ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Om Robi dan Kecelakaan Itu


__ADS_3

Prita begitu syok melihat siapa orang yang ia temui di ruang bawah tanah. Seorang lelaki yang duduk pada sebuah kursi dengan badan terikat tali. Dia adalah Om Robi, pamannya sendiri. Rasanya ingin pingsan mengetahui semua kenyataan ini. Bagaimana bisa pamannya yang mencelakai kedua orang tuanya.


"Prita... tolong lepaskan om. Kasihan tante dan sepupumu Zia pasti sedang mencari-cari keberadaan om." lelaki berusia sekitar 50-an tahun itu tampak memelas memandangi keponakannya.


Tiba-tiba Prita merasa geram. Bagaimana pamannya bisa mengkhawatirkan keluarganya tanpa perlu bertanya apa kabar keponakan yang selama lima ini ia telantarkan. Bagaimana bisa dia tega membiarkannya hidup sebatangkara sementara dirinya bisa terus menikmati hidup nyaman dengan keluarganya yang utuh.


Benarkah pamannya tega membunuh kedua orang tuanya? Prita masih belum bisa percaya.


Ceklek!


Terdengar suara pelatuk pistol dibunyikan. Secepat kilat, Bayu sudah menodongkan pistolnya tepat di kening Om Robi.


"Hey, aku sudah melakukan segala keinginanmu! Kamu sudah mengambil semuanya dariku! Aku tagih janjimu untuk melepaskanku!" bentak Om Robi.


Bayu tersenyum sinis, "Hah! Kamu mempercayai janji seorang penjahat?"


"Kau.... " Om Robi berusaha membatah namun Bayu semakin menempelkan ujung senapan pada kepalanya.


"Kamu pernah bertanya kan, apa aku benar-benar bisa membunuh orang? Apa aku bisa membuktikannya sekarang di hadapanmu?" tanya Bayu.


Prita masih mematung. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan.


"Diam artinya setuju, ya?"


"Prita, tolong om. Kenapa kamu bisa berteman dengan orang-orang kejam seperti mereka? Jangan biarkan mereka membunuh om. Aku satu-satunya keluargamu."


"Keluarga katamu!" Bayu naik pitam. Berani-beraninya lelaki tua itu menyebut kata 'keluarga' setelah tega menelantarkan keponakannya berjuang hidup sendirian.


Bayu hendak menekan pelatuknya, namun Prita menghentikan aksinya.


Prita mencoba menenangkan hatinya, "Om... apa benar om yang telah membunuh mama papa?"


"Prita, mereka kecelakan. Om tidak membunuh."


"Dasar tua bangka! Plak!" Bayu melayangkan satu tamparan keras.


"Aku bisa melaporkanmu atas tuduhan penculikan dan penganiayaan." Om Robi melemparkan tatapan sinis ke arah Bayu.


"Hah! Lakukan saja. Kita lihat siapa nanti yang akan membusuk di penjara. Akan aku beberkan semua bukti-bukti seputar kecelakaan yang direkayasa lima tahun lalu."

__ADS_1


"Prita, kamu bersekongkol dengan mereka untuk menjatuhkan om? Om sudah memberikan semuanya, kenapa masih menuntut lebih? Siapa yang mengajarimu untuk serakah?"


"Om... Aku tanya sekali lagi. Apa om yang telah membunuh orang tuaku?"


Om Robi menunduk, "Ya. Dan aku menyesalinya."


Rasa marah semakin berkecambuk di hati Prita. Air mata tak bisa ia bendung lagi. Terlalu sakit kenyataan yang harus ia hadapi. Sungguh, saat ini ia ingin memukuli pamannya sampai kemarahaannya reda.


Flashback on


"Mas... maafkan aku kali ini. Aku benar-benar akan berubah menjadi orang yang lebih baik." Robi berlutut di hadapan kakak kandungnya, Rudi.


Rudi mondar-mandir sambil memijit kepalanya yang pusing memikirkan perbuatan adiknya.


"Mas... aku ini adikmu, keluargamu satu-satunya. Apa kamu tega melihat aku dipenjara?"


Plak!


Terdengar tamparan cukup keras. Rudi menampar adiknya. "Keluarga!? Saat situasi seperti ini kamu baru ingat kalau kita keluarga, hah!?"


"Mas.... "


"Aku janji akan memperbaiki keadaan ini. Tolong, maafkan aku kali ini."


Rudi menggeleng, "Kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus ke kantor polisi dan mengakui semua perbuatanmu."


"Mas... aku mau melakukan apapun asalkan tidak ke kantor polisi. Kasihan anak dan istriku jika aku harus masuk penjara."


"Kamu bisa mengkhawatirkan anak dan istrimu, hah? Bagaimana dengan orang-orang yang sudah kamu fitnah sampai masuk penjara? Mereka juga memiliki keluarga!"


Robi hanya bisa terdiam. Dia memang salah. Selama bertahun-tahun, dia telah menggelapkan uang milik perusahaan kakaknya. Saat akan ada audit, biasanya dia menjebak karyawan lain agar dituduh korupsi dan dipenjara.


