ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Kembali Bertemu Mario


__ADS_3

Siang itu Prita duduk di bangku taman sambil memandangi ikan-ikan yang sedang berenang di kolam kecil. Ikan-ikan itu merupakan jenis ikan koi dengan corak yang beraneka ragam.


Sesekali matanya beralih ke arah penjaga yang bertubuh besar dan kekar sedang berjaga dalam jarak sepuluh meter darinya. Ia memandang tembok setinggi tiga meter di depannya. Di balik tembok itu ada hutan lebat. Untuk bisa melompatinya perlu tangga.


Prita menghela nafas. Dilemparkannya batu kecil ke dalam kolah hingga membentuk gelombang di permukaan air. Ikan-ikan tampak berenang menghindar.


"Sedang apa, Sayang?"


Lamunannya seketika hilang dikejutkan dengan kehadiran Bayu yang tiba-tiba. Tidak biasanya siang hari ia ada di rumah. Biasanya ia pulang larut malam hanya untuk melepas hasrat padanya. Dan pagi hari sebelum Prita terbangun, Bayu sudah pergi lagi.


Bayu langsung duduk di sebelah Prita, membelai rambut dan menyibakkannya ke belakang telinga. Diangkatnya dagu wanita yang tampak enggan untuk menatapnya.


"Kamu cantik sekali." pujinya seraya mendaratkan ciuman di bibir mungil wanita kesayangannya dengan penuh kelembutan.


Prita memejamkan mata dan mencoba membalas ciuman yang ia terima sekenanya. Bayu akan bersikap baik jika ia mau menurut. Tapi jika ia melawan, Bayu akan mengamuk dan yang menjadi sasarannya adalah para pelayan yang ada di rumahnya. Prita tidak ingin membuat orang lain menderita karena dirinya. Ia hanya perlu bersabar dan mencari jalan untuk bisa keluar.


Bayu memeluk tubuh Prita, "Sejak kamu ada di sini, rasanya aku ingin selalu cepat-cepat pulang dari kantor. Kalau bisa, aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamamu."


Bayu mencium pipi Prita. Ciumannya turun ke area leher. Sepertinya ia tidak ada rasa sungkan untuk menunjukkan sifat mesranya di hadapan para penjaga yang berada di sekitarnya.


"Apa kamu menginginkan sesuatu? Kamu ingin aku belikan tas, sepatu, atau perhiasan?"


Prita menggeleng, "Aku tidak membutuhkan apapun di sini. Kamu sudah mengatur semua yang aku perlu."


"Jika urusanku di sini, aku akan membawamu pergi ke Kota J. Disana kamu akan aku beri lebih banyak kebebasan."


"Aku tahu, kamu pasti ingin sekali pergi ke luar. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku yakin kamu akan kabur jika aku beri sedikit kebebasan. Apalagi kamu belum benar-benar melupakan orang itu."


Bayu sangat malas untuk menyebutkan nama Ayash. Wanita itu masih sangat mencintainya. Ia bahkan harus rutin memberikan obat kepada Prita agar wanita itu bisa bergairah padanya.


"Kamu ingat, pertemuan kita saat kamu hampir diculik?"


Prita berpikir sejenak, "Sebenarnya waktu itu rencanamu, kan?"


"Hahaha... seharusnya memang aku perlu menculikmu sejak awal. Tapi, sebenarnya aku tidak ada niat untuk membuatmu seperti ini."


"Aku ingin kamu bisa mencintaiku secara alami. Sampai akhirnya kamu ditangkap bersama lelaki itu, aku berubah pikiran. Kamu tidak mungkin mencintaiku karena lelaki itu. Seharusnya dia yang aku culik. Tapi kamu sendiri yang bersedia menggantikannya. Dan aku sangat bersyukur untuk itu."

__ADS_1


"Tapi orang-orang yang hampir menculikku dulu juga sama dengan orang-orangmu kemarin."


"Ya, Kalong Merah memang sudah menjadi bagian dari Tiger King. Tapi, bukan aku yang menyuruh mereka menculikmu. Dan saat itu aku hanya kebetulan lewat."


"Kamu mau tahu, siapa yang menyuruh mereka menculikmu?"


Prita memberi tatapan penasaran, "Siapa?"


"Orang yang hampir memperkosamu di hotel D'Savior."


Prita menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dia sangat terkejut dengan penuturan Bayu. Apakah orang yang dimaksud benar-benar Mario? Kenapa dia bisa tahu jika dulu ia hampir diperkosa?


