ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Perencanaan Perjalanan


__ADS_3

Glek glek!


Bayu sedang mencoba beberapa senapan yang ada di satu ruangan bawah tanah. Ruang berukuran 3 x 4 meter itu terletak di bawah tangga ruang tamu. Ada pintu akses rahasia dan tangga penghubung untuk menuju ke sana.


Satu ruangan itu dipenuhi oleh berbagai macam jenis senjata dari laras pendek hingga laras panjang. Bayu hafal semua jenis-jenis senjata yang ada di sana.


FN FAL senjata dengan panjang 1 meter dan berat 4 kg, dalam waktu 1 menit senapan mesin ini mampu melesakkan 700 butir peluru. Heckler & Koch HK146 dengan panjang dan berat setara FN FAL yang dapat menembakkan 900 butir peluru tiap menit. Desert Eagle Marx XIX, pistol semi otomatis kaliber besar produksi Israel dengan berat 2 kg dan panjang 26 cm mampu membunuh orang dalam sekali tembakan.


Pilihannya jatuh pada revolver mungil jenis Ruler RCL. Pistol jenis ini hanya memiliki berat 13,5 ons, panjang 6,5 inci dan memiliki silinder lima putaran. Bahannya terbuat dari aluminium dan frame polymer. Bentuknya sangat kecil, mudah dimasukkan ke dalam saku celana, diselipkan di pinggang atau diselipkan di pergelangan kaki.


Bayu memastikan pistolnya penuh peluru sebelum ia selipkan ke dalam saku celananya.


"Ambil ini!" Bayu melemparkan salah satu pistol pada Ben. Glock 45 GAP sebuah pistol semi otomatis buatan Austria.



"Apa kita perlu membawa senjata, Bos?" Ben memandangi pistol yang diberikan bosnya.


"Musuh bukan hanya polisi, Ben. Ada juga kawanan bajing loncat dan saingan bisnis yang mungkin juga akan menjadi penghalang dalam perjalanan kali ini. Kita juga harus bersiap-siap dengan kemungkinan itu."


Bayu menimang-nimang M16. Senjata berbahan campuran plastik dan logam ringan dengan penggunaan peluru kaliber 5,56mm itu memiliki bentuk yang sangat elegan. Beratnya 1 kg dan panjangnya 1 meter. Senjata asal Amerika Serikat itu bisa menembakkàn 700-950 putaran per menit dengan kecepatan peluru 944,88 meter per detik.


"Persiapan sudah selesai. Apa kita berangkat sekarang?"


Bayu melirik ke arah jam tangannya. Masih jam satu dini hari.


"Apa semua sudah siap?"


"Sudah, Bos."

__ADS_1


Bayu mengalungkan tali sandang senapan di bahunya. M16 ada di punggungnya. Ia menyunggingkan senyum.


"Ayo berangkat!" perintahnya.


Segera Bayu berjalan menaiki tangga untuk meninggalkan ruangan itu. Ben mengikutinya dari belakang.


Di ruang tamu, orang-orangnya sudah berkumpul dan siap siaga dengan senjata masing-masing. Mereka sedang menunggu instruksi lanjutan dari Bayu.


"Berikan petanya!"


Salah seorang dari mereka memberikan peta yang berisi rute perjalanan. Bayu mengamati peta tersebut dengan seksama.


"Daerah mana saja yang rawan?" tanya Bayu.


"Perjalanan darat yang akan kita lalui memakan waktu sekitar lima sampai tujuh jam sampai pelabuhan. Ada tiga titik perbatasan yang biasanya dijaga oleh polisi. Tapi, yang lebih harus diwaspadai adalah kawanan bajing loncat yang biasanya beraksi di sekitar hutan sebelah sini." orang tersebut menunjuk tempat yang dimaksud pada peta.


"Mereka mungkin akan mengincar kita karena membawa kayu meskipun tidak tahu barang apa sebenarnya yang kita bawa. Dalam beraksi, biasanya berkelompok, bisa 10-20 orang."


Bayu menyunggingkan senyum, "Ya, tentu saja. Itulah tujuannya kita membawa senjata."


"Apa tidak terlalu mencolok jika ada banyak korban?"


"Siapkan orang-orang tambahan untuk membersihkan jalan di bagian belakang. Jadi, nanti kita bawa 3 jeep untuk mengiring truk. Satu jeep di depan mengamankan bagian depan, satu jeep belakang mengamankan bagian belakang. Dan satu jeep tambahan untuk antisipasi jika kita perlu membereskan mayat-mayat pengganggu. Ingat, jeep harus menghindari pos pengamanan polisi. Apa kalian siap?"