Tapi, kebusukan tak selamanya bisa disembunyikan. Rudi akhirnya menemukan berkas-berkas bukti penggelapan dana yang pernah Robi lakukan selama bertahun-tahun.


"Kalau kamu masih menganggapku kakak, pertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Serahkan dirimu pada polisi dan lepaskan orang-orang yang tidak bersalah. Aku akan menjamin kehidupan anak dan istrimu selama kamu dipenjara." tegas Rudi seraya melangkah pergi meninggalkan Robi.


"Hah! Bangsat!" umpat Robi ketika kakaknya telah pergi.


Pikirannya sangat kacau. Dia tidak mau dipenjara. Akhirnya, dia pulang ke rumah untuk membicarakan hal itu kepada istrinya.

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus melakukan sesuatu! Aku nggak mau sampai kamu dipenjara!" Yuni, istri Robi terlihat sangat marah ketika Robi menceritakan semuanya.


"Aku nggak mau jadi istri narapidana! Aku nggak mau zia nanti diolok-olok karena ayahnya dipenjara! Huhuhu.... "


Robi memeluk istrinya yang menangis, "Tenanglah, akh juga masih memikirkan jalan keluarnya."


"Kenapa kakakmu tega sekali mau menjebloskanmu ke penjara. Kamu kan keluarganya satu-satunya. Huhuhu.... Kamu benar-benar harus melakukan sesuatu!"


Robi yang sangat menyayangi anak dan istrinya menjadi gelap mata. Dia berencana membunuh kakaknya yang telah mengetahui segala kebusukannya di perusahaan.


Siang itu, Robi mengendarai mobilnya menuju kantor kakaknya. Di tempat parkir, dia melihat Sukma Anjani, kakak iparnya, sedang berdiri menenteng sebuah paperbag di dekat mobil Rudi.


Sukma melemparkan senyum ketika melihat kedatangan Robi. Namun, sambutan hangatnya malah dibalas dengan pembekapan. Ya, Robi langsung membekapkan selembar sapu tangan yang telah diberi obat bius hingga Sukma tak sadarkan diri.


Robi memindahkan Sukma ke dalam kursi depan mobil Rudi yang kala itu dalam keadaan tidak terkunci. Dia memasangkan seatbelt agar Sukma tampak seperti orang yang sedang tidur. Sementara Robi, bersembunyi di celah tempat duduk belakang sopir menanti kedatangan Rudi.


Beberapa saat kemudian, Rudi tiba di parkiran. Ia sedikit heran melihat istrinya ternyata sudah ada dalam mobil dan sedang tidur.


Saat Rudi hendak menyalakan mobilnya, tiba-tiba Robi membekapnya dari belakang. Ia berusaha memberontak dengan sekuat tenaga. Namun, akhirnya iapun tak sadarkan diri.


Robi memindahkan kakaknya ke kursi belakang. Sementara, dia duduk di depan kemudi untuk membawa mobil itu ke suatu tempat.


Setibanya di jalanan yang sepi dan penuh jurang, Robi menghentikan mobil kakaknya. Dia memindahkan kembali tubuh kakanya ke bagian kursi kemudi. Ia rapikan posisi kakaknya dan memasangkan seatbelt.


Tangki bensin ia lubangi sebelum mendorong mobil berisi kakak dan iparnya itu ke jurang. Sebelum mobil benar-benar mencapai dasar jurang, ia lemparkan pemantik ke arah tetesan bensin.


Duar! Terdengar ledakan besar dari arah jurang. Pada sore yang cerah itu, Robi telah menjadi seorang pembunuh. Dan yang dibunuh adalah kakak kandungnya sendiri.


Setelah melakukan aksinya, ia pulang. Ia menangis menyesali perbuatannya di depan istrinya. Tapi, bukannya menyalahkan perbuatan suamina, Yuni justru mendukungnya. Dia bilang, perbuata Robi adalah hal yang wajar dilakukan seorang suami demi menjaga anak dan istrinya.


Istrinya bahkan memberi ide agar suaminya mengambil alih semua harta peninggalan kakaknya dan pergi jauh dari kota itu untuk memulai hidup baru yang lebih indah.


Entah karena kebodohan Robi, dia menyetujui usul istrinya. Tanpa sepengetahuan Prita, Robi mengamankan seluruh surat-surat berharga milik kakaknya dan dialihnamakan. Saat itu, Prota masih dalam kondisi berduka. Ia tak tahu apa yang dilakukan pamannya.


Tapi setidaknya, Robi masih punya rasa kasihan. Dia sengaja menyisakan satu rumah peninggalan kakaknya untuk Prita. Meskipun semua harta telah dia ambil, setidaknya Prita masih punya rumah untuk tempat berteduh.


Robi membawa anak dan istrinya pergi jauh meninggalkan Kota S. Satu per satu harta kakaknya ia jual melalui perantara kenalanan yang masih di Kota S. Sementara dirinya kini menikmati hidup baru di Kota A.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2