ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Hari Keberangkatan


__ADS_3

Bayu baru keluar dari ruangan Prita. Pandangannya sempat bertemu dengan Geri, salah satu karyawan yang ada di lantai atas. Dengan cuek ia kembali berjalan menuruni satu persatu anak tangga.


Ia hanya menyunggingkan senyum saat karyawan-karyawan di bawah juga keheranan melihat orang tak dikenal turun dari lantai atas. Tampak jelas mereka berbisik-bisik membahas tentang dirinya. Sayang sekali dia tak punya banyak waktu untuk lanjut bermain-main.


"Bos lama sekali."


Seorang pria berpakaian hitam duduk di balik kemudi mobil yang terparkir di depan kafe milik Prita. Sesekali ia memandangi jam tangan yang mrlingkar di tangan kirinya. Mereka seperti sedang diburu-buru waktu.


"Paling sebentar lagi keluar. Santai saja." sahut lelaki yang duduk di sebelahnya. Lelaki itu usianya terlihat masih muda. Ia sibuk bermain game online di ponselnya.


"Santai kepalamu! Ini kita berangkat naik pesawat waktunya sudah sangat mepet. Kalau terlambat pasti aku yang kena."


"Resiko pekerjaan, Bang. Sabar. Hahaha.... "


"Ngapain sih pakai acara mampir segala ke kafe yang masih tutup. Sudah tahu hari ini jadwal keberangkatan."


"Kamu nggak tahu?"


"Tahu apa?"


"Pemilik kafe ini pacarnya Bos."


"Hah, memangnya Bos punya pacar? Sok tahu!"


"Sepertinya yang tidak tahu apa-apa itu malah kamu."


"Bos kan tinggal di Kota J, kok bisa pacarnya ada di sini?"


"Bisa saja, kan? Terserah Bos kalau mau punya pacar di mana-mana. Itu juga bukan urusan kita. Yang jelas, pemilik kafe ini pacar Bos. Aku sudah sebulanan disuruh mencari tahu keberadaannya."


"Oh ternyata kamu ada gunanya juga. Aku kira kerjaanmu hanya main game saja."


"Hahaha... level kita berbeda. Aku kerja pakai otak, bukan pakai tenaga."


Klek


Terdengar suara pintu mobil di buka. Obrolan mereka seketika terhenti ketika Bayu telah duduk di bangku belakang mereka.


"Jalan!" perintah Bayu.


Sang sopir langsung menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya berbaur dengan kendaraan lain yang ada di jalanan.


"Lebih cepat jalannya, Glen sudah berkali-kali menelepon. Jangan sampai kita terlambat."


"Baik, Bos." jawab sang sopir. Meskipun dalam hatinya terasa kesal, namun ia tak berani protes. Bosnya sendiri yang mendadak menghilang padahal sudah jadwalnya berangkat tapi tetap dia yang kena getahnya.

__ADS_1


"Alex, tetap awasi dia selama aku tidak ada."


"Baik, Bos."


"Jangan lakukan apapun tanpa perintahku. Kamu hanya perlu melihat dari jauh saja saat aku minta."


"Siap."


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya. Mereka benar-benar sedang diburu waktu. Bunyi klakson dari kendaraan lain yang marah dengan ulah mereka sama sekali tak dihiraukan.


Setelah tiga puluh menit berlalu bersama sopir yang mendadak jadi pembalap, akhirnya mereka sampai di bandara. Ben sudah ada di depan pintu masuk bandara untuk penumpang VIP.


"Kita langsung masuk ke pesawat, Bos. Sudah waktunya boarding."


"Oke."


Ben dan Bayu berjalan dengan langkah cepat.


"Dimana yang lain?"


"Sudah saya suruh naik lebih dulu ke pesawat."


"Barang-barang kita?"


"Baguslah. Jangan sampai lalai sedikitpun. Tugas kali ini akan sangat berbahaya kalau sampai diketahui pihak berwajib. Kita akan dianggap pro pemberontak."


"Akan saya pantau terus anak buah kita di dermaga."


Seorang pramugari menyambut mereka di pintu masuk pesawat dan mempersilakan masuk ke bagian bisnis class.


Memasuki pesawat, telah ada sepuluh orang anak buah yang akan ikut ke Pulau P. Ben membooking bisnis class pesawat untuk rombongannya.


Bayu mengambil tempat duduk dekat jendela, sementara Ben di sebelahnya. Ia menghela nafas. Misi kali ini akan memakan waktu cukup lama dan beresiko. Ia akan berusaha menyelesaikan secepatnya agar bisa segera membawa Prita kembali.


"Berapa lama penerbangan ini, Ben?"


"Sekitar 5 jam."


