
"Mbak Dita saya permisi pulang dulu.!" ucap Mentari yang ingin secepatnya pergi dari perusahaan. yang tiba-tiba membuat nya sesak, saat mata Mentari secara tidak sengaja melihat Farrel yang tengah memperhatikan dirinya lekat, melalui celah-celah ruangan kerja khusus Presdir itu.
"Silahkan Nona Kejora, jika butuh apa-apa silahkan hubungi aku dan Frans secara langsung." Dita menyerahkan No ponsel pribadinya dan Frans. yang tidak sembarangan orang mengetahui No ponsel tersebut.
"Oh, terimakasih Mbak Dita. saya rasa tidak perlu, karena di kantor ini juga sudah ada pihak keamanan, dan tempat khusus bagi karyawan yang ingin melaporkan permasalahan nya." Mentari mencoba menolak. dan memberikan kembali pada Dita.
"Dikantor ini, Anda tidak bisa menolak apa yang sudah diperintahkan oleh Presdir, termasuk memilih Anda sebagai karyawan wanita yang beruntung mendapatkan perhatian khusus dari nya." terdengar Suara Dita yang penuh penekanan dan dingin.
Emosi Mentari sedikit terpancing, namun dia segera menguasai keadaan.
"Aku harus bisa mengendalikan emosiku, dengan bersikap secara profesional. agar jati diriku yang sesungguhnya tidak diketahui oleh Farrel, aku tahu laki-laki brengsek itu pasti sedang penasaran dengan bentuk wajahku, yang akan selalu membuat nya teringat dengan gadis lugu yang pernah disakiti nya beberapa tahun silam." bathin Mentari terus bergejolak.
"Ooo, begitu ya mbak Dita. baiklah saya akan menyimpan baik-baik No ponsel ini."
__ADS_1
Dita hanya mengangguk sekilas, sambil menatap punggung Mentari yang sudah menjauh menuju lift khusus karyawan.
Mentari berjalan pelan menuju minimarket elite, yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi perusahaan dan Apartemennya, sehingga dia tidak membutuhkan kendaraan. kawasan ini juga dipadati para pejalan kaki lainya, yang merupakan karyawan beberapa perusahaan di sekitar lokasi tersebut.
Mentari Memilih beberapa susu formula untuk Bunga, serta kebutuhan untuk satu bulan kedepannya. dia harus mengirit pengeluaran mengingat saldo tabungan yang tinggal tidak seberapa lagi. Mentari pun membatalkan niatnya untuk berbelanja tas dan sepatu yang semula ingin dibelinya. untuk menunjang penampilan terbarunya.
Mentari segera pergi untuk membayar, dia merasa sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di apartemen, bertemu dengan Putri kecilnya yang selalu membuatnya rindu dan bermanja-manja.
Secapek dan seberat apapun permasalahan Mentari, akan hilang seketika. jika sudah melihat senyum dan tawa bahagia Bunga. Mentari tidak menaruh perasaan curiga sedikit pun, dari jarak yang tidak terlalu jauh. Farrel terus membuntutinya.
"Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja." gumam Mentari melanjutkan perjalanan menuju apartemen.
Mentari memasuki lift menuju kamar apartemen, sambil memangku belanjaan didadanya seolah-olah memeluk. dia hanya fokus pada dirinya sendiri, tanpa menoleh pada tiga orang penghuni lift yang ikut menyerobot masuk.
__ADS_1
Mentari melirik ponselnya, sambil memainkannya. namun dari belakang seseorang dengan sengaja terus mendempet ketubuhnya. dengan aroma parfum yang sangat dikenal oleh Mentari. namun dia segera menepis rasa curiga dan penasaran nya.
" Tidak mungkin Farrel." Mentari menggeser tubuhnya agak kesamping, tanpa menoleh kearah orang tersebut.
Semakin Mentari menghindar, orang itu terus mengikutinya pergerakan nya. membuat Mentari mau tidak mau menoleh. yang langsung membuat Mentari terlonjak kaget. namun kembali bersikap biasa.
"Presdir," menyapa sambil menunduk hormat.
Farrel tersenyum membalas sapaan Mentari, sementara kedua ajudan nya. berdiri agak menjauh dari mereka berdua. sambil sibuk dengan ponsel mereka.
"Tuhan kenapa lift ini terasa begitu lama." Mentari mulai resah, karena merasa lift yang dimasuki seolah-olah mati. dan tidak bergerak.
"Cantik kenapa wajahmu terlihat ketakutan seperti itu, aku tidak akan menganggu mu. bahkan aku disini akan menawarkan sebuah kerja sama untukmu." Farrel terus memepet Mentari hingga tersandar dinding lift. jarak mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Maaf Presdir, tolong jaga sikap Anda." Mentari berusaha mendorong tubuh Farrel agar menjauh, namun tenaganya kalah banyak. sementara kedua ajudan Farrel seakan tutup mata dan telinga mereka.