
Ponsel Irgi sejak tadi terus bergetar. Namun ia tak menggubrisnya karena masih fokus menyetir. Ia tahun, pasti yang menghubunginya Egi, asisten Ayash.
Dia sudah cukup telat untuk bertemu Jimmy Marshall karena harus mengantar Raeka belanja dulu. Ia harus tega menurunkan Raeka di depan hotel, tak sampai masuk ke apartemen.
Sesampainya ia di depan lobi hotel Cassanova, ia menghentikan mobilnya. Diberikannya kunci mobil kepada petugas valet untuk diparkirkan. Sementara dirinya masuk menuju lobi hotel.
Setelah melihat-lihat beberapa waktu, ia mendapati Egi di salah satu sudut lobi bersama seorang lelaki yang ia yakini dia Jimmy Marshall. Ia segera menghampiri mereka.
"Maaf, saya sedikit telat." ucapnya.
Kedua orang itu sedikit kaget dengan kedatangan Irgi yang tiba-tiba.
"Ah, silakan duduk." kata Jimmy.
Irgi duduk di sebelah Egi, berhadapan dengan Jimmy.
"Ini Pak Irgi, temannya Pak Ayash. Beliau tidak dapat datang karena sedang sakit dan menyuruh Pak Irgi untuk menggantikan."
"Ah, oke. Aku Jimmy Marshall. Ngomong-ngomong, ada urusan apa kalian sampai meminta waktu bertemu denganku?"
"Anda Kenal Prita Asmara?" tanya Irgi tanpa basa basi.
"Hmm... Prita Asmara... Apa dia... guru TK anak saya?" Jimmy tampak mengingat-ingat. Ia pernah satu kali bertemu langsung dengan guru Leo itu.
"Iya."
"Jadi, apa hubungan pertemuan ini dengan Prita? Setahu saya, dia sudah berhenti jadi guru di TK anak saya."
"Prita hilang."
Jimmy mengernyitkan dahinya, "Kamu menuduhku menyembunyikan atau menculiknya?"
"Anda mengenal Bayu Bagaskara?"
"Ya, tentu saja. Dia teman baik saya. Sebenarnya apa maksud menanyakan ini semua? Saya jadi bingung."
"Teman Anda yang menculik Prita, teman saya."
Jimmy tertawa, ucapan Irgi tidak bisa ia percaya, "Kalian ini tidak usah melawak, mana mungkin Bayu menculik Miss Prita."
"Kenapa tidak mungkin?"
__ADS_1
"Karena dia sepertinya sangat menyukai Miss Prita. Dia juga sempat memakai anakku agar bisa bertemu dengannya. Jadi tidak mungkin ia menculik orang yang dia sukai."
"Masalahnya teman saya, Prita sudah punya pacar."
"Apa?" Jimmy kaget.
"Dan pacarnya sekarang masih di rumah sakit karena dikeroyok anak buahnya. Sementara Prita sudah beberapa hari belum kembali." Irgi meminum gelas minuman yang sepertinya sudah disiapkan untuknya, "Teman Anda mafia, kan?"
Jimmy mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang kebingungan, "Rasanya tidak mungkin."
"Pak Ayash, atasan saya yang sudah teman Anda buat sampai masuk rumah sakit, Pak Jimmy."
"Hah... aku tidak tahu kalau dia sampai bisa bertindak kekanakan seperti ini. Biasanya dia hanya menggunakan anak buahnya untuk pekerjaan, bukan urusan pribadi." Jimmy meneguk minumannya untuk menenangkan pikiran, "Jadi apa yang bisa aku bantu?"
"Ayash bilang dia sempat di bawa ke mansionnya yang ada di tengah hutan. Apa kamu tahu tempatnya?"
Jimmy mencubit keningnya, "Mansion? Kurasa dia tidak memiliki mansion di kota ini. Kalau di Kota J, aku tahu. Karena dia memang baru pindah dari Kota J ke sini. Aku juga tidak tahu, apa dia punya anak buah atau tidak di kota ini. Setahuku selama ini dia kemana-mana hanya sendiri tanpa pengawalan. Tiger King itu pusatnya di Kota J."
"Dimana dia tinggal?"
