
Egi dan Raya melongo ketika sampai di hotel Mayapada. Saat ini mereka sedang bersama vendor pernikahan yang akan mengurusi acara Ayash dan Prita.
Sejak tadi mereka ditanyai berbagai macam hal terkait acara. Walaupun hanya sebagai perwakilan, rasanya seperti mereka yang akan menjalani pernikahan itu.
Dari kebun binatang tiba-tiba harus pindah ke Hotel. Semua itu berawal dari telepon. Ayash menelepon Egi saat ia sedang menikmati hari liburnya bersama Raya.
"Telepon dari siapa?" tanya Raya ketika Egi tampak ragu untuk mengangkat teleponnya.
"Dari Pak GM." Egi punya firasat buruk jika mendapat telepon di luar jam kerjanya.
"Kenapa tidak diangkat? Mungkin itu penting."
Biasanya hal penting untuk bosnya, tetapi beban bagi dirinya.
"Halo?" Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab telepon.
"Maaf, Egi. Aku harus mengganggu akhir pekanmu."
Egi menghela nafas. Positif, hari liburnya kembali harus dikorbankan. "Ada apa, Pak?"
"Tolong gantikan aku ke Hotel Mayapada bertemu vendor pernikahan. Aku tidak bisa menghadirinya karena ada urusan penting. Aku serahkan semua padamu, Egi."
Lagi-lagi urusan pribadi, bukan urusan kantor.
"Tapi, Pak.... "
"Akan aku anggap kamu lembur hari ini. Besok uangnya aku transfer."
"Saya.... sedang ada urusan..... "
Belum sempat Egi menyelesaikan kata-katanya, Ayash sudah mematikan teleponnya. Seketika tubuh Egi menjadi lemas.
'Selamat tinggal hari libur yang berharga.' batinnya.
"Kenapa katanya?"
"Kamu mau temani saya ke Hotel Mayapada? Ada yang harus saya urus di sana."
Meskipun tak terlalu paham dengan urusan Egi, Raya akhirnya setuju untuk ikut.
__ADS_1
"Untuk dekorasi pohon sakura ada beberapa rekomendasi seperti di katalog ini. Yang ini warna putih, bisa juga memakai soft pink atau pink cerah. Pilihan lainnya warna jingga. Kira-kira mana yang mau dipilih?"
"Pak, kenapa jadi kita yang ditanya-tanya?" Raya berkata dengan nada lirih hampir berbisik-bisik.
"Tolong kamu bantu pilih saja, ya. Biasanya selera wanita kan sama."
"Kalau Prita tidak suka bagaimana? Selera kami sangat jauh berbeda."
"Tidak apa-apa, pilihan kamu sudah menjadi pertolongan besar bagi pekerjaan saya."
"Ah, jadi ini termasuk pekerjaan juga, ya?"
"Benar. Ini pekerjaan lemburan saya. Nanti kalau bonusnya sudah diberikan, saya akan bagikan sebagian untukmu."
Mata Raya berbinar-binar mendengar kata-kata 'bonus'. Kapan lagi kerja santai tapi dibayar.
"Ehm, saya pilih yang warna soft pink saja."
"Kalau untuk hidangannya? Ada ala western, japanesse, atau tradisional?"
Raya menggaruk-garuk kepalanya, tidak terlalu paham dengan jenis-jenis makanan yang disebutkan.
Pihak vendor selain meminta pendapat juga menjelaskan gambaran secara garis besar acara yang akan dilaksanakan. Egi mendengarkan dengan saksama, karena setelah ini ia harus melaporkan kepada Ayash.
"Semua jawaban dan lendapat yang saya katakan tadi sebenarnya konsep pernikahan yang saya inginkan, lho, Pak. Kalau Ayash nanti marah tolong jangan bawa-bawa nama saya. Tapi kalau dia merasa puas dengan konsep pernikahannya, tolong sebutkan juga nama saya. Hehehe.... "
Egi tertawa kecil, "Pak GM tidak akan marah, kamu tenang saja. Nanti saya coba bilang untuk memberikan bonus tambahan untukmu."
"Hari ini rasanya saya dan Pak Egi yang sedang mempersiapkan pernikahan."
"Anggap saja ini simulasi pernikahan." jawab Egi sambil tersenyum.
"Eh, jadi Pak Egi benar-benar berniat menikahi saya?"
"Kita lihat saja nanti, ya."
Hanya mendengarkan itu saja bati Raya seraya berbunga-bunga.
