ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Memaafkan


__ADS_3

"Mama... Papa.... huhuhu... hiks... hiks.... " Prita menangis tersedu-sedu di pelukan Bayu.


Kesedihan yang telah lama terpendam kini kembali muncul. Ia rindu kedua orangtuanya yang tak mungkin lagi bisa ia temui.


"Om kenapa jahat... membuat aku hidup sebatangkara... huhuhu.... "


"Maafkan om, Prita... saat itu pikiran om sangat kalut. Om sangat takut dipenjara. Sementara, ayahmu terus mendesakku untuk menyerahkan diri pada polisi. Om tidak bisa berpikir jernih." Om Robi ikut menitihkan air mata. "Jujur, setelah kejadian lima tahun lalu itu aku tidak pernah melupakannya sedetikpun. Aku, telah membunuh kakakku sendiri. Setiap malam aku selalu dihantui rasa bersalah... mengapa aku bisa sekejam itu pada keluargaku. Tapi, om benar-benar takut dipenjara, Prita... lebih baik kamu bunuh saja om daripada aku harus menjadi seorang narapidana. Om benar-benar menyesal.... maafkan om.... "


Kejadian kecelakaan terencana itu bertepatan dengan hari kelulusan Prita. Siang itu, seharusnya kedua orang tua Prita menjemputnya di rumah. Rencananya, mereka akan makan siang bersama untuk merayakan kelulusannya.


Ibunya, Sukma, telah mempersiapkan kado untuknya. Sebuah jam tangan mewah dan sepasang sepatu high hells yang terbungkus rapi dalam paperbag.


Prita memang anak tunggal. Tapi, dia tidak pernah manja atau menuntut barang-barang mewah meskipun keluarganya berkecukupan. Gaya penampilannya biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan teman-temannya. Mungkin itulah alasan mama papanya ingin memberinya hadiah itu.


Selamat atas kelulusannya, sayang....


Semoga harimu selalu dikelilingi oleh cinta dan kebahagiaan. Pakailah jam tangan ini ketika menapaki dunia barumu di kampus. Dan sepasang sepatu cantik ini... Semoga membawamu ke tempat yang indah.


with love,


mama & papa


Begitulah bunyi tulisan yang ditemukan tak jauh dari tempat kejadian. Hadiah sepatu dan jam tangan rusak karena ledakan. Hanya pesan itu yang masih utuh.


Hari itu, berita kematian kedua orangtuanya menjadi kado pahit kelulusannya. Orang-orang silih berganti datang ke rumahnya, bukan untuk mengucapkan selamat atas kelulusannya, melainkan ucapan turut bela sungkawa.


Di saat itu, pamanya juga turut hadir saat pemakanan kedua orang tuanya. Setelahnya, ia menghilang entah kemana. Duka belum sirna Prita harus mendengar kabar bahwa pamannya ternyata telah kabur membawa seluruh aset milik ayahnya.


Kala itu dia benar-benar sendiri. Tak ada sanak keluarga. Teman-temannya satu per satu pergi untuk menggapai cita-citanya. Sementara dirinya, memutuskan tak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Kematian kedua orangtuanya benar-benar menjadi titik balik terdalam selama hidupnya.


Lantas, masih pantaskah pamannya diberi pengampunan? Apa dia harus memenjarakan pamannya, agar dia juga merasakan pedihnya kehidupan? Atau... seharusnya dia biarkan Bayu menembaknya? Manusia seperti pamannya memang tak pantas dibiarkan hidup di dunia.


"Aku ingin keluar dari sini." lirih Prita.


"Apa aku boleh menembaknya sekarang?" tanya Bayu. Sedari tadi dia sudah tidak tahan untuk memecahkan kepala lelaki tua yang sudah membuat wanitanya sedih.

__ADS_1


Prita menggeleng.


Bayu mengernyitkan dahinya, ia tak tahu apa yang dipikirkan oleh wanitanya itu. Bagaimana dia masih bisa berfikir setelah mendengar semua yang diceritakan pamannya? Bukankah pamannya itu memang pantas mati.


