
Prita menggeliat di atas ranjangnya. Matanya perlahan terbuka setelah melewati tidur semalam. Ditengoknya ke arah samping, kosong. Bayu sudah pergi tanpa ia tahu. Padahal jam baru menunjukkan pukul 06.00 pagi. Bayu memang tak dapat ditebak, kapan ia pergi dan kembali.
Prita beranjak dari ranjang, berjalan ke arah balkon. Disibakkannya tirai tebal berwarna coklat yang menutupi jendela kamarnya. Cahaya matahari sudah mulai tampak menyinari. Pagi ini cuaca cerah.
Wanita muda itu menyenderkan kepalanya di sisi jendela. Pandangannya kosong menerawang jauh ke arah pusat Kota J. Pikirannya berkelana, menampilkan sosok kekasih yang sangat dicintainya. Padahal belum genap sebulan tidak bertemu, tetapi rasanya sudah sangat lama. Bahkan, rasanya ia tak bisa kembali lagi.
Flash back peristiwa selama sebulan ini seperti diputar ulang secara otomatis layaknya sebuah film. Berbagai kenangan indah, menyebalkan, hingga menyedihkan silih berganti terbayang di pikirannya.
Tanpa sadar air matanya meleleh. Ia kembali merasa hidupnya sudah tidak berharga. Kebebasannya telah direnggut oleh orang asing bernama Bayu yang tiba-tiba saja hadir dalam hidupnya. Menolong Bayu saat malam itu adalah penyesalan terbesar baginya.
*****
Ayash berjalan tergesa-gesa memasuki sebuah kantor sepuluh lantai di pusat perkantoran Kota J. Wajahnya tampak tegang, pandangan matanya tajam berapi-api.
Ya, saat ini ia tengah memasuki kantor milik kakaknya, Arga Hartadi. Dari semalam ia ingin sekali menjumpai kakaknya itu. Bukan untuk melepas rindu sekian lama tak bertemu. Tapi untuk meminta penjelasan tentang semua peristiwa yang belum lama ini menimpanya.
Bagaimana bisa seorang kakak ingin menghabisi adiknya sendiri? Benar-benar tidak masuk akal.
Selama ini, ia menganggap Arga sebagai kakak panutan. Kakaknya itu orang yang cerdas dan rajin belajar. Dia juga selalu bersikap baik padanya, meskipun tak terlalu menyukai ibunya. Sejak kecil hingga besar, tak pernah Arga mengabaikannya. Mereka kerap bermain bersama layaknya kakak adik biasa. Bahkan, Arga sering mengalah ketika ia meminta mainannya.
Seharusnya ia masih berkutat dengan pekerjaan di Pulau S. Namun, setelah memutar video Prita, ia sama sekali tak bisa fokus pada pekerjaannya. Akhirnya, ia mempersingkat pembahasan proyek dan meninggalkan sisanya kepada tim. Sementara , ia langsung kembali ke Kota J.
Disinilah ia sekarang - PT Argasindo Karya - milik kakaknya. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor, sama dengan perusahaan Ayash namun sudah lebih besar dan berkembang.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" seorang resepsionis menyambutnya di lobi.
"Apa Bapak Arga ada?" Ayash mencoba berbicara tanpa emosi.
"Mohon maaf, boleh kami tahu identitas dan keperluan Bapak untuk bertemu dengan Pak Arga? Atau mungkin sudah membuat janji sebelumnya?"
"Saya adiknya, Ayash Hartadi. Apa kamu karyawan baru? Saya sering dagang kemari."
Agaknya resepsionis itu sedikit terkejut karena ia memang karyawan baru di sana. "Ah, maafkan saya. Pak Arga ada di ruangannya. Apa perlu saya panggilkan security untuk mengantarkan Bapak?"
"Tidak perlu, saya bisa sendiri." Ayash melemparkan senyuman sebelum beranjak ke arah lift yang terletak di sebelah resepsionis.
Ting
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Ayash masuk dan menekan tombol 9, lantai di mana kakaknya biasa bekerja. Ayash tahu karena memang saat kuliah dia sering main ke kantor kakaknya. Sedikit banyak usahanya sekarang juga tak lepas dari ajaran kakaknya.
Ting
Pintu lift terbuka. Ayash meneruskan langkah lurus ke arah pintu di depannya. Amarah dalam matanya kembali berkobar.
Ceklek!
"Siapa?" Arga memutar kursi kerjanya saat mendengar suara pintu terbuka.
Ia mengerutkan kening, kemudian membelalakan mata melihat sosok yang kini berdiri di ambang pintu.
"Ayash...!" serunya. Ia segera bangkit dari kursi nyamannya menjumpai adik yang sudah beberapa lama tak ia jumpai.
"Hey, kenapa datang tidak mengabari dulu?" tanyanya antusias.
Bugh!
Bukannya menjawab pertanyaan kakaknya, Ayash justru melayangkan satu tinju ke arah Arga.