*****
__ADS_1
"Kondisi janinnya baik, besarnya sudah seukuran buah jeruk. Beratnya sekitar 15 gram dan panjangnya 5 sentimeter. Wajahnya sudah semakin jelas terbentuk, ya. Kuku tangan dan kakinya sudah mulai ada. Eh, lihat ini. Dedenya sudah bisa menutup dan membuka genggaman tangannya. Semuanya normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Ayash dan Prita mendengarkan penjelasan dari Dokter Rania. Ya, mereka kembali ke tempat dokter kandungan karena Ayash khawatir dengan kondisi Prita. Syukurlah tidak ada yang perlu dikhawatirkan baik untuk Prita ataupun bayinya.
"Untuk keluhan yang tadi diceritakan, saya rasa bukan karena ada permasalahan dari janin, ya. Mungkin ada kaitannya dengan stres. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi stres bisa sangat berbahaya bagi perkembangan janin. Apalagi Bunda tadi sempat mengatakan perutnya sampai sakit atau kram, kemudian mual muntah. Jika kram terjadi terus menerus, bisa menyebabkan keguguran. Atau jika itu tidak terjadi, bisa berpengaruh pada perkembangan otak bayi."
"Saran saya, jaga pikiran jangan sampai bunda merasa stres, ya. Tolong ayahnya juga membantu bunda agar lebih relaks."
"Baik, Dok." jawab Prita.
Stres bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan. Terkadang hal-hal remeh juga bisa memicu stres.
"Pada saat ini, janin belum membutuhkan banyak nutrisi, sehingga berat badan Bunda mungkin tidak mengalami penambahan yang signifikan. Perut Bunda Prita juga masih terlihat rata, ya. Seperti tidak sedang hamil. Tapi, setelah melewati masa tiga bulan kehamilan, kebutuhan bayi akan air, energi, dan nutrisi menjadi lebih besar. Jadi, Bunda sebaiknya mempersiapkan pola makan dan gaya hidup yang baik untuk menaikkan berat badan secara stabil."
"Kira-kira Ayah tahu tidak, perubahan apa yang terjadi pada Bunda selama kehamilan?"
Ayash terdiam mendengar pertanyaan dokter. Matanya melirik ke arah Prita, "Saya juga kurang paham. Menurut saya dia masih sama. Apalagi perutnya juga masih rata, tidak menunjukan dia sedang hamil."
"Tapi... Prita sepertinya kelihatan lebih cantik." Ayash menjawab sambil membayangkan tubuh Prita yang sempat ia lihat sebelum memutuskan ke dokter. Mukanya memerah saat mengatakannya.
Prita yang mendengarnya ikut tersipu malu.
"Oh, ini tipe ayah yang sweet banget ya. Memang, di minggu ke-12 usia kehamilan, kulit Bunda akan berubah menjadi lebih halus dan bercahaya karena aliran darah dan aktivitas hormon meningkat selama masa kehamilan. Aktivitas kelenjar minyak juga meningkat sehingga kulit menjadi lebih merona, lebih kencang, dan halus. Memang ada yang malah jerawatan parah saat hamil, tapi Bunda Prita ini kebalikannya. Kelihatan semakin cantik saat hamil."
"Bagaimana dengan bentuk puti** Bunda? Sudah menonjol atau masih datar?"
Muka Prita memerah. Dokter ini memang sangat komunikatif dengan pasiennya.
"Saya lupa, Dokter. Nanti saya cek."
"Tidak perlu malu, ya. Ini juga demi dede bayi yang akan lahir nanti. Karena sudah memasuki bulan ketiga kehamilan, Bunda juga harus memperhatikan area itu. Minimal dipijat dua kali sehari dengan minyak kelapa agar puti** bisa menonjol keluar sekaligus untuk membersihkan kotoran-kotoran yang mungkin menempel. Jadi, saat nanti sudah melahirkan dan menyusui, sudah dalam kondisi yang terbaik saat meng-ASI-hi."
"Kalau Bundanya sibuk, Ayah juga bisa membantu lho."
"Ah, iya dok. Dengan senang hati." jawab Ayash dengan lugas. Memancing gelak tawa Prita dan Dokter Rania karena jawabannya.
"Saya rasa cukup ya konsultasi hari ini. Jika ada keluhan-keluhan lain, silakan datang lagi ke sini atau bisa juga konsultasi lewat telepon."
"Terima kasih, Dok."
__ADS_1