
Raeka bergelayut manja di lengan Irgi. Hari ini rasanya ia sangat bahagia karena bisa ditemani belanja oleh pacar tercintanya. Selama 3 jam ia berkeliling mall membeli banyak barang dan Irgi terus berada di sampingnya tanpa protes. Yang lebih menyenangkan, Irgi membayar semua belanjaan dan membantu membawa tas belanjanya.
Sesekali matanya melotot ketika ada cewek-cewek yang melirik ke arah Irgi. Ia kesal sekali pacarnya yang tampan selalu jadi pusat perhatian jika diajak keluar.
'Dasar cewek-cewek tidak tahu diri! Nggak bisa lihat apa, aku ada di sampingnya.' batin Raeka. Ia semakin mempererat pelukannya. Ia ingin semua orang tahu bahwa Irgi adalah pacarnya, miliknya seorang.
"Kamu mau beli apa lagi?" tanya Irgi yang mengira gelayutan manja Raeka karena sedang merajuk meminta belanja lagi.
"Sudah, aku tidak ingin belanja lagi."
"Kalau begitu aku antar pulang, ya."
Raeka mengangguk. Mereka berjalan menuju basement tempat mobil Irgi terparkir. Sesampainya di basement, Irgi langsung menaruh belanjaan Raeka di bagasi kobil. Sementara Raeka sudah masuk dan duduk di kursi samping kemudi.
Irgi menyusul Raeka. Ia menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya.
"Sayang, kalau pergi-pergi lebih baik pakai masker, deh." pinta Raeka.
"Kenapa? Memangnya aku artis perlu pakai masker segala." balas Irgi dengan tetap fokus pada kemudinya.
"Tapi wajahmu memang mirip artis. Cewek-cewek sampai nggak berkedip melirik kamu." Raeka menunjukkan raut kesal.
Irgi tersenyum, "Ya nggak apa-apa, artinya aku ganteng. Kalau aku nggak ganteng, apa mau kamu sama aku?"
"Aku suka kamu apa adanya, kok. Aku suka kamu karena aku nyaman sama kamu."
Irgi tertawa, ia teringat masa-masa saat ia SMP. "Kalau kamu mengenalku saat SMP, aku nggak yakin kamu mau jadi pacarku."
Raeka menatap intens ke arah Irgi yang masih fokus dengan kemudinya. Seakan ia penasaran dengan cerita Irgi.
"Waktu SMP, aku sangat culun, cupu, kuper, dan nggak punya teman. Kamu pasti nggak percaya, kan?"
Raeka menggeleng. Ia mengenal Irgi saat SMA. Setahu dia, Irgi salah satu cowok tampan dan populer di sekolah selain Ayash tentunya.
"Teman-teman SMP mungkin nggak akan ingat kalau pernah ada aku di sekolah. Aku hampir nggak punya teman. Temanku cuma satu, kamu tahu kan, siapa? Cuma Prita yang mau berteman denganku. Saat SMP dia populer, lho."
Raeka manyun mendengar Irgi memuji Prita.
"Aku bisa seperti ini juga karena Prita. Aku jadi percaya diri, pandai bergaul, dan punya banyak teman. Dan yang lebih membuatku bahagia, aku bisa berpacaran dengan gadis tercantik di sekolah seperti dirimu."
Pipi Raeka memerah mendengar pujian Irgi. Kekesalannya seketika hilang.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar tidak pernah mencintai Prita?"
"Mmm... aku tidak tahu. Aku mengaguminya karena dia pernah menjadi satu-satunya orang yang peduli padaku."
"Apa kamu lebih menyayanginya dari aku?"
"Aku menyayanginya seperti aku menyayangimu. Kalian berdua sama-sama berarti untukku. Kenapa kamu membanding-bandingkan?"
"Aku cemburu. Kenapa kamu begitu peduli dengan wanita lain yang tidak ada hubungan darah denganmu? Kalau dia adik kandungmu, mungkin aku akan bisa menerima. Tapi dia orang lain."
"Kamu kan sudah tahu, Prita itu seperti keluargaku sendiri. Bagaimana bisa aku tidak peduli dengannya? Aku pernah merasakan bagaimana rasanya tidak dipedulikan orang."
"Kalau kamu mencintaiku, seharusnya kamu belajar mencintai orang-orang yang aku sayangi."
