
Siang itu Raya sedang membereskan meja kerjanya di sekolah. Suasana sudah lengang karena murid-muridnya sudah pulang. Tinggal ia sendiri yang ada di sana.
Raya berdecih. Entah mengapa Bu Retno belum juga mencari guru pengganti setelah memecat Prita. Tugasnya sekarang semakin berat harus mengurus satu kelas sendiri. Biasanya, ia akan membagi tugas dengan Prita.
Raya merebahkan punggungnya di meja kerja. Tangannya menggapai frame foto kecil yang menampakkan potret dirinya dan Prita.
"Huh! Kamu pasti bahagia banget sekarang jadi pengusaha, bisa kerja sambil jalan-jalan ke luar negeri pula. Sampai lupa memberi kabar padaku."
Raya berbicara sendiri dengan foto Prita, seolah ia sedang memarahi Prita secara langsung. Raya kesal. Hampir satu bulan Prita tak memberi kabar apapun padanya. Ponselnya pun tidak aktif.
Ia sering mampir ke kafe Prita, namun karyawannya selalu mengatakan Prita sedang mengurus bisnis di luar negeri. Tak puas dengan jawaban mereka, Raya pernah bertanya langsung pada Ayash. Jawaban yang sama kembali ia peroleh, bahwa Prita ada di luar negeri.
Raya iri sekali dengan Prita. Setelah dipecat jadi guru, berhenti dari restoran, ia sukses mengurus kafenya. Bahkan sekarang, ia bisa jalan-jalan begitu lama di luar negeri. Raya juga ingin sekali pergi ke luar negeri. Tapi apa daya, ia hanya seorang guru TK yayasan. Gajinya hanya cukup untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.
"Ah... seandainya aku punya pacar pengusaha sepertimu, Ta. Tapi bagaimana bisa aku punya pacar pengusaha? Circle pergaulanku cuma sebatas rekan guru TK. Rata-rata wanita pula. Kalau ada guru TK cowok, paling hanya satu dua orang. Dan biasanya sudah sold out. Huhuhu.... "
Tok tok tok
"Ya Tuhan!" pekik Raya.
Tubuhnya langsung tegak ketika mendengar suara ketukan. Tampak Mario berdiri di ambang pintu.
Raya tercengang melihat kedatangan Mario. Sudah lama anak ibu kepala sekolah itu tidak mampir ke sekolah. Tepatnya setelah ribut dengan Prita dulu.
Kini, lelaki itu tiba-tiba datang mengagetkan Raya. Apalagi dengan kondisinya yang tampak tidak terlalu baik. Wajahnya memar dan banyak perban di sana sini.
"Boleh masuk?" tanya Mario yang sedari tadi tak mendapat respon dari Raya. Wanita itu malah hanya bengong melihat kedatangannya.
"Eh, iya. Maaf, maaf. Ayo masuk." pinta Raya.
Mario langsung masuk dan duduk di hadapan Raya.
"Kamu kenapa, Yo? Lama nggak ketemu kok tiba-tiba datang seperti maling habis dikeroyok warga."
__ADS_1
"Ah, ini. Lupakan saja. Biasa, masalah lelaki. Sesekali ribut itu biasa." kilah Mario.
"Kamu kesini mau apa? Bu Retno sudah pulang."
"Ya, aku tahu. Aku memang sengaja kesini mau bertemu kamu."
"Tumben... biasanya main ke sekolah yang dicari Prita." sindir Raya.
"Prita kan sudah berhenti."
"Gara-gara kamu, kan! Sikap kamu kurang ajar banget jadi cowok. Ibu kamu juga. Yang salah kamu, kenapa malah Prita yang dipecat coba?" Raya mulai berbicara dengan nada ketus.
"Namanya juga cinta, Ray."
"Cinta kok maksa!"
"Cara orang mengekspresikan cinta kan beda-beda, Ray. Kelakuanku pada Prita yang seperti itu saja ada yang lebih parah dariku kalau kamu mau tahu."
Raya mengernyitkan dahi, "Hah, lebih parah darimu? Maksudnya apa?" muncul rasa penasaran di hati Raya.
"Ngapain tanya-tanya?"
"Ingin tahu saja."
"Prita sekarang ada di luar negeri. Sibuk mengurusi bisnisnya."