"Siap, Pak!" jawab mereka serempak.


Bayu melangkahkan kaki keluar. Di halaman sudah terparkir beberapa jeep dan satu truk berisi kayu gelondongan. Bayu kembali menyunggingkan senyum ketika melihat kayu yang ada di atas truk benar-benar seperti kayu utuh. Hasil kerja mereka tak mengecewakan.


Bayu, Ben, dan tiga orang anak buahnya menaiki jeep paling depan. Disusul oleh dua orang yang bertugas sebagai sopir dan kernet. Dua jeep belakang diisi oleh masing-masing lima orang.

__ADS_1


Kendaraan mulai berjalan menyibak kesunyian malam di tengah belantara hutan sawit. Tak ada bunyi lain selain deru mesin kendaraan yang mereka naiki. Hawa dingin menyeruak namun sama sekali tak berpengaruh apapun pada mereka.


"Dimana aku bisa mendapatkan sinyal, Ben? Ponsel bagus tidak berguna di sini!" Bayu mendengus kesal. Ponsel seharga 25 juta miliknya tak dapat digunakan untuk komunikasi sama sekali. Tanpa sinyal, benda itu tak berbeda dengan kamera biasa.


"Setelah melewati perkebunan ini ada sinyal, Pak." celetuk anak buahnya yang mengendarai jeep itu.


"Kalau begitu kendarai dengan cepat jeep ini. Aku sudah tidak sabar." keluhnya sembari memandangi potret Prita yang ada di galeri ponselnya.


Foto Prita yanga da di ponselnya kebanyakan ia ambil saat Prita sedang tidur atau foto secara diam-diam. Prita tak pernah mau diajak berfoto, apalagi berdua dengannya.


*****


Raeka termenung di balkon apartemennya. Ia menatap kosong ke arah apartemen yang ada di seberang. Orion Tower, apartemen 25 lantai di mana Irgi sekarang tinggal.


Sejak kejadian kemarin, ia belum bertemu atau sekedar berkomunikasi dengan Irgi. Baik dirinya ataupun Irgi tak ada yang mau mengawali untuk membuka pembicaraan.


Tempat tinggal mereka secara kasat mata terlihat dekat. Namun, ia merasa sangat jauh dari Irgi. Tak berbeda ketika mereka LDR saat Irgi masih di Singapura. Sekarang, meskipun mereka sudah ada di negara yang sama, kota yang sama, bahkan distrik yang sama, tapi sekat jarak itu tetap ada. Entah kapan hubungan mereka akan sangat intim.


Prita... meskipun dia tak ada, Raeka merasa wanita itu selalu hadir dalam hubungannya dengan Irgi. Sebaik apapun perlakuan Irgi padanya, hatinya tetap merasa bahwa separuh hati Irgi ada di tempan lain. Raeka tak bisa memiliki Irgi secara utuh.


Tetap melanjutkan hubungan dengan bayang-bayang Prita membuatnya sesak hingga susah bernafas. Tapi, berpisah dengan Irgi membuatnya lebih menderita dan serasa akan mati.


Ketika Irgi memutuskan untuk tinggal kembali di Indonesia, ia sudah menawarkan salah satu unit di apartemennya. Ya, Raeka tinggal di salah satu Tower apartemen satu kompleks dengan hotel dan mall Greenland Paradise milik ayahnya. Irgi menolak. Alasannya, tidak mau orang menganggapnya aji mumpung karena berpacaran dengannya.


Tapi Raeka tahu alasan sebenarnya. Ia sengaja memilih Orion Tower lantai 20 bersebelahan dengan apartemen Ayash. Artinya, ia ingin tetap dekat dengan Prita.


Raeka hanya bisa tertawa getir mengingatnya. Kenapa Irgi masih saja bersikap seperti itu? Padahal, Prita sudah berpacaran dengan Ayash. Dan status itu tetap tidak mengubah perlakuan manis Irgi kepada Prita.


Double Date... itu juga alasan yang Irgi gunakan agar bisa pergi bersama Prita. Meskipun ada dirinya di sana, tapi pandangan mata Irgi selalu terarah pada tempat lain. Kalau Irgi memang menyukai Prita, kenapa dia tidak berterus terang saja? Kenapa pula ia malah berpacaran dengannya? Kenapa sikapnya juga manis selama berpacaran dengannya?

__ADS_1


Raeka masih meragukan apakah Irgi benar-benar mencintainya sejak dulu. Ataukah status pacaran itu hanya untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya kepada Prita.


Raeka menghela nafas panjang. Udara malam semakin dingin. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon dengan rapat.


__ADS_2