Arga tampak kaget. Adiknya tiba-tiba datang lalu memukulnya. Ia mengusap sudut bibirnya, ada sedikit darah di sana. Arga terkekeh, "Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba memukulku?"
Ayash mencengkeram kerah leher kakaknya. Matanya menatap nyalang kepada orang yang ternyata selama ini berusaha mencelakainya. "Jangan pura-pura bodoh, bangsat!"
Bugh! Bugh! Bugh!
Ayash terus memukul dan melayangkan tendangan hingga Arga jatuh tersungkur ke lantai. Ia melampiaskan segala emosinya dengan pukulan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Apa-apaan sih? Hah!" Arga menjadi geram dengan tingkah adiknya.
Bugh!
Ia melayangkan satu pukulan yang seketika membuat Ayash menghentikan aksinya.
"Kamu ini kenapa? Tiba-tiba datang main pukul. Aku salah apa?" Arga bangkit seraya merapikan kembali pakaiannya. Diusapnya beberapa bagian wajah yang sampai lecet berdarah karena ulah adiknya.
"Kak... jangan pura-pura tidak tahu." sorot mata Ayash tajam.
__ADS_1
Arga menghela nafas, "Berpura-pura soal apa? Kita saja sudah beberapa bulan tidak bertemu kenapa datang langsung marah-marah?"
"Kenapa kakak ingin mencelakaiku?"
Mendengar ucapan Ayash, Arga mengernyitkan dahi. "Hahaha... mencelakai bagaimana? Kamu ada-ada saja." Arga terkekeh.
Ayash langsung maju kembali mencengkeram kerah leher kakaknya. Arga menahan tangan adiknya.
"Jangan pura-pura tidak tahu apapun! Kakak sering menyuruh orang untuk mencelakaiku, kan? Terakhir kali, tiga minggu yang lalu Kakak menyuruh Tiger King untuk membunuhku. Tapi aku tidak sampai mati walaupun harus terbaring hampir 2 minggu di rumah sakit. Katakan Kak, kenapa kamu ingin membunuh adikmu sendiri? Kenapa!?" nada bicara Ayash meninggi.
Arga menghempas kasar tangan adiknya hingga terlepas. Ia berjalan mundur beberapa langkah dari adiknya sembari membenarkan posisi dasi yang tergeser.
"Adik? Hahaha... aku sampai lupa kalau kamu belum tahu cerita yang sebenarnya."
Arga mengambil sebatang rokok di atas meja, menyalakan dengan pemantik dan mulai menghisapnya. Tampak Ayash masih berdiri di depannya dengan tatapan mata penuh kemarahan.
"Ketahuilah... kita bukan saudara kandung. Kamu bukan adikku. Ibumu datang merayu ayahku saat tengah mengandungmu. Kemudian ibuku kecelakaan dan tidak lama setelah itu mereka menikah."
Ayash membelalakan mata. Ia belum bisa mempercayai ucapan kakaknya.
"Reonal Hartadi bukan ayah kandungmu. Anaknya hanya satu: Arga Hartadi. Jangan berharap kamu bisa menguasai harta keluarga Hartadi selama aku hidup. Kalau ingin membangun bisnis, mulai sendiri dari nol. Aku rasa ilmu yang sudah aku dan papa berikan sudah cukup untukmu mandiri." Arga meneruskan hisapan rokoknya.
"Aku tahu kamu anak yang baik. Makanya aku sangat menyayangimu. Sampai akhirnya papa begitu mudahnya memberikan perusahaan pertamanya padamu... Waouw! Ternyata ibumu yang murahan itu gampang sekali mempengaruhi papa. Apa jangan-jangan kalian bersekongkol untuk merebut semuanya?"
Amarah Ayash kembali meluap mendengar ibunya dihina. Namun, ketika ia hendak memukul Arga, tangannya dihentikan oleh Glen yang tiba-tiba saja muncul. Glen menjadi penengah di antara keduanya.
"Papa yang mempercayakan perusahaan itu padaku, kenapa aku dan ibuku yang kakak benci? Tanyakan sendiri kepada papa, kenapa dia mau memberikan perusahaan itu padaku?"
Ayash tetap berusaha maju meskipun Glen menghalanginya. Sementara, Arga tetap melanjutkan kegiatannya menghisap rokok dengan santainya.
"Dan kenapa Kakak sampai ingin membunuhku hanya karena perusahaan kecil?"
"Cih! Kecil katamu? Sekecil apapun itu, aku tidak sudi harta kekayaan keluarga Hartadi jatuh ke tangan orang yang sudah menghancurkan keluargaku. Selama kamu masih menduduki perusahaan itu, aku akan terus menganggapmu musuh, bukan adik."
"Kalau Kakak bukan pengecut, bunuh aku dengan tanganmu sendiri. Tak perlu lagi meminjam tangan orang lain!"
"Glen, usir dia dari sini. Pastikan jangan sampai dia menginjakkan kaki lagi di kantor ini!"
__ADS_1
"Tidak perlu!" sergah Ayash. "Aku bisa keluar sendiri."