
Dengan tergesa-gesa, sambil sesekali menoleh kebelakang. Mentari memencet password pintu dengan tangan yang gemetaran. dia kuatir Farrel dan para ajudannya bakal mengikuti dan mengetahui letak Apartemen nya.
Setelah masuk, Mentari mengurung nafasnya yang terasa ngos-ngosan. dengan menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. sambil memejamkan matanya.
"Ya Tuhan....,, kalau aku lemah dan mudah tertawa perasaan seperti ini. Bagaimana caraku untuk membalaskan dendamku."
Bunga yang sedang makan disuapi penngasuh Tuti, refleks keduanya menatap kearah pintu dengan pandangan kebingungan.
"Bunda," ucap Bunga berlari menuju Mentari.
Segera Mentari menguasai keadaan kembali,
"Sayang Bunda, lagi makan ya nak.?" memeluk dan membawa Bunga kedalam pelukannya.
"Maaf, kalau aku lancang bertanya.? seperti nya ibu ketakutan ada apa ya Bu.? tanya Tuti penasaran dengan melihat sikap Mentari barusan.
"Ooo itu, tadi aku merasa ada yang ngikutin. besok-besok jika ada yang bertamu. kamu jangan pernah bukain pintu kamar apartemen ini. mengerti ...!!!" ucap Mentari pada Tuti yang terkadang polosnya kebangetan.
"Mengerti Bu.!"
Mentari membawa Bunga kekamarnya, mengajak Putri kecilnya untuk mandi, setelah itu mereka istirahat berdua dikamar. sementara Tuti didapur kebingungan harus memasak apa.? karena bahan-bahan makanan mereka telah habis. hanya sayuran untuk Bunga saja yang tersisa.
__ADS_1
Tuti yang masih gadis itu, bekerja dan tinggal bersama Mentari di apartemen itu. kebetulan mereka juga berasal dari daerah yang sama. sehingga mereka sangat cocok satu sama lain.
"Bagaimana ini, aku harus masak apa ya. tadi pagi ibu Mentari mengatakan bakal belanja pulang kerja. tapi nyatanya dia tidak bawa belanjaan apapun pulang." Tuti mondar-mandir didapur sambil memegang sebungkus mie instan.
Mentari mengendong Bunga dan merebahkan diranjang, setelah dimandikan dan bermain-main sambil bermanja. akirnya Bunga sudah tertidur begitu saja dalam dekapan sang Bunda.
"Sayang, wajah polos dan cantikmu itu mirip sekali dengan Arumi adik bunda dikampung, bagaimana keadaannya keluarga ku sekarang. aku sungguh benar-benar merindukan mereka, Mama...papa....Arumi dan Kiki. kedua adik kembar ku yang lucu-lucu. pasti kalian sudah gede' ya.
Namun, Kedua mata dan bibir mungilmu. sangat mirip sekali dengan bibir sibrengsek itu. " meremas selimut Bunga, meluapkan kekesalannya pada Farrel. ditambah lagi teringat Kejadian dalam lift barusan.
Semoga saja dia tidak mengetahui keberadaan kami berdua, kenapa nasib mempertemukan kami kembali. disaat aku sudah hampir melupakan laki-laki itu. dan memulai kehidupan ku yang baru bersama putriku."
"Ada apa Tuti.?"
"Itu Bu, anu..." Tuti terlihat kebingungan
"Anu apa.? ngomong yang jelas dong." Mentari ikut khawatir melihat tingkah Tuti.
"Bahan makanan kita sudah habis Bu. tinggal ini doang." Tuty mengangkat sebungkus mie instan.
Mentari menarik nafas lega, karena semula dia berfikir Tuti panik. karena Farrel mengetahui keberadaan mereka.
__ADS_1
"Ngak papa Tuti, malam ini kita makan mie instan itu berdua. kamu nggak keberatan kan.?" tanya Mentari.
"Sama sekali nggak Bu, ya udah aku rebus dulu." Tuti kembali ke dapur.
"Semua ini gara-gara sibrengsek itu lagi. selain merebut paksa belanjaanku. dia juga telah mencium dan memelukku sembarangan" umpat Mentari, meskipun dia juga ikut terhanyut oleh perasaan nya sendiri.
Akhirnya malam itu, Mentari dan Tuti makan dengan mie instan dengan kuah yang banyak dicampur nasi, meskipun kurang enak namun mampu membuat mereka kekenyangan.
"Alhamdulillah, akirnya kita makan juga. Tuti kita harus bersyukur meskipun makan seperti ini. karena diluar sana masih banyak orang yang kelaparan bahkan tidak mempunyai apapun untuk mereka bertahan hidup."
"Iya Bu." jawab Tuti tersenyum tulus menatap Mentari yang begitu baik padanya. meskipun mereka belum lama bekerjasama.
Sementara di Apartemen nya, Farrel sengaja meminta Dita untuk mengantarkan belanjaan Mentari kekamar nya. Farrel mulai memeriksa satu persatu belanjaan Mentari.
Mulai dari pembalut wanita, dia mengangkat pembalut itu sambil tersenyum membayangkan Kejora, setelah itu bahan-bahan makanan. yang terakhir membuat matanya terbelalak melihat beberapa kotak susu formula untuk anak-anak dibawah umur lima tahun.
"Susu ini milik siapa, dan untuk apa Kejora membelinya sebanyak ini. apa dia telah mempunyai seorang anak ??" berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya Farrel.
Ya, sekarang Kejora Itu tidak akan bisa memungkiri lagi, dia benar-benar Mentari. dan anak itu adalah anakku. darah daging ku." ucap Farrel yang sangat bersemangat. Farrel pun mengingat-ingat terakhir mereka bertemu.
Umur anakku, sangat cocok dengan umur yang tertera dalam kemasan ini." tertawa senang. kedua ajudan setia nya ikut juga tertawa seang melihat sang bis besar mereka bahagia seperti itu.
__ADS_1