"Om... Aku tidak akan membunuh om. Aku juga tidak akan menjebloskan om ke penjara. Karena aku tidak ingin menjadi penjahat seperti om. Aku ingin membiarkan om terus hidup dan mengingat semua perbuatan om kepada keluargaku selamanya. Tolong, pergilah sejauh mungkin. Jangan sampai kita bertemu atau berpapasan lagi seumur hidup. Anggap saja kita bukan siapa-siapa. Mari hidup di dunia masing-masing."


"Prita... Prita... Maafkan om.... " Om Robi menangis tersedu-sedu meminta pengampunan.


"Om... jangan minta maaf padaku. Mintalah maaf kepada mama dan papa saat kalian nanti bertemu di alam lain. Jelaskan sendiri semuanya pada mereka." Prita mengusap sisa air matanya yang mengalir di pipi. Ia langsung berbalik dan mulai berjalan menjauhi pamannya. Bayu turut mengikutinya dari belakang.


"Prita... Prita.... huhuhu.... " Om Robi terus memanggil nama Prita sembari menatap punggung yang semakin menjauh dari arahnya.


Apalah artinya kini penyesalan. Waktu tak dapat diputar untuk kembali ke hari kemarin. Hari ini terjadi karena hari kemarin. Penyesalan hari ini terjadi karena kesalahan-kesalahan di hari kemarin.


"Tolong lepaskan om ku." ucap Prita setelah kembali ke ruang.


"Apa? Semudah itu kamu memaafkan dia?" Bayu tak habis pikir dengan jalan pemikiran Prita. Harusnya dia tembak saja dan semuanya selesai.


"Membunuh atau memenjarakannya juga tidak akan membuat orangtuaku hidup kembali."


"Setidaknya dendammu bisa terbalaskan."


Bayu langsung menghambur memeluk wanitanya, "Kamu memang benar-benar malaikat. Ah, lupakan saja masalah ini. Aku akan mengajakmu makan malam di tempat yang indah."


*****


Rapat baru saja selesai. Ayash meregangkan tubuhnya yang kaku. Semua anggota timnya telah pulang terlebih dahulu ke penginapan. Ia memang sengaja menunggu ruangan sepi sampai semua keluar dari ruangan rapat. Dia sedang menunggu seseorang.


Tok tok tok...


terdengar suara pintu di ketuk.


"Masuk." perintahnya.


Seorang lelaki berbadan tegap mengenakan topi dan masker masuk ruangan. Ayash mempersilakannya duduk. Orang itu adalah salah satu orang yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan Prita di Kota J.

__ADS_1


"Bagaimana?" Ayash sudah tidak sabar mendengar laporannya.


"Benar, Pak. Nona Prita tinggal di salah satu unit apartemen ini."


Berati, orang yang tadi siang ia lihat di depan lift memang Prita. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya. Prita ada di depannya, tapi dengan mudah ia sudah kembali kehilangan jejaknya.


Ayash menghela nafas panjang, "Di lantai berapa?"


"Unit 1534 lantai 29."


"Antar aku kesana."


"Saat ini belum bisa, Pak."


"Kenapa?"


"Ini kawasan milik Tiger King, Pak. Pengamanan di sini cukup ketat. Privacy juga sangat terjaga. Terlebih untuk unit tersebut yang hanya bisa diakses orang-orang tertentu saja."


Ayash mengusap wajahnya. Ia hampir lupa kalau kota ini adalah pusatnya Tiger King. "Apa yang harus kita lakukan sekarang."


"Anda tenang saja. Kami akan berusaha membobol sistem keamanan mereka."


"Yakin, bisa?"


"Akan kami usahakan. Karena... jika harus berhadapan fisik rasanya tidak mungkin. Jumlah mereka sangat banyak dan tersebar dimana-mana."


"Baiklah, aku akan terus menunggu kabar darimu."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Tunggu sebentar!" Ayash menahan mata-matanya yang hendak pergi. "Tolong sewakan satu unit apartemen yang aksesnya agak dekat dengan unit itu."


"Baik, Pak."


"Pakai identitas orang lain untuk menyewanya. Jangan sampai Bayu tahu aku ada di sini."

__ADS_1


"Saya mengerti." lelaki itu segera keluar dari ruang rapat itu.


Ayash masih betah duduk berlama-lama di sana. Dibukanya galeri ponsel, memandangi kumpulan potret Prita yang pernah ia abadikan. Ia sangat merindukannya.


__ADS_2