"Iya, iya. Maafkan aku. Aku selalu merasa punya saingan jika membicarakan tentang Prita."
"Hahaha... Kamu tidak perlu cemburu. Aku dan Prita tidak mungkin pacaran. Dia hanya mencintai Ayash. Dan aku hanya mencintaimu."
"Perhatianmu kepadanya seperti orang pacaran." guman Raeka.
Ckitt!
"Astaga... jantungku hampir copot." keluh Raeka.
"Aku juga terkejut dengan ucapanmu. Katanya, perhatianku kepada Prita seperti orang pacaran?"
"Ya... memang seperti itu." jawab Raeka memanyunkan bibirnya.
Irgi melepas seatbelt, "Apa aku pernah seperti ini kepada Prita?"
Tiba-tiba Irgi meraih tengkuk Raeka dan mendaratkan ciuman agresif ke bibirnya. Raeka sangat terkejut mendapat perlakuan Irgi. Sejurus kemudian, ia ikut menikmati ciuman keintiman yang Irgi berikan. Bibir mereka saling mencecapi. Sesekali lidah mereka bertautan hingga terdengar nafas yang tersengal. Raeka terhanyut dan hampir melayang.
"Hanya kamu pacarku." bisik Irgi setelah melepas ciumannya.
Irgi membantu melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuh Raeka. Wajah Raeka masih merona karena mendapat ciuman mendadak. Dia bahagia sekali.
"Sayang, kamu mampir dulu ya di apartemenku. Aku sudah menyuruh bibi untuk menyiapkan makan siang untuk kita." pinta Raeka.
"Ah, maaf, ya. Aku tidak bisa. Setelah ini aku ada janji dengan orang."
"Siapa?"
__ADS_1
"Jimmy Marshall."
"Pemilik hotel Cassanova?"
"Iya."
"Ada urusan apa menemuinya?" Raeka bertanya karena merasa aneh. Irgi tidak pernah kenal Jimmy Marshall sebelumnya.
Irgi menghela nafas, "Prita hilang."
"Hah! Apa? Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Kapan-kapan aku ceritakan."
"Aa... apa Jimmy yang menculiknya?" Raeka kaget dan kebingungan.
"Stt... nanti saja aku jelaskan. Ayash juga sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Kalau kamu mau menjenguknya, dia ada di Rumah Sakit Harapan Kita Paviliun Anggrek nomor 27."
Irgi membuka pintu sampingnya dan membuka bagasi mobil. Prita yang masih tercengang ikut turun menghampiri Irgi.
"Kenapa Ayash bisa ada di rumah sakit? Kenapa orang songong itu?" Raeka sangat penasaran.
Irgi menurunkan tas belanja Raeka, "Sayang... nanti aku ceritakan semua. Aku hampir telat ini."
"Ttapi... baru kemarin kita main bareng mereka di taman hiburan. Ini nggak masuk akal."
Irgi menyerahkan tas belanja kepada Raeka, "Sayang, maaf ya, aku tidak bisa mengantar sampai ke dalam. Aku buru-buru."
Cup
Irgi mendaratkan ciuman singkat di bibir Raeka sebelum akhirnya ia masuk mobil dan berlalu pergi. Raeka masih mematung di tempatnya. Ia sekarang ada di depan bangunan hotel D'Savior. Ya, itu adalah hotel milik ayah Raeka. Selain hotel, kawasan itu juga memiliki dua tower yang dijadikan apartemen. Raeka tinggal di salah satu apartemen milik ayahnya itu.
Raeka memandangi tas belanjaannya. Sangat banyak. Sewaktu belanja ia tak merasa kerepotan karena Irgi dengan senang hati membawakannya. Tapi setelah ditinggal Irgi, ia rasa tidak akan bisa membawa belasan tas belanjanya sendiri.
Sedikit kesal ia dengan perlakuan Irgi yang tak mau mengantar sampai apartemennya. Ia jadi kerepotan dengan belanjaannya. Tapi, mengingat ia sudah mendapat ciuman manis, ia memaafkan Irgi.
Prita mengambil ponsel di tas selempangnya. Ia menekan nomor seseorang.
"Halo, Bibi... tolong turun ke depan hotel ya. Bantu aku membawa barang belanjaan."
Tut
__ADS_1