
Ayash berjalan mondar mandir di ruang tamunya. Tangannya sedari tadi memegang ponsel dan menempelkannya di telinga. Sudah belasan kali ia menghubungi nomor Prita namun belum juga diangkat.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ayash baru saja pulang dari kantornya. Bahkan, ia belum sempat mandi dan mengganti pakaiannya karena terlalu panik ketika melihat kamar Prita kosong.
Ia merasa menyesal sudah membiarkan Prita pergi ke ruko sendiri. Hari ini memang ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya sehingga tidak bisa ikut. Ia takut kejadian kemarin terulang lagi.
"Lho, kamu sudah pulang?"
Suara dari arah pintu membuatnya kaget. Ternyata Prita sudah pulang. Langsung ia berlari dan memeluk erat tubuh Prita.
"Ssayang... pelan-pelan peluknya." pinta Prita yang merasa sesak.
Ayash langsung melepaskan pelukannya, "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya cemas.
"Iya, aku baik-baik saja." Prita memandangi penampilan Ayash yang masih mengenakan kemeja dan jas kerjanya. "Kamu juga baru pulang, ya?"
"Iya, aku baru pulang. Aku lihat kamarmu kosong jadi aku panik."
"Ya sudah, ayo kita duduk dulu. Biar aku buatkan teh hangat."
Ayah merebahkan tubuhnya di sofa. Perasaannya sudah lega. Ditariknya dasi yang sedari tadi melilit di lehernya dan diletakkan di atas meja. Ia lantas melepas jas dan melonggarkan kancing kemeja di pergelangan tangannya. Sementara Prita masih sibuk di dapur membuat teh.
"Minum dulu." Prita membawa dua cangkir teh. Salah satunya diberikan kepada Ayash.
"Terima kasih." Ayash menyeruput teh hangat yang diberikan Prita.
"Aku siapkan air hangat juga ya, untukmu mandi."
Ayash menahan tangan Prita yang hendak pergi ke kamarnya, "Itu nanti saja. Sekarang duduk dulu."
Prita menuruti permintaan Ayash dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa baru pulang selarut ini? Apa yang terjadi?" tanya Ayash.
Prita tampak ragu ingin mengatakan sejujurnya. Ia takut akan membuat Ayash khawatir. Tapi, jika ia tidak mengatakan, nanti pasti Ayash akan tahu dari orang lain.
"Mmm... tadi, aku dari kafe."
"Ya, aku tahu."
"Di perjalanan pulang, tiba-tiba ada mobil menghadang. Mereka menyuruhku turun dan ikut mereka."
Ayash membulatkan matanya, "Siapa mereka?"
"Mana aku tahu! Tapi... untungnya ada orang lewat yang menolongku. Dia menghajar semua penjahat itu dan mengantarku pulang."
__ADS_1
"Siapa orang yang menolongmu?" tanya Ayash penasaran.
"Dia hanya orang yang kebetulan lewat. Aku nggak sempat berkenalan." kilah Prita mencoba berbohong. Tidak mungkin ia akan mengatakan semua yang dialami malam itu. Meskipun Bayu telah menyelamatkannya, namun baginya setiap bertemu dengan lelaki itu adalah musibah baginya.
Ayash kembali memeluk Prita, "Aku tadi sangat cemas sekali. Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendiri."
"Iya, maafkan aku. Lain kali aku akan lebih berhati-hati dan meminta ditemani Pak Rudi saja jika kamu sibuk."
"Kita harus berterima kasih dengan orang yang sudah menolongmu. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi jika mereka berhasil menculikmu."
Prita hanya terdiam ketika Ayash berkata harus berterima kasih dengan orang yang sudah menolongnya. Berterima kasih kepada Bayu? Ia yakin jika Ayash tahu kalau Bayu sudah beberapa kali bertemu dengannya, bahkan tiga kali dia sudah menodai bibirnya, Ayash bukannya mengucapkan terima kasih tapi justru akan menghajarnya. Prita berharap tidak akan lagi berurusan dengan Bayu. Karena berurusan dengannya hanya akan mendatangkan kesialan.
"Sayang... aku siapkan air mandi dulu, ya."
"Makasih, sayang."
Prita bergegas menuju kamar Ayash untuk menyiapkan air mandinya.