"Kamu tahu kan, siapa yang aku maksud?"


"Mario.... " ucapnya lirih.


Prita masih tidak percaya, Mario tega melakukan itu padanya. Setelah gagal melaksanakan niatnya di hotel, ternyata lelaki itu masih mengincarnya dan berniat menculiknya.


"Benar. Itu ulahnya, bukan ulahku."


Bagi Prita, Bayu dan Mario sama saja. Mereka berdua hanya lelaki mesum yang hanya berhasrat pada tubuhnya.


Prita menggeleng, "Aku tidak tahu."


"Katakanlah... Apa kamu mau membunuhnya?"


Prita mengepalkan kedua tangannya geram, "Tentu saja aku ingin membunuhnya. Seperti aku ingin membunuhmu juga. Kalian sama-sama lelaki bajingan."


"Hahaha... kenapa kamu menyamakan aku dengannya?" Bayu mengelus rambut Prita, "Apa kamu lupa, kamu di sini adalah keinginanmu sendiri. Kamu yang mau menggantikan lelaki itu. Aku tidak pernah memaksamu. Apa kamu menyesal? Kita bahkan sudah melewatkan setiap malam bersama. Dan sepertinya kamu mulai menikmatinya."


Prita tertunduk. Apa yang dikatakan Bayu membuatnya kesal meskipun itu kenyataan. Ia merasa berhasrat setiap kali Bayu menyentuhnya.


"Ikut aku."


Bayu menuntunnya menyusuri taman. Beberapa pengawal berjalan mengikuti. Setibanya di bagian belakang mansion sisi utara, terdapat ruangan seperti gudang. Pengawal membukakan pintu gudang.


Ruangan itu tampak lembab dan gelap karena ventilasinya kecil. Di sana banyak tumpukan peti yang disusun menjulang tinggi. Entah apa isinya.

__ADS_1


Pengawal memandu mereka ke sisi kiri ruangan, membukakan pintu rahasia di lantai. Ketika pintu itu terbuka, tampak tangga yang sepertinya menuju ruang bawah tanah.


Bayu memimpin masuk, Prita mengikutinya di belakang. Ruang bawah tanah itu diterangi lampu yang remang-remang. Hawa di sana pengap. Dua penjaga di sana memberi hormat melihat kedatangan Bayu.


Samar-samar Prita melihat sesosok lelaki yang tersungkur di lantai dengan kedua tangan di rantai. Bayu mengajaknya berjalan semakin mendekat.


"Ah!" Prita memekik setelah melihat ternyata lelaki itu adalah Mario.


"Prita.... " lirih Mario yang juga terkejut melihat Prita ada di tempat itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan padanya? Apa aku perlu menembak lelaki yang hampir memperkosa dan menculikmu ini?"


Prita masih syok dan tak bisa berkata-kata. Kondisi Mario sangat mengenaskan. Sekujur tubuhnya penuh luka seperti orang yang mendapat siksaan. Meskipun ia kesal dengan Mario, namun ada rasa kasihan untuknya.


"Prita... kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Mario yang kondisinya tampak lemah.


Bayu menggandeng tangan Prita, "Dia pacarku."


"Hahaha... mana mungkin Prita mau dengan orang sepertimu. Prita, sebaiknya kamu kabur. Dia itu orang yang sangat kejam, lebih bajingan daripada aku. Pekerjaannya membunuh dan jual beli barang terlarang. Jangan sampai kamu juga diperjual belikan olehnya."


Klek Klek!


Bayu mengarahkan pistol tepat ke kepala Mario. Reflek tangan Prita memegangi tangannya agar mau menurunkan pistol itu.


"Jangan... jangan lakukan!" pinta Prita.


Sorot mata Bayu sudah penuh emosi ingin menatik pelatuk pistolnya, "Kenapa? Bukankah kamu membencinya?"


"Aku sudah memaafkannya."


Bayu menyeringai, "Mana ada orang seperti itu? Yang bersalah harus mendapat hukuman."


"Kalau mau tembak, tembak saja! Tujuanmu membawaku kesini bukankah memang ingin membunuhku, bangsat!" teriak Mario.


Dor! Dor! Dor!


Ternyata Bayu menembakkan pelurunya ke arah dinding. Tubuh Prita sudah gemetar karena hampir menyaksikan pembunuhan.

__ADS_1


"Kumohon, aku ingin pergi dari sini. Aku ingin pergi dari sini." ucap Prita dengan nada bergetar.


Akhirnya Bayu mengalah dan membawa Prita kembali ke atas.


__ADS_2