"Di apartemen Tanzania Tower dekat taman kota. Tapi dia jarang di rumah, dia lebih banyak mengbabiskan waktu di bar atau diskotik. Kalau kalian mau menemuinya, coba cari di kantor barunya. Setidaknya tiga kali seminggu dia akan datang ke kantor. Ini." Jimmy membuka dompetnya, memberikan sebuah kartu nama.
Irgi menerima kartu tersebut. Kartu nama tersebut tertulis Bagaskara Mitra Sarana, perusahaan tambang cabang dari Bagaskara Corp. Pemiliknya Bayu Bagaskara.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Aku sudah mengatakan semuanya. Aku juga akan mencoba membantu. Kalau benar Miss Prita ada bersamanya, akan aku voba menasehati untuk melepaskannya."
"Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama."
"Kami pamit dulu." Irgi dan Bayu berjabat tangan.
*****
Irgi dan Egi kini ada dalam satu mobil. Irgi yang duduk di belakang kemudi. Mereka sedikit bingung, kemana seharusnya tujuan mereka sekarang.
"Jadi gimana, Gi? Kita mau kemana dulu? Ke apartemennya atau ke kantornya?"
"Bagaimana kalau kita ke kantornya saja, Pak? Kalaupun kita tidak bertemu, kita bisa bertanya kepada karyawannya."
"Baiklah."
__ADS_1
Irgi langsung mengemudikan mobilnya. Ia mengingat-ingat alamat kantor Bayu dan mencari rute tercepat menuju tempat itu.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di alamat kantor yang diberikan Jimmy. Kantor itu tampak biasa-biasa saja seperti kantor pada umumnya. Tak ada hal yang mencurigakan karena kantor itu merupakan cabang dari Bagaskara Corp pastilah sudah berbadan hukum.
Mereka segera menghampiri resepsionis di lobi kantor.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sambut seorang resepsionis wanita.
"Kami ingin bertemu dengan Pak Bayu Bagaskara." ucap Irgi.
"Maaf, apa sebelumnya Anda sudah membuat janji?"
"Belum."
"Kalau begitu, boleh saya tahu, siapa nama Bapak berdua dan tujuan bertemu dengan atasan kami?"
"Katakan Ayash Hartadi dan Egi Wiraguna ingin bertemu untuk membahas masalah bisnis." Irgi berkata bohong. Ia sengaja memakai nama Ayash untuk memancing kemunculan orang yang bernama Bayu itu.
"Baik, silakan Bapak Ayash Hartadi dan Bapak Egi Wiraguna menunggu di sebelah sana." resepsionis itu menunjuk salah satu sofa yang terletak di sudut ruang lobi.
"Saya akan meneruskan pesan Bapak kepada atasan kami. Mohon menunggu beberapa saat."
Irgi dan Egi berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh resepsionis.
"Benar-benar tidak tahu diri itu om-om tua yang namanya Bayu."
Egi langsung melotot ke arah Irgi.
"Hehehe... maksudnya Si Bayu, ya. Bukan kamu. Jangan tersinggung begitu. Aku kan hanya kesal, orang itu tidak tahu umur. Masa menyukai wanita yang jauh lebih muda. Memangnya stok yang seumuran dengannya tidak ada apa? Bagaimana dengan nasib kami kalau semua wanita yang seumuran kami diambil oleh om-om semua. Ckckck... kasihan sekali Ayash. Semoga aku tidak bernasib sama."
"Menurutku selisih usia 10 tahunan masih wajar. Banyak juga contohnya pernikahan beda usia lebih dari itu."
"Ya, ya... kalian kan sama-sama sudah tua. Jadi pemikirannya juga sama."
Egi kembali melotot ke arah Irgi, 'Orang ini bahas umur terus sejak kemarin. Kalau bukan teman Pak Ayash sudah saya hajar dia.' batin Egi.
"Hehehe... Sabar, Egi, sabar... aku cuma bercanda."
"Pak, kenapa Anda berbohong memakai nama Bapak Ayash?" Egi mengalihkan topik pembicaraan.
"Bayu belum mengenalku. Kemungkinan dia tidak akan mau bertemu jika memakai namaku. Jika aku memakai nama Ayash, dia pasti akan penasaran untuk melihat sendiri, apakah benar orang yang sudah ia celakai bisa datang ke sini."
__ADS_1
"Wah, tenyata Anda hebat bersandiwara, ya."