"Oh.... "
Mario jadi tahu, ternyata keberadaan Prita disembunyikan dari Raya. Ayash memang bijaksana. Berurusan dengan Bayu bukanlah suatu perkara yanh mudah. Makin banyak orang yang terlibat, makin banyak cara yang bisa Bayu gunakan untuk mengancam. Karena, ia pasti mengancam Prita dengan keselamatan orang terdekatnya agar wanita itu mau menurut padanya.
Mario bergidig jika mengingat urusannya dengan Bayu. Padahal, ia tidak secara langsung berurusan dengan mafia kejam itu. Tapi, karena orang yang ia cintai merupakan incaran Bayu, mau tak mau ia ikut kena imbasnya. Apalagi dia sudah berani menyuruh anggota Kalong Merah untuk kepentingannya.
Ketua geng Kalong Merah merupakan teman dekat Mario. Mereka sering minum-minum bersama di tempat hiburan. Suatu waktu ia sempat meminta bantuan kepadanya untuk menculik Prita. Namun, aksinya justru ketahuan oleh Bayu, yang kini menjadi bos Kalong Merah karena sudah bergabung dengan Tiger King.
__ADS_1
Bayu yang tak terima wanita incarannya ternyata juga diincar pria lain, akhirnya berhasil menyeret Mario masuk ruang penyiksaan di mansionnya.
Luka-luka di wajah Mario tak sebanding dengan bekas luka yang ia terima selama dikurung di mansion Bayu. Hampir setiap hari ia dicambuk oleh dua penjaga yang ada di sana. Bahkan, bekas cambukan itu masih belum sepenuhnya mengering.
Mario sengaja mengenakan celana panjang dan baju panjang untuk menutupi luka-luka di tubuhnya. Itu bisa membuat ibunya dan orang yang melihat tidak terlalu tercengang dengannya.
Saat pulang ke rumah, Bu Retno sangat panik melihat kepulangannya dengan wajah babak belur. Ia berkilah hanya terjadi perkelahian biasa saja. Mana mungkin ia mengataka yang sebenarnya. Memperpanjang urusan dengan Bayu hanya akan menambah kesengsaraan hidupnya.
Mario bertekad untuk menyembunyikan apa yang dialaminya. Ia akan berusaha melupakan dan menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Ia juga akan melupakan Prita. Cintanya kepada Prita sangat beresiko baginya. Ia tak mau hidup tenangny terampas lagi.
"Heh! Kok bengong?"
Bentakan Raya membuatnya tersadar dari lamunan. Sedari tadi Mario sibuk mengingat penderitaannya selama ditahan di mansion. Kesakitan itu masih bisa ia ingat jelas.
"Sebenarnya kamu ke sini mau apa?" tanya Raya lagi.
"Aku disuruh ibu mengambil laporan keuangan sekolah, Ray. Katanya mau diteliti lagi di rumah."
"Oh, itu. Tunggu sebentar, ya."
Raya bergegas bangkit dari duduknya. Pandangan mata Mario mengikuti arah gerak Raya yang kini telah berpindah ke sudut ruangan. Wanita itu membuka lemari tempat menyimpan banyak berkas.
Entah apa saja berkas yang ada di lemari yang tampak penuh itu. Raya terlihat sibuk mencari-cari dokumen yang Bu Retno maksud.
Tak berselang lama, Raya sudah kembali membawa satu buku bersampul merah. Ia memberikannya kepada Mario.
"Ini buku laporannya."
"Terima kasih, Ray." ucap Mario seraya menerima buku yang diberikan Prita.
"Iya, sama-sama." jawab Raya ketus.
Entah mengapa Raya sudah tidak bisa bersikap ramah lagi kepada Mario yang notabene adalah anak kepala sekolahnya sendiri. Dulu, setiap kali Mario datang, ia menyambutnya dengan ramah. Ia dengan senang hati membantu Mario pendekatan dengan Prita walaupun hanya sebagai obat nyamuk saat jalan bertiga.
__ADS_1
Semenjak mendengar kabar Mario pernah akan melecehkan Prita, Raya jadi kesal. Ia juga kesal dengan sikap Bu Retno yang selalu membela anaknya padahal dia bersalah. Raya tak peduli lagi walaupun nanti harus dipecat juga oleh Bu retno.
*****