
Mentari akhirnya pergi sendiri dengan mengunakan masker untuk menutupi wajahnya, de sedikit ragu,- ragu Mentari memasuki apotek dan membeli sebuah tespec, alat pemeriksaan kehamilan.
"Mudah-mudahan saja dugaan ku salah, dan aku tidak mengandung anaknya kak Farrel"
Mentari langsung kembali, saat melihat kondisi kamar nya masih sepi. mentari bernafas lega.
"Sebaiknya aku tes sekarang juga, mumpung Clarisa belum pulang"
Mentari memasuki kamar mandi dengan tubuh gemetar, dan perasaan yang bercampur aduk. dengan perlahan dia mulai membuka bungkusan terspek.
Setelah melakukan tes, namun Mentari tidak sanggup melihat hasil nya, dia memejamkan matanya rapat-rapat, sambil berdoa semoga saja hasilnya negatif.
Hampir setengah jam Mentari mengurung dirinya, dan masih memejamkan mata. dia berusaha mengendalikan dirinya dengan membuka matanya perlahan. sambil mengangkat keatas tespec yang masih dipegangnya itu.
"Tidak... tidak mungkin aku hamil"
Tangis Mentari pecah saat benda kecil itu berbentuk tanda garis merah dua yang menunjukkan jika dia positif hamil. tubuh Mentari jatuh melorot kelantai sambil memukul-mukul nya.
__ADS_1
Capek menangis Mentari Akir tertidur di kamar mandi itu, dengan kondisi tubuh bersandar didinding kamar mandi, sambil sesekali terdengar isakan tangis dan rasa penyesalan yang mendalam.
Clarisa yang yang baru sampai di kamar, merebahkan tubuhnya yang lelah di diranjang, tersungging senyuman dibibir nya mengingat keberhasilan akting nya dengan Zio, yang mendapatkan begitu banyak dukungan sehingga mereka memenangkan perlombaan itu.
Tiba-tiba Clarisa teringat Mentari, karena dia mendengar Mentari sempat jatuh dan gagal mengikuti perlombaan. segera dia bangkit dan mencari Mentari ditempat tidur nya. karena kamar mereka masih diberi pembatas oleh Mentari.
Clarisa mengerutkan keningnya, karena tempat tidur itu kosong.
"Mentari pergi kemana ya...?" karena kata teman-teman dia istirahat dikamar"
"Mentari.....tok....tok..... Mentari kamu ngak kenapa-kenapa kan... tolong buka pintu nya"
Clarisa mengetok pintu itu secara berulang-ulang, karena merasa khawatir. terjadi sesuatu yang buruk terhadap Mentari. meskipun sekarang mentari memusuhinya. namun Clarisa masih menganggap Mentari sahabat baiknya.
Mentari terjaga saat mendengar ketokan pintu yang berulang-ulang, serta teriakan Clarisa yang tidak sabaran. segera dia membuang tespec itu dan menghapus air matanya.
Mentari berjalan dan membuka pintu kamar mandi, sambil menunduk dia tidak berani mengangkat wajahnya, dia benar-benar merasa malu dan kotor, melihat Clarisa
__ADS_1
"Mentari kamu kok pucat sekali, kita berobat yuk...." ucap Clarisa membantu Mentari berjalan menuju tempat tidur nya
"Aku nggak papa kok, dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku" Mentari naik keatas tempat tidurnya dan menenggelamkan tubuhnya kedalam selimut.
"Besok aku harus memberi tahukan kak Farrel Jik aku tengah mengandung anaknya, dia harus bertanggung jawab. karena aku seperti ini juga karena bujuk rayu" bathin Mentari
Clarisa pun meninggalkan Mentari dan menuju tempat tidur nya, sambil melakukan vidoi call dengan Mama dan papanya.
"Hallo Mama sayang.....! sapa Clarisa manja
"Hallo juga anak Mama cantik, apa kabarmu sayang.... Japan liburan dan pulang nya nak ?" ucap Cantika sambil mengelus-elus perut besar nya, hamil anak kedua mereka.
"Clarisa sehat ma, mungkin Clarisa pulang kampung nya pas Mama labirin adiknya Clarisa aja"
"Ooo begitu ya, jadi kamu nggak kangen sama Mama dan papa ?" Gilang ikut menimpali.
"Tent, kangen banget malah...,, Clarisa pun menceritakan keseruannya selama tinggal diasrama, serta keberhasilan nya memenangkan pementasan. membuat Gilang dan Cantika tersenyum bangga.
__ADS_1