
"Zio, aku mohon hentikan. jangan pukul Farrel." teriak Clarisa karena merasa tidak tega melihat tubuh Farrel yang mulai terluka. namun dia tidak membalas setiap pukulan kersa tangan Zio.
"Clarisa minggir." bentak Zio. saat tangan Clarisa berhasil bergelayut di sebelah kakinya yang ingin menghantam kembali tubuh Farrel. namun terhalangi oleh tindakan Clarisa itu.
"Aku tidak akan membiarkan mu memukul terus tubuh Farrel, sudah kak Zio...tolong kendalikan emosimu." Clarisa merasa kesal melihat Zio yang hilang kendali. bahkan mereka sekarang sudah menjadi pusat tontonan para tamu undangan, keluarga dan media.
Zio terdiam dan pegangan tangannya dikerah baju Farrel terlepas, saat tubuh kecil anak perempuan menangis memeluk tubuh Farrel.
"Papa....hu...hu.... papa" sambil terus menangis memeluk Farrel." anak itupun menatap tajam ke arah Zio.
"Om jahat... ngapain pukul ayah Bunga." berdiri menghadang Zio, membuat Zio mundur beberapa langkah. seakan kalah begitu mendapatkan tantangan dari bocah kecil imut, keberanian dan kekuatan Zio seakan hilang seketika.
"Ngapain Om mundur, ayo lawan Bunga sekarang.!" bentak nya.
__ADS_1
Semua terpana, ikut terhipnotis dengan pemandangan itu. mulut semua terkunci hening. hanya rintisan kesakitan yang sesekali terdengar dari mulut Farrel.
Mentari yang semula terdiam dan syok, seketika menguasai keadaan. dia berjalan mendekati Bunga.
"Bunga sayang, kamu ngak boleh seperti ini nak. sekarang minta maaf sama om Zio. dan kita segera pulang untuk merawat luka papa." bujuk Mentari.
"Tidak mau Bunda, Om itu yang jahatin papanya Bunga. jadi dia yang harus minta maaf duluan." tegas Bunga.
"Mentari sahabat ku, apakah kamu telah melupakanku." terdengar suara Clarisa yang sendu. dia berdiri tepat dihadapan Mentari.
"Clarisa." jawab nya pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Tatap aku Mentari, apa kamu tidak merindukan ku sahabat mu ini." air mata Clarisa menetes membasahi pipinya, begitupun Mentari.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu Clarisa, tapi aku malu. aku merasa sangat malu walau hanya menatap wajahmu. aku yang tidak pernah mendengar semua kata-kata dan nasehat-nasehat mu." tangis Mentari diselingi isakan tangisnya.
"Tidak Mentari, kamu tidak salah. garis kehidupan kita lah yang seperti ini." Clarisa menarik tubuh Mentari kedalam pelukannya. mereka berdua saling berpelukan penuh haru.
Sebagian orang-orang yang berkumpul sudah bubar, mereka sudah mengerti sedikit banyak permasalahan dua pasangan tersebut. acara dilanjutkan kembali. sementara Zio lebih memilih duduk disalah satu ruangan khusus.
Rama dan Anyelir yang sudah paham titik permasalahan, menghampiri Mentari dan Clarisa. dan Farrel yang terluka pun sudah mrpendapatkan perawatan.
Rama menyuruh Ariani dan Zaki untuk mengajak Bunga, membawa gadis kecil itu menikmati acara dan makanan. sementara kedua orang tuanya dan Rama. semua berkumpul diruangan khusus tersebut. untuk membahas permasalahan yang membuat kemarahan Zio memuncak.
Semula Bunga menolak diajak Aira pergi, dengan alasan gadis kecil yang masih polos itu, tidak mau papanya kembali dipukuli oleh Zio. karena kepintaran Mentari dan Anyelir meyakinkan. akirnya Bunga mau. tapi Zio harus berjanji dulu untuk tidak memukul papanya lagi. jika tidak dia yang akan mengantikan sang papa menghajar Zio.
Suasana yang semula sempat menegang, mencair dan hangat karena mendengar penuturan Bunga.
__ADS_1