ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Pindah ke Apartemen


__ADS_3

Prita kini tengah berada di ruangan manager restoran, Bu Ayu. Hari ini, ia hendak berpamitan setelah sebelumnya mengutarakan niatnya untuk berhenti kerja. Lima tahu bekerja di sana, Prita baru kali ini masuk ke ruangan Bu Ayu.


Ceklek!


Suara pintu dibuka. Tampak Bu Ayu masuk dan langsung menghampiri Prita yang sejak tadi sudah menunggunya.


“Menunggu lama, ya?” tanya Bu Ayu seraya duduk di hadapan Prita.


“Tidak, Bu.” Prita berdiri menyambut kedatangan bosnya. Ia duduk kembali setelah Bu Ayu duduk.


“Hah… Saya kaget waktu kamu bilang mau berhenti, Ta. Kok mendadak sekali? Sebenarnya ada masalah apa?”


“Tidak ada masalah apa-apa, Bu.”


“Terus, kenapa harus berhenti?”


“Mmm… Saya berencana membuka usaha sendiri, Bu.”


“Oh, begitu. Saya jadi lega. Saya kira kamu minta berhenti karena ada tamu yang membuatmu tidak nyaman atau teman kerjamu yang suka cari masalah.”


“Tidak, Bu. Orang-orang di sini semuanya baik kepada saya. Ibu juga.”


Bu Ayu tersenyum, “Masa saya orang baik? Lima tahun kamu kerja di sini hanya saya suruh jadi tukang cuci piring, lho!”


“Walaupun hanya sebagai tukang cuci piring, saya sangat bersyukur bisa bekerja di sini. Saya bisa mendapatkan penghasilan untuk menghidupi diri saya sendiri.”


“Maaf ya, saya tidak bisa membantu lebih.”


Prita menggeleng, “Tidak, Bu. Seharusnya saya yang harus minta maaf, selama ini telah banyak merepotkan. Ibu sudah sangat berbaik hati menerima seorang anak yatim piatu dan hanya lulusan SMA seperti saya untuk bekerja di sini.”


“Sebenarnya saya sangat suka karyawan yang santun dan ramah seperti kamu. Ini adalah gaji terakhir kamu dan pesangon.” Bu Ayu memberikan amplop coklat kepada Prita.


Prita menerima amplop tersebut, “Terima kasih, Bu.”


“Saya sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Saya harap, kamu masih mau berhubungan baik dengan saya meskipun sudah tidak bekerja di sini.”


“Iya, Bu.”


“Kalau kamu ada masalah atau kesulitan, datanglah ke sini.”


“Iya, terima kasih, Bu.”

__ADS_1


Prita berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Bu Ayu membalas jabatan tangan tersebut.


“Jaga dirimu, Prita. Jadilah sukses!”


“Saya pamit, Bu.”


*****


Di luar ruangan, Prita bertemu Dea, teman kerjanya. Dea memeluk tubuh Prita karena ini hari terakhir Prita di restoran.


“Ta… jangan lupa sesekali hubungi aku, ya! Walaupun kita sudah tidak bekerja bersama, tapi kita harus tetap berteman!”


Prita tertawa kecil, “Iya lah, Dea. Kamu salah satu teman terbaik yang pernah aku kenal. “


“Jaga dirimu.”


“Iya, kamu juga. Aku pergi dulu.” Ucap Prita seraya berjalan keluar restoran.


Prita menuju tempat parkir. Di sana, Ayash sudah menunggunya di dalam mobilnya. Prita membuka pintu mobil, tampak wajah Ayash yang terlihat kesal. Ia langsung duduk di sebelahnya.


“Kelamaan ya, nunggunya?” tanyanya sambil tersenyum.


“Katanya hanya pamitan kok sampai setengah jam lebih.” Kata Ayash dengan nada ketusnya.


“Sayang…. “ panggil Prita dengan nada merdunya.


“Hmm… “ sahut Ayash dengan malas.


“Lihat ke sini.”


Ayash menengokkan kepalanya ke arah Prita.


Cup!


Prita memberikan ciuman mendadak di bibirnya. Ayash mengerjapkan matanya beberapa kali. Prita tersenyum melihatnya.


“Maaf ya, sayang…”


“Iya, tidak apa-apa. Kita pergi sekarang, ya.” Ayash langsung melajukan mobilnya keluar dari area restoran. Perasaannya serasa berbunga-bunga setelah mendapat ciuman dadakan. Rasa kesalnya seketika hilang.


