
Rapat baru saja selesai. Ayash masih terduduk di tempatnya sambil membaca data pada layar tablet miliknya. Bosan membaca data, ia beralih membuka galeri foto yang dipenuhi oleh potret dirinya dan kekasihnya, Prita. Sesekali ia tersenyum, teringat momen-momen indah yang pernah mereka lewati. Wanita itu sudah ia kenal sejak delapan tahun lalu. Ya, sejak SMA mereka telah bersahabat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan hubungan mereka sangat dekat layaknya keluarga. Saat kedua orang tua Prita meninggal, ia juga merasakan sakit dan kehilangan yang mendalam.
Sebenarnya dulu mereka berencana ingin kuliah bareng di Singapura bersama Irgi, sahabat mereka. Namun, karena mendadak orang tua Prita meninggal, Prita mengurungkan niatnya untuk kuliah. Irgi dan dirinya sudah membujuk Prita agar tetap melanjutkan kuliah dengan bantuan biaya dari mereka, namun wanita itu menolak. Prita tipe orang yang tidak mau merepotkan orang lain, apalagi mendapat belas kasihan.
Akhirnya, hanya Irgi yang melanjutkan kuliah di Singapura. Sementara, Ayash memilih kuliah di Indonesia saja. Meskipun kuliah di luar kota, setidaknya ia mudah untuk sesekali mengunjungi Prita. Ya, saat itu dia sudah menyukai Prita. Dia tidak tega meninggalkannya sendiri. Karena, dua sahabatnya yang lain yaitu Vino dan Andin memutuskan untuk kuliah di Amerika Serikat.
Setiap bulan Ayash menyempatkan pulang ke kotanya demi menemui Prita, demi meyakinkan Prita bahwa dia tidak sendiri, masih ada Ayash yang peduli kepadanya. Terkadang, ia merasa sedih melihat Prita harus bekerja keras seharian. Pagi hingga siang Prita bekerja di sekolah dan sore hingga malam masih harus bekerja di restoran sebagai tukang cuci piring. Padahal, Prita bukanlah anak yang berasal dari keluarga yang kekurangan.
Kehidupan keluarga Prita sebelumnya bisa dikatakan cukup mapan. Buktinya, mereka bisa bersahabat dan bersekolah di SMA Swasta yang cukup elit. Mereka berlima adalah anak pengusaha. Tapi, semenjak orangtuanya meninggal, kehidupan Prita berbalik 180 derajat. Pekerjaannya saat ini tidak mencerminkan bahwa dulunya dia adalah seorang anak pengusaha. Namun, sepertinya Prita tetap bahagia dengan pilihan hidupnya. Dari dulu memang dia bukan tipe anak yang manja. Dia sangat mandiri dan pintar. Hal itulah yang membuat Ayash semakin kagum dengan sosok Prita.
Dua tahun setelah kematian orang tua Prita, Ayash memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. Dia mengatakan bahwa selama ini mencintai wanita itu. Dan, ternyata, Prita memiliki perasaan yang sama padanya. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk berpacaran. Ya, mereka LDR selama pacaran karena Ayash masih harus menyelesaikan kuliahnya.
Sejak memutuskan untuk berpacaran, Ayash bertekad akan bekerja keras agar menjadi orang yang sukses dan dapat mengajak Prita hidup berbahagia dengannya. Dia ingin sekali melindungi dan menyayangi wanita itu.
“Pak… “ sapaan lirih Egi membuyarkan lamunan Ayash. “Sudah waktunya kita berangkat ke acara perjamuan makan di Hotel Cassanova. Sopir sudah menunggu di bawah.” Lanjutnya.
“Ah, iya. Ayo kita berangkat!”
Ayash langsung mematikan tabletnya dan berjalan mengikuti sekertarisnya itu. Di halaman depan kantor sudah ada mobil Alphard yang siap mengantarnya. Egi duduk di samping sopir, sementara Ayash duduk di kursi belakang. Mobil segera melaju menuju tempat pertemuan.
__ADS_1
Sesampainya di pintu restoran hotel, pelayan menyambut dan mengarahkan mereka ke ruangan khusus yang telah dipesan untuk acara perjamuan. Sebelum memasuki ruangan perjamuan, tiba-tiba Ayash terhenti. Matanya menangkap sosok yang sangat mirip dengan Prita sedang makan bersama seorang lelaki dan anak kecil.
