
Davina melangkah anggun, rambut panjang nya tergerai lepas memasuki pekarangan sekolah. sebelah tangannya melambai pada teman-temannya sambil tersenyum ramah. Davina benar-benar cantik. sehingga banyak teman-teman cowok nya berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya.
Lara mengepalkan tangannya, dia merasa kalah saing. meskipun Lara memiliki pesona tidak kalah dibandingkan dengan Davina, namun dia tidak ingin perhatian semua orang terbagi jika sudah ada Davina.
"Dasar cewek sok pintar, sok cantik awas kamu" umpet Lara kembali duduk di kursi nya.
"Sabar Lara, kita harus bermain licik untuk mengalahkan dan menjatuhkan si Davina itu " uca Rio salah satu teman baik Lara dikelas itu, yang merupakan salah satu anak pejabat yang memiliki pengaruh dikota ini, namun dia dan Lara memiliki nasip yang sama, kurang perhatian dan kasih sayang.
"Caranya" menatap ke arah Rio.
Rio mendekati kuping Lara dan membisikkan sesuatu, yang membuat Lara tersenyum senang yakin sekali bahwa usaha nya untuk menjatuhkan Davina kali ini akan berhasil. padahal mereka selalu Gagal karena Davina selalu waspada.
Anye teman sebangku Lara ikut menimpali, karena dia kurang mendukung niat jahat sahabatnya itu.
"Lara sebenarnya Davina punya salah apa sich sama kamu, hingga kamu segitu membenci anak itu ?, bahkan dia selalu memaafkanmu dan tidak mengadukan mu kepada Pi Sekolah." terang Anye
"Aku benci semua tentang cewek itu, kepintaran nya, serta kasih sayang kedua orang tua nya yang tidak pernah aku dapatkan" ucap Lara merasakan dadanya tiba-tiba sesak, setiap melihat kehidupan Davina yang bahagia sering diantar kesekolah oleh mami atau papinya.
"Tapi kenapa cuma Davina yang kamu benci, padahal masih banyak teman-teman yang lain yang hidup nya seperti Davina, bahkan mereka lebih manja dan lebay gaya hidup nya yang tidak sebanding dengan kenyataan kehidupan mereka yang sesungguhnya." Anye masih penasaran melihat kebencian Lara tidak pernah berubah.
__ADS_1
Lara tercekat mendengar penuturan Anye sambil mencerna kata-kata sahabatnya itu,
"Aku sebenarnya juga bingung, entah kenapa setiap melihat Davina dan kembaran yang tidak mirip sama sekali itu, datang ke sekolah diantarkan oleh maminya, rasa cemburu dan iri begitu membuat ku tersiksa, apalagi melihat kemesraan dan kasih sayang maminya yang terlihat begitu tulus yang tidak pernah aku rasakan dan dapatkan selama ini. Aku juga sering berkhayal jika aku diposisi Davina, aku juga menginginkan mami dan papinya. serta kadih sayang mereka.
Semenjak terlahir dan tumbuh sebesar ini aku hanya mengenal Bi Ijah, sebagai pengasuh ku yang setia merawat dan membesarkan ku, sementara mamaku, aku tidak pernah bertemu dengan nya, dan papa yang tidak pernah memperdulikan ku, meskipun dia selalu memerikan materi yang lebih" tiba-tiba air mata lolos dikedua pipinya.
" Lara kamu kenapa bengong dan jadi melow gini." Anye menyentuh pundak Lara dari arah belakang.
Lara spontan menyeka air matanya, berpura-pura ceria kembali, dia tidak ingin Anye dan Rio melihat kegundahan dan air mata nya itu.
"Aku nggak papa kok"
"Okey bozz, cap cus" ucap Anye dan Rio serempak.
Dikantin Lara dan kedua sahabat nya berjalan angkuh, ditambah lagi saat Mata nya melirik Davina dan Sasha sedang menikmati makanan nya.
"Hey... minggir ini meja kami" menatap tajam tidak suka kearah Davina dan Sasha
Dengan tampang penuh kemarahan Sasha berdiri menghadang mereka bertiga
__ADS_1
"Hey cewek kecentilan dan kamu cowok yang nggak jelas, ngaca donk... , Davina aja yang anak bangsawan dan kepala yayasan sekolah ini saja tidak sesombong dan seangkuh kalian bertiga" bentak Sasa.
Membuat seisi ruangan kantin itu meneriaki mereka bertiga
"HHuuuuu.....,, HHuuuuu...,,
Lara merasa malu, melonggos kesal pergi meninggalkan kantin sekolah, dan membatalkan niatnya mereka untuk makan.
"Davina, kenapa kamu hanya diam saja dan tidak pernah menanggapi mereka" ucap Sasha kesal dan mengempeskan kasar bokongnya duduk kembali di samping Davina.
"Tidak perlu Sasha, bagiku tidak penting melayani mereka. ntar mereka sadar sendiri dan merasa malu atas perbuatan mereka" sambil kembali menyapa makanan nya.
"Davina lihat tuh cowok tertampan sekolah kita, selain kakak kembarmu itu Devan" Sasha salah tingkah sendiri saat Justin melewati meja mereka.
Davina tidak menghiraukan celotehan sahabat baiknya itu, karena dia sendiri sudah mengenal Justin dengan baik yang merupakan salah satu anak sahabat dari anaknya Tante Caca dan Om Azka.
Justin memilih duduk tidak terlalu jauh dari posisi Davina, agar dia bisa dengan leluasa menatap wajah cantik natural itu.
"Davina sampai kapan kamu akan membuka pintu hatimu untuk ku, sudah lama aku begitu mencintaimu dan memendam perasaan ini semenjak orang tua kita sering kumpul bareng" gumam Justin sambil menatap Davina yang sama sekali tidak pernah mau menerima dan membalas cintanya.
__ADS_1