Hari ini rencananya Prita akan pindah ke apartemen Ayash. Ya, akhirnya ia menyetujui permintaan pacarnya itu. Awalnya ia bersikeras minta pindah ke mansion saja. Tapi, dengan jurus memelas, Ayash berhasil membujuknya pindah ke apartemen saja. Mengingat jarak apartemen lebih dekat ke kantor dan sekolahnya.

__ADS_1


Setelah perjalanan selama 45 menit, akhirnya mereka sampai di gedung apartemen megah di pusat kota. Gedung apartemen itu memiliki 25 lantai. Milik Ayash ada di lantai 20. Mereka menaiki private lift yang langsung menuju ke hunian.


“Welcome…. “ kata Ayash ketika private lift yang mereka naiki terbuka.


Prita mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Hal yang pertama kali ia dapati adalah ruang tamu yang luas menyatu dengan ruang makan dan dapur tanpa sekat. Sekeliling ruangan banyak terdapat jendela luas yang tertutup tirai.


“Ayo, aku antar ke kamar. Barang-barangmu sudah ditata orang suruhanku kemarin.”


Ayash menggandeng tangan Prita menuju kamarnya. Kamar itu bercat pink dengan furniture dengan warna senada, menampilkan kesan feminim. Prita tertawa kecil melihat kamar yang akan ia tempati itu.


Ayash memicingkan alisnya, “Kok ketawa? Jelek, ya?” ia heran melihat respon Prita.


Prita menggeleng, “Ini bagus, kok. Manis banget kamarnya. Terima kasih, ya.”


Ayash langsung memeluk tubuh pacarnya, “Rasanya senang sekali bisa melihatmu di sini. Mulai hari ini, akan ada yang menyambutku pulang dari kantor setiap hari.”


“Sayang… “


“Hmmm… “


“Sebentar lagi waktunya makan malam, ayo kita mandi dulu.” Ajak Prita.


Ayash melepas pelukannya, kemudian memandangi Prita dengan tatapan sensual “Ayo… mau mandi di kamar ini apa di kamarku? Bath tube di kamarku sangat besar, cukup untuk kita berdua. Mau mencobanya?” bisiknya di telinga Prita.


Wajah Prita memerah mendengar kata-kata Ayash. Ia sedikit memundurkan tubuhnya dan rasanya kini jantungnya berdebar kencang. “Pergi sana ke kamarmu!” Prita yang salah tingkah mendorong tubuh Ayash keluar dari kamarnya. Diambang pintu, Ayash menghentikan gerakannya.


“Cepat keluar!” tegasnya.


“Nggak mau, aku mau mandi bareng kamu.” Kata Ayash sambil tersenyum-senyum.


“No!”


“Oke deh, tapi kalau minta cium sebelum mandi boleh ya… “ rayu Ayash.


Prita menghela nafas. Ia tahu pacarnya pasti akan lama mengganggunya sebelum apa yang diminta dituruti. Iapun mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Ayash. Kecupannya disambut baik oleh Ayash yang langsung menyambar tengkuknya untuk memperdalam ciuman. Awalnya ia mencoba mengelak, namun lambat laun ia menikmati ciumannya. Ia mengalungkan tangan di leher Ayash. Mereka saling menghisap dan menyecap bibir hingga terdengar suara desahan dari keduanya.


Ayash memang selalu menyukai aktivitas ciuman yang lama dan mendalam. Ia tak puas hanya mengecupi bibir prita. Bibir bawah Prita digigit lembut hingga mulutnya sedikit terbuka dan melesakkan lidahnya bergerilnya menelurusi rongga mulutnya.


“Ahh… “ Prita kembali mendesah ketika lidahnya bertautan dengan lidah Ayash. Rasanya tubuhnya menjadi sangat ringan hanya karena ciuman.


Ayash melepaskan ciumannya, “Aku mandi dulu.” Ucapnya seraya berlalu pergi menuju kamarnya sendiri.

__ADS_1


Prita masih mematung. Padahal ia sudah sangat terlena dengan ciuman itu. Tapi, tiba-tiba Ayash langsung menyudahi. Entah mengapa ada sedikit kekecewaan di hatinya. Segera ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


__ADS_2