"Cukup lama juga. Tolong kamu beri tahu garis besar rencana kita kali ini yang sudah kamu siapkan."


"Tengah malam nanti barang kita akan tiba di pelabuhan. Ada lima orang anak buah kita yang terus memantau di sana dan melaporkan kepada kita."


"Kenapa sedikit sekali orang yang kamu tempatkan di sana, Ben. Barang kita cukup banyak."


"Saya rasa kalau terlalu banyak orang yang kita kerahkan justru akan menimbulkan kecurigaan petugas keamanan."

__ADS_1


"Ya, semoga saja kita bisa tiba lebih dulu sebelum bongkar muat kapal. Aku sedikit cemas karena barang hanya dikirim dalam peti kayu. Kalau ada yang curiga lalu membukanya, tamatlah sudah kita semua."


"Anda tidak perlu cemas. Tengah malam tidak ada pemeriksaan yang berarti di pelabuhan."


"Apapun bisa terjadi. Kita harus tetap berhati-hati. Apalagi kita akan melewati perjalanan darat yang panjang menuju daerah konflik. Butuh waktu sekitar 3 hari perjalanan darat sampai di kawasan pegunungan, kan? Sepertinya akses juga tak terlalu bagus. Hah! Aku sangat kesal kalau tidak ada jaringan seluler."


"Pastikan barang kita nanti aman. Kali ini pakai truk pasir saja untuk melakukan kamuflase. Taruh senjata di dasar truk, kemudian timbun dengan pasir. Aku rasa anjing pelacak juga tak akan tahu. Aku tidak setuju kalau tetap membawanya dalam peti begitu saja. Pokoknya kamu harus persiapkan beberapa truk pengangkut pasir dan ijinnya."


"Iya, bos. Sampai di sana akan saya persiapkan semuanya."


Bayu menoleh ke samping kaca, memandangi gumpalan awan yang sejajar dengan dirinya. Tampak lembut dan empuk seperti gulali.


"Bagaimana dengan Nona Prita? Apa bos sudah bertemu dengannya?"


Bayu menyunggingkan senyum, "Tentu saja, Ben. Kamu pasti kesal sekali padaku hari ini. Kita hampir telat karena tiba-tiba aku menghilang. Bagaimana kamu tahu kalau aku menemui Prita?"


"Anda meminta rute perjalanan kita dari Kota J singgah sebentar ke Kota S, tentu saja saya tahu kalau Bos ingin menemui Nona Prita."


"Dia cantik sekali saat kutemui. Badannya sedikit lebih berisi dari terakhir kali bersamaku. Mungkin makannya lebih lahap karena jauh dariku. Hahaha.... "


"Aku selalu membayangkan ingin membawanya setiap melakukan tugas dari ayahku. Apa nanti akan menyenangkan jika bekerja membawa serta wanita yang aku cintai."


"Saya rasa Nona Prita akan mati berdiri jika Bos melakukannya."


"Hahaha... aku tidak sepaham denganmu, Ben. Dia akan semakin bergantung padaku jika dihadapkan pada situasi yang sulit. Aku sangat menantikan saat-saat ia memelukku karena takut mendengar suara tembakan. Pasti aku akan lebih semangat menjalankan pekerjaan semacam ini."


Ben menepuk kepalanya. Sepertinya pikiran bosnya sedikit terganggu.


"Anda pikir pekerjaan kita sejenis film action romantis, Bos? Tidak ada adegan percintaan di area adu tembakan."


"Hahaha... aku hanya bercanda, Ben. Tapi aku juga memimpikannya. Mungkin aku akan mengajari Prita memegang senjata dan melatih beladiri dasar padanya agar bisa aku bawa pergi melakukan misi."


"Sepertinya Nona Prita terlalu lembut untuk melakukan semua itu."


"Kamu pikir aku dulu sekeras ini? Aku jadi seperti ini juga karena didikan ayahku. Prita juga sama. Setidaknya dia harus bisa melindungi diri sendiri. Apalagi jika harus bersanding denganku."


*****


"Hoek... hoek... hoek.... "


Prita memuntahkan isi perutnya pada wastafel cuci tangan yang ada di ruangannya. Kepalanya terasa pusing, nafasnya terengah-engah karena sejak tadi ia belum berhenti muntah. Tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga.


Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, ia menuliskan pesan kepada Ayash agar menjemputnya kembali di kafe. Ia tahu Ayash baru saja pergi untuk melihat gedung pernikahan mereka. Namun, kondisi badannya sangat tidak nyaman. Ia butuh seseorang untuk bersandar.


Pikirannya sedang terganggu. Prita kembali stres dengan kedatangan Bayu yang sama sekali tidak ia duga. Perutnya langsung berkontraksi setelah Bayu meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2