
"Diruangan ini kalian bebas membahas permasalahan yang membuat kalian berselisih paham, tapi ingat. kalian harus bisa mengontrol emosi, karena aku tidak ingin kejadian barusan terulang kembali." suara Rama terdengar lantang. sambil duduk paling depan. ibarat kan dia merupakan pimpinan penting rapat dadakan ini.
Semua terdiam, mulut mereka terkunci rapat. hanya tatapan emosi dan kemarahan yang ditujukan Zio pada Farrel, namun sebaliknya. Farrel malah membalas tatapan itu dengan tatapan penuh perdamaian dan persahabatan.
Rama mengangguk pelan, dia seakan mendalami perasaan Zio. karena selama ini Zio tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap seperti itu. meskipun sedang marah.
"Zio, apa yang membuatmu begitu membenci nak Farrel.?" ucap Rama bijak.
"Apa Papi sudah lupa kejadian beberapa tahun silam, diasrama Zio. dialah penyebab semua masalah yang pernah Zio hadapi dulu." terang Zio.
Rama tercekat, memandang lekat kearah Farrel.
"Berarti kita dulu pernah bertemu, tapi kenapa aku bisa lupa wajahmu.?"
"Benar sekali Om, aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar. aku malu berhadapan dengan kalian semua. tapi perlu kalian semua ketahui. aku sangat menyesali perbuatan bodohku tersebut. aku bahkan susah payah mencari-cari keberadaan Zio dan Clarisa. untuk meminta maaf. meskipun aku sadar, tidak mudah bagi mereka memaafkan kesalahan masa lalu ku itu. bahkan sekarang aku siap menerima kemarahan Zio." ucap Farrel.
__ADS_1
Rama menatap Farrel yang babak belur, serta tatapan mata Farrel yang terlihat jujur dengan ucapan nya.
"Aku percaya padamu anak muda." menepuk pelan pundak Farrel.
"Zio, Clarisa. aku benar-benar minta maaf pada kalian berdua, aku menyesal dengan ambisi serta keegoisan ku dulu." Dengan sportif Farrel mengulurkan tangannya.
"Aku sudah memaafkan mu Farrel, aku percaya padamu. bahkan sekarang kamu menepati janjimu untuk bertanggung Jawab kepada sahabat ku ini." Clarisa merangkul Mentari yang duduk disebelahnya.
Tapi tidak dengan Zio, dia mengabaikan Farrel. Zio masih tidak percaya dan terlihat ragu pada ucapan Farrel.
"Baiklah, aku mencoba memaafkan mu karena semua orang yang ada di sini, tapi jika aku berhasil menemui kelicikan mu lagi. ingat Farrel. aku tidak akan pernah memberi mu maaf lagi." bentak Zio.
"Ya Zio, kamu bisa pegang kata-kata ku." jelas Farrel.
Semua yang ada di ruangan tersebut, tersenyum senang. bahkan Rama bertepuk tangan paling keras. melihat Farrel dan Zio saling berjabat tangan senang'.
__ADS_1
"Akirnya aku bisa bernafas lega sekarang, kesalahan yang membelengguku selama ini. berhasil aku selesaikan satu persatu. meskipun tubuh serta wajah tampan ku ini yang menjadi sasaran utamanya." bathin Farrel,
Saat teringat usaha nya menemui kedua orang tua Mentari dulu. dia juga sempat dihajar babak belur oleh papa mertuanya itu. begitupun dengan Zio sekarang.
"Untuk mendapatkan maaf dari seseorang itu tidaklah mudah, semudah kamu melakukan kesalahan itu." bisik Mentari.
"Iya sayang, tapi aku sudah lega sekarang." ucap Farrel tersenyum pada Mentari.
"Sayang sebaiknya kita kembali pulang saja, aku khawatir melihat lukamu ini." Mentari menatap sudut bibir Farrel yang terlihat pecah dan lebam.
"Baiklah, tapi aku tidak apa-apa dengan luka ini. jadi kamu tidak perlu cemas seperti ini sayang."
"Sebaiknya kita kembali ketempat acara, karena sekarang saatnya yang tepat bagi papi, mengumumkan pada semua. CEO muda penerus perusahaan MNCR Groups." ucap Rama.
"Ayo Pi, mami sudah tidak sabar lagi. melihat anakku yang tampan ini tampil menjadi CEO nantinya." Anyelir memperbaiki penampilan Zio yang berantakan, habis menghajar tubuh Farrel barusan.
__ADS_1
Semua kembali ketempat acara, tapi Farrel dan Mentari hanya sebentar, mereka langsung pamit pulang. karena merasa tidak enak dengan penampilan suaminya yang masih terlihat kesakitan.