‘Prita?’ gumannya dalam hati.
“Ada apa, Pak?” tanya Egi yang heran melihat bos nya tiba-tiba berhenti.
“Egi… apa wanita yang disana itu Prita?” tanyanya sambil menunjuk arah yang dimaksud.
Egi menoleh ke arah yang ditunjuk Ayash. “Iya, Pak. Sepertinya itu Nona Prita.” Jawabnya. Egi, sebagai sekertaris sekaligus asisten Ayash, memang sudah sering bertemu dengan Prita. Dia tahu Prita adalah pacar bos nya. Dia juga tahu bos nya bucin parah terhadap wanita itu. Ia agak khawatir dengan situasi itu. Bos nya pasti sedang marah besar.
Tangan Ayash mengepal. Ada semacam emosi yang meledak di dadanya. Rasanya ingin sekali ia melabrak mereka dan menghajar pria itu habis-habisan.
“Pak, Tuan Mathias sudah menunggu Anda.” Tiba-tiba seorang pelayan memanggil mereka.
“Pak, sebaiknya kita masuk. Orang-orang pasti sudah menunggu Anda.” Bujuk Egi.
“Egi, suruh orang untuk mencari tahu siapa anak dan lelaki yang sedang bersama Prita.” Pinta Ayash.
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
Mereka berdua kemudian masuk ke ruang perjamuan. Di dalam ruangan, tampak telah hadir beberapa pengusaha yang memang terlibat proyek bersama. Ayash adalah pengusaha termuda di kumpulan tersebut.
Selama acara perjamuan, Ayash tidak bisa fokus menyimak pembahasan proyek yang akan dilakukan. Pikirannya dipenuhi oleh Prita dan lelaki yang sedang makan bersamanya di restoran.
‘Seharusnya dia sedang kerja di restoran. Kenapa malah di sini? Padahal selama ini kalau aku minta dia sesekali bolos kerja, pasti tidak mau.’
'Siapa anak kecil itu? Apa itu salah satu murid di sekolahnya? Terus, apa lelaki itu ayah dari anak itu? Kenapa mereka makan bersama? Apa lelaki itu duda? Apa dia sedang menggoda pacarku dengan memanfaatkan anaknya? Kurang ajar…. ’
'Apa dia tidak tahu, aku kerja keras begini kan untuk dia. Apa lelaki itu yang dia sebut Sugar Daddy? Apa seleranya yang agak tua? Aku kan walaupun masih muda tapi uangku juga banyak. Kalau mau uang, kenapa nggak minta aku?'
‘Baru kali ini aku lihat dia dekat dengan orang lain. Apa aku yang kurang mengenalnya? Apa jangan-jangan, selama LDR dia sering jalan dengan orang lain? Apa seperti ini sifat asli Prita?’
Pikiran Ayash dipenuhi prasangka-prasangka negatif. Egi melirik ke arah bos nya yang sama sekali tidak
mendengarkan pembahasan proyek sama sekali. Dia menggeleng-gelengkan kepala.
‘Hadah… bos bucin. Pasti pikirannya dipenuhi Nona Prita. Pertemuan hari ini pasti aku yang akan ditanya-tanya. Kalau aku tidak menyimak, aku pasti kena marah.’ batin Egi.
Egi bangkit dari duduknya dan menghindar dari kumpulan untuk menelepon seseorang, “Halo… kamu cepat datang ke restoran hotel Cassanova. Ikuti Nona Prita dan cari tahu identitas anak kecil dan lelaki yang bersamanya. Hari ini kamu sudh harus melaporkan hasilnya atau bos akan marah. Nanti aku kirim fotonya, tadi aku sempat memfoto mereka di restoran.” Terang Egi.
__ADS_1
Selesai bicara, ia langsung mematikan sambungan telepon dan langsung mengirimkan foto Prita ke orang yang baru saja ia hubungi.
“Aku memang cerdas. Untung tadi sempat mengambil foto.” Gumannya dengan bangga. Kemudian, ia kembali ke perkumpulan untuk mendengarkan hasil pembahasan proyek. Ia harus menguasai informasi dari pertemuan itu, karena pikiran bos nya sedang ada di dunia lain.