
Irgi menunggu bosan di depan terminal kedatangan VIP. Ayash menyuruhnya datang jam enam pagi untuk menjemputnya. Namun, sudah hampir jam 9 belum juga ada tanda-tanda kedatangannya. Nomor Ayash tak bisa dihubungi. Ia curiga sekarang ia sedang dikerjai.
Setelah mengganggu tidurnya pagi-pagi buta, menelepon hanya untuk menjadi sopirnya, sekarang ia disuruh menunggu seperti orang bodoh. Ia benar-benar akan menghajar orang songong itu jika sampai seharian tidak muncul apalagi tidak membawa Prita. Demi bertemu Prita, ia sampai lupa sarapan.
"Sayang, ternyata sopir kita sudah datang." ledek Ayash ketika ia dan Prita telah keluar dari area bandara.
Irgi terperanjat kaget. Dilihatnya Ayash dan Prita sudah ada di depannya. Ayash mengeratkan dekapannya seolah ingin pamer kemesraan padanya. Ingin rasanya melayangkan satu pukulan kepada lelaki yang sangat menyebalkan itu.
"Ir.... " Prita tersenyum ke arahnya. Melihat senyuman Prita membuat kekesalannya seketika terlupakan.
Irgi langsung bangkit memeluk Prita. Ia mendorong Ayash agar tak menghalanginya.
"Akhirnya kamu pulang juga, Ta. Aku khawatir banget sama kamu."
"Makasih, Ir. Aku baik-baik saja."
Ayash yang melihat itu langsung menarik tangan Prita agar kembali ke sisinya, "Kebiasaan ya, suka peluk-peluk pacar orang." kata Ayash dengan nada ketus.
"Kamu mau aku peluk juga?" Irgi merentangkan tangan dihadapan Ayash.
"Cih! Cepat antar kami pulang. Hari ini kan kamu sopir."
Irgi memutar bola matanya malas. Ia akhirnya mengajak keduanya ke tempat ia memarkirkan mobilnya.
"Ta... kamu di depan temani aku. Masa aku kayak sopir beneran." protes Irgi ketika melihat Ayash dan Prita duduk di bangku belakang sementara ia sendiri di depan.
Prita hendak bangkit berpindah ke bangku depan, namun Ayash mencekal tangannya, "Tidak sopan ya, meminta pacar orang untuk duduk di sebelahmu. Kamu anggap aku apa?"
"Aku menganggapmu hantu, hantu songong."
"Heh! Sialan! Dasar pengangguran!"
"Siapa yang pengangguran? Aku punya banyak pekerjaan yang harus aku urus. Gara-gara kamu saja hari ini aku harus meninggalkan semua kesibukanku. Dasar tidak tahu terima kasih!"
Prita hanya geleng-geleng kepala. Jika Irgi dan Ayash bertemu, selalu saja bertengkar seperti Tom and Jerry.
__ADS_1
"Sudah, Sudah... Yash, temani Irgi di depan." Prita mencoba memberi solusi.
"Loh, kok aku? Biarkan saja dia sendiri." Ayash terkadang keras kepala dan kekanakan.
"Ya kalau tidak mau, aku saja yang ke depan."
Mendengar itu, Ayash mengalah dan pindah ke depan. "Puas, kamu!?" seru Ayash pada Irgi.
"Ye... siapa juga yang suka bersebelahan denganmu. Aku datang sebenarnya cuma menjemput Prita."
Mobil mulai melaju. Ayash dan Irgi tetap saling berselisih di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat Prita tak henti-hentinya tertawa. Ia tahu, walaupun keduanya sering terlihat seperti bermusuhan, sebenarnya mereka teman yang baik dan saling membantu.
"Ir... kenapa nggak ajak Raeka?" tanya Prita.
"Paling mereka putus lagi." celetuk Ayash.
Irgi menghela nafas. Ia tidak menyangka mereka akan menanyakan tentang Raeka. Hubungan mereka sebenarnya memang sedang kurang baik.
"Hem, Prita... pacarmu itu meneleponku jam dua pagi dan memintaku menjemputnya di bandara jam enam. Aku saja kurang tidur, mana sempat aku mengajak Raeka? Sarapan saja aku lupa.... "
"Belum.... "
"Yash... kamu jahat banget sih, penerbangan kita kan jam 8 pagi. Masa kamu suruh Irgi jemput jam 6 pagi."