*****
Pagi itu, di mansionnya, Bayu sedang menghajar habis-habisan banyak orang dengan tongkat pemukulnya. Orang-orang itu adalah anak buahnya yang berasal dari geng Kalong Merah. Ketua mereka tak luput dari amukan Bayu.
Ya, lagi-lagi mereka berulah. Padahal, mereka sudah memutuskan untuk bergabung dengan Tiger King. Kenyataannya, mereka masih bergerak sendiri. Semalam, orang-orang yang hampir menculik Prita adalah bagian dari Kalong Merah.
Bug!
"Ampun, Bos. Sebenarnya kemarin permintaan khusus dari teman baikku, jadi, aku tidak tega menolaknya. Aku tidak mendapat bayaran sedikitpun karena hanya berniat membantunya." Lelaki bernama Miko itu meringis memegangi lengannya yang sakit.
Bayu berjongkok mensejajarkan tubuh dengan Miko, "Apa yang kalian ingin lakukan kepada gadis itu?" telisiknya.
"Kami hanya berniat membawanya saja menemui seseorang."
"Siapa orang itu?"
"Mario Chandra."
Bayu memicingkan alisnya, "Mario Chandra... anaknya Retno Mulyani?"
"Benar, Bos."
"Pemilik yayasan TK Tunas Bangsa, tempat wanita itu mengajar?"
"Iya."
"Kenapa dia sampai mau menculiknya?"
__ADS_1
"Ah, itu rumit untuk dijelaskan, Bos."
"Jelaskan sesederhana mungkin. Aku ingin tahu." Bayu menatap dengan tatapan intimidasi.
"Mario... menyukai wanita itu, Bos. Tapi dia ditolak. Dia tidak terima, jadi, dia berencana untuk menculik dan menyekap wanita itu bersamanya. Bahkan.... "
Bayu mengepalkan tangannya karena geram. "Bahkan apa?"
"Bahkan... dua minggu lalu dia hampir memperkosa wanita itu, namun gagal."
"Bangs*t!" umpat Bayu.
Orang-orang yang ada di sana merasa bingung karena tiba-tiba pimpinannya mengumpat. Mereka belum tahu jika Bayu menyukai gadis itu dan tidak terima gadisnya diganggu orang, apalagi anak buahnya sendiri.
"Kalau kalian ingin aku ampuni, bawa Mario kepadaku!" perintah Bayu.
"Tapi, kenapa, Bos? Kami kan tidak jadi menculik gadis itu."
Bayu tersenyum sinis, "Siapa bosnya di sini? Aku atau dia?"
"Baik, Bos. Kami akan membawa Mario kemari."
"Ingat, jangan pernah melakukan apapun sebelum ada perintah dariku! Dan, perintahku adalah hal yang mutlak harus kalian turuti. Jika tidak, aku akan membantai habis kalian!" ancam Bayu.
"Iya, Bos. Kami tidak akan berani. Kami pergi dulu." Miko bangkit dari duduknya dan mengajak anak buahnya keluar ruangan.
"Beni.... "
"Iya, Bos?"
"Ada agenda apa saja dalam minggu ini?"
"Malam ini kita akan mengawal pengiriman senjata api ke Kota R, Bos. Dua hari lagi, ayah Anda akan datang melihat perkembangan bisnis kita di sini. Dan... Clien kita, Tuan Arga, meminta kita menjalankan kesepakatan secepatnya."
"Hmm... baiklah!"
"Apa bisnis obat-obatan kita juga lancar?"
"Sejauh ini masih aman, Bos. Tidak ada keluhan dari bawah. Polisi juga sepertinya belum bisa mengendus keberadaan anak buah kita."
"Kerja Bagus, Ben! Ah, iya. Untuk pengawalan nanti malam, aku serahkan padamu. Aku masih lelah dan butuh istirahat."
"Apa perlu saya panggilkan teman wanita, Bos?"
"Hmm... tidak perlu. Aku sedang tidak ingin. Kamu boleh kembali bekerja. Aku mau melanjutkan tidur."
__ADS_1
"Baik, Bos."
Beni melihat bosnya berjalan menaiki tangga menuju kamar. Ia merasa heran, biasanya bos nya akan meminta dicarikan wanita saat lelah. Tapi kali ini dia justru menolak.