceklek!
Pengaman di kursi penumpang kora-kora terkunci otomatis oleh operator. Wahana tersebut mulai bergerak pelan terayun ke depan dan belakang. Prita dan Ayash berpandangan dan saling tersenyum. Sementara Raeka sudah memeluk erat lengan Irgi.
Kecepatan gerakan perahu semakin bertambah, kapal seakan diterjang ombak yang kuat. Sorak sorai penumpang mulai terdengar. Puncaknya, ketika kapal terayun sangat kuat hingga mencapai titik tertinggi. Posisi itu bertahan beberapa detik, sebelum kemudian kapal meluncur turun ke bawah dengan cepat.
__ADS_1
"Aaaa.... " terdengar teriakan kencang para penumpang ketika kapal terhempas begitu kencang ke depan kemudian berbalik ke belakang. Mereka seakan terombang ambing di tengah lautan.
Bagi penumpang kapal paling belakang, adrenalin mereka benar-benar terpacu. Prita dan Ayash berteriak bersama seakan melepaskan semua beban mereka. Sementara Irgi hanya memegangi kepalanya karena Raeka sedari tadi berteriak-teriak ketakutan dan menangis. Ia sedikit iri melihat Prita dan Ayash bisa kompak menikmati wahana ekstrim itu.
Setelah dua menit, gerakan kora-kora semakin melambat dan akhirnya berhenti. Besi pengaman sudah terbuka, artinya penumpang boleh turun. Beberapa orang mual dan pusing saat turun. Sisanya tertawa-tawa kegirangan seperti Ayash dan Prita. Tawa keduanya belum berhenti meskipun kora-kora sudah berhenti.
Irgi memapah Raeka turun. Gadis itu langsung lemas. Penampilannya sangat acak-acakan. Irgi mendudukkannya di bangku. Ia menyandarkan kepala Raeka di bahunya.
"Ra, kamu tidak apa-apa?" tanya Prita.
Raeka menggeleng. Rasanya ia belum kuat untuk berbicara.
"Ta, tolong belikan minuman dulu untuk Raeka." pinta Irgi.
"Biar aku saja. Kamu duduk di sini." pinta Ayash seraya beranjak pergi mencari stand penjual minuman.
Prita duduk di sebelah Irgi yang masih memeluk tubuh lemas Raeka.
"Kamu senang, Ta, naik kora-kora?" tanya Irgi.
"Iya. Sudah lama aku tidak naik itu. Terakhir kesini sepertinya saat kita kelas 3 SMA, ya?"
"Iya. Waktu itu, Andin dan Vino sampai muntah-muntah. Hahaha.... "
"Mereka baik, kok. Aku pernah bertemu Vino di Amerika. Dia sudah memulai bisnisnya sendiri di sana. Kalau Andin, dia sudah pindah ke Perancis untuk mengembangkan bisnis fashion miliknya."
"Huft... Kalian masih bisa saling bertemu, ya. Sepertinya hanya aku yang tidak tahu apa-apa." keluh Prita.
"Nanti kalau kamu jadi pengusaha juga bakalan sering ketemu, kok. Aku juga bisa bertemu Vino dan Andin karena ada urusan bisnis. Kamu seriusin saja kefemu, nanti lama-lama jadi besar."
"Aku harap begitu."
Tak berapa lama kemudian, Ayash kembali membawa empat gelas lemon tea. Mereka sementara beristirahat menunggu kondisi Raeka membaik.
"Gimana, Ra, apa sudah lebih baik?" tanya Irgi sembari mengusap puncak kepala Raeka.
Raeka hanya menangguk.
"Mungkin lebih baik kita ke wahana yang santai saja deh, supaya Raeka juga lebih rileks." usul Prita.
__ADS_1
"Kalau sudah tidak kuat jalan, kalian pulang saja." celetuk Ayash.
"Aku masih kuat!" seru Raeka seraya bangkit berdiri. Dia kesal diremehkan Ayash.
"Kita ke wahana Istana Boneka saja. Aku juga ingin sekali ke sana lagi." ajak Prita.
"Oke." Ayash langsung mengiyakan dan menggandeng tangan Prita.
Irgi dan Raeka mengikuti dari belakang. Raeka tetap menggelayut di lengan Irgi. Kondisinya membuat ia ada alasan untuk bermanja-manja.
Setibanya di area wahana istana boneka, mereka menaiki perahu yang akan mengantarkan ke dalam istana boneka. Perahu ini tidak seseram kora-kora. Aliran arusnya pelan, perahu berjalan lambat. Memasuki gerbang istana, musik mulai mengalun. Boneka-boneka bernuansa suku Indonesia bergerak-gerak ketika sensornya mendeteksi kehadiran pengunjung.
Selama 15 mereka berada di dalam istana boneka. Akhirnya perahu yang mereka naiki sampai di tujuan. Dari sana, mereka beralih ke studio film 4D, gajah terbang, dan komedi putar. Sebenarnya wahana itu membuat Prita bosan, karena dia ingin menaiki wahana roller coaster dan kicir-kicir. Tapi ia menghargai perasaan Raeka. Tidak mungkin ia mengajaknya bermain ekstrim setelah membuatnya pusing di wahana kora-kora.
Saat ini mereka ada di dalam toilet. Prita baru saja selesai buang air kecil dan Raeka sedang memperbaiki riasan wajahnya. Prita mencuci tangannya di wastafel.
"Ta.... " Raeka mencoba membuka percakapan.
"Ya?" Prita tersenyum.
"Maafkan aku." ucap Raeka.
Prita mengeryitkan dahinya. Ia heran Raeka bisa mengucapkan maaf kepadanya.
"Aku minta maaf atas semua perbuatanku dulu. Aku juga minta maaf pernah cemburu padamu."
"Iya, aku sudah memaafkanmu. Aku juga sudah melupakannya."
"Terima kasih."
Prita memeluk Raeka, "Aku berharap kita bisa berteman baik."
Raeka membalas pelukannya.
"Sebaiknya kita segera kembali. Ayash dan Irgi pasti sudah kelamaan menunggu." ujar Prita. Raeka hanya mengangguk.
Saat mereka menghampiri Irgi dan ayash, seperti biasa, mereka sedang adu mulut. Melihat kedatangan kedua wanita itu, mereka langsung diam.
Irgi mengajak mereka untuk pulang, karena hari sudah sore. Tapi, sebelum pulang mereka menyempatkan makan malam bersama di tepi pantai tak jauh dari Taman Hiburan.
__ADS_1
Suasana temaram pantai menjadikan acara makan malam mereka terkesan romantis. Deru ombak yang sesekali menghantam bibir pantai terdengar syahdu. Semilir angin malam menyejukkan kalbu.
Mereka menyantap ikan bakar dan seafood diselingi canda tawa. Hubungan merreka berempat menjadi menghangat berkat acara double date yang diusulkan Irgi.