"Wah, sialan... kamu benar-benar mengerjaiku?" protes Irgi.
Ayash hanya menahan tawa. "Sori, sori... kebiasaan orang Indonesia kan telat. Soalnya kalau aku biasanya janjian sama dia, dua jam kemudian baru datang. Aku hanya antisipasi saja." kilah Ayash membela diri.
*****
"Welcome home." ucap Ayash ketika mereka baru sampai di apartemen.
Mereka kembali ke apartemen setelah menemani Irgi menikmati sarapannya yang sangat telat. Irgi sarapan di kafe Prita, Saranghae Cafe. Kafe yang sudah lama Prita rindukan. Ia terlihat sangat senang ketika Ayash dan Irgi mengajaknya ke sana.
Prita terlalu asyik bercengkrama dengan para karyawannya sampai tak terasa seharian mereka menghabiskan waktu di kafe. Prita turut melayani pelanggannya. Ada beberapa yang mengenal Prita bahkan mengajaknya ngobrol dan foto bersama. Sampai eksistensi Ayash dan Irgi di sana hampir tidak dianggap.
__ADS_1
Menjelang malam, mereka pulang ke apartemen. Irgi berniat ikut ke apartemen Ayash namun Ayash mencegahnya. Adanya Irgi hanya membuatnya emosi terus. Sementara, ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Prita.
Apartemen itu masih sama seperti terakhir kali Prita mengingatnya. Kamarnya juga masih sama, kamar pink dengan ornamen-ornamen lucu. Sebulan lamanya ia meninggalkan tempat itu. Rasanya kembali canggung seperti pertama kali ia datang.
"Sayang, apa kamu lelah? Kamu mau istirahat?" Ayash memeluknya dari belakang.
Prita membalikan badannya, membalas pelukan hangat itu. "Tidak, aku tidak lelah. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini lebih lama."
"Tetap saja, kamu butuh istirahat. Seharian kamu ikut mengurus kafe padahal baru sampai."
"Aku tidak lelah. Aku justru merasa senang bisa kembali lagi ke kafe."
"Ah, iya. Aku ada sesuatu untukmu." Ayash melepaskan pelukanny dan mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
"Ini." ia menyodorkan sebuah ponsel kepada Prita.
"Nomor dan kartu memori dari ponsel lama sudah aku pindahkan kesini."
Prita menerima ponsel itu. Tanpa bisa ia kendalikan, air matanya menetes. Ponsel itu mengingatkannya pada malam itu. Malam di mana Ayash dipukuli banyak orang hingga tak sadarkan diri. Malam di mana ia mengantarkan Ayash ke rumah sakit dan melihatnya untuk terakhir kali.
"Hey, kenapa menangis?" Ayash memeluknya. "Maaf, jika mengingatkanmu pada hal buruk."
Ayash mengajaknya berpindah ke sofa ruang tengah. Ia mengusap tetesan air mata yang membasahi pipi wanitanya.
"Maafkan aku sudah membuatmu menderita. Seharusnya aku yang ada di posisimu. Semua ini masalah keluargaku tapi malah kamu yang ikut menderita."
Prita meraih tangan Ayash dan menggenggamnya. Ia menggeleng. Mengisyaratkan jika Ayash tak boleh menyalahkan dirinya.
"Aku sudah membaca pesanmu. Kak Arga juga sudah mengakui kalau dia yang menyuruh Tiger King untuk menculikku."
"Melihatmu ketakutan, murung, bahkan menangis seperti ini membuatku semakin merasa bersalah. Tujuanku selama ini untuk membuatmu bahagia tapi aku malah melakukan hal yang sebaliknya. Maafkan aku."
Prita kembali menggelengkan kepala, "Yash... terima kasih sudah mencariku dan membawaku kembali pulang. Hal yang membuatku sangat bahagia adalah bisa kembali bersamamu. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.... " dengan perasaan emosial Prita menyampaikan isi hatinya.
Ayash tak kuasa ikut menitihkan air mata. Direngkuhnya wanita yang sangat dicintainya itu ke dalam dekapannya. Ia ingin mengembalikan keceriaan Prita yang dulu.
__ADS_1