
"Hhhuuaaeekk,,
Hhhuuaaeekk,, "
Caca terus memegangi perutnya yang mual semenjak kemaren, dengan langkah sempoyongan gadis itu menyeret langkah kakinya menuju ranjang. Caca merebahkan kembali badannya yang lemas. sebelah tangan Caca mengusap keringat dingin dan satunya lagi mengelus-elus perutnya.
"Ada apa dengan ku sekarang, apa aku hamil anaknya Azka.?" pikiran Caca menerawang pada kejadian terakhir malam reunian tersebut, dimana dia dan Azka telah melewati malam panjang berdua.
"Tidak, tidak aku tidak boleh hamil. bagaimana ini besok keluarga ku sudah menentukan hari pertunangan untuk ku. aku harus bertindak cepat dan mencari cara untuk segera pergi dari rumah. tapi bagaimana dengan uangku, papa telah menyita atm dan tabungan ku, dan uang yang aku pegang juga tidak seberapa." Caca mulai panik.
Dengan modal nekad Caca berhadil kabur, mengelabui orang-orang yang menjaga rumah. dengan memakai pakaian Bu Darti asisten mereka dan memanfaatkan hijab dan masker. sehingga orang tidak mencurigai nya yang lewat melalu jalan belakang rumah, yang merupakan kebiasaan Bi Darti jika ingin pulang ataupun kepada. dan lekuk tubuhnya juga hampir mirip dengan Caca yang kecil mungil.
"Akirnya aku bisa lolos." ucap Caca tersenyum senang saat sudah berada dalam bus yang membawanya menuju pusat kota.
Gadis itu terbangun, dia mulai kebingungan ketika memeriksa uang yang tidak seberapa lagi.
__ADS_1
"Cuma Zio yang aku kenal dikota ini, dan aku juga masih ingat alamat perusahaan nya. mudah-mudahan saja dia bisa membantu ku bertemu dengan Azka." bathin Caca mencari angkutan yang akan mengantarkan nya kealamat perusahaan Zio.
"Wah bagus dan besarnya perusahaan ini." gumam Caca memasuki lobby. dan berjalan mendekati resepsionis yang menyapanya hangat. Caca pun menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Zio.
"Apa Nona sudah memiliki Janji dengan Tuan Zio sebelumnya?" tanya resepsi penuh selidik.
"Tidak mbak, tapi saya sahabat nya semenjak sekolah." terang Caca.
"Maaf Nona, kalau Anda tidak mempunyai janji. Anda tidak bisa bertemu Bos kami. mengingat dia sangat sibuk." tolak resepsionis itu.
"Aku harus bagaimana sekarang, sedangkan ponsel satu-satunya sudah aku jual buat tambahan ongkos." Caca mulai panik.
"Tidak bisa mbak." resepsionis iutan ngotot melarang Caca.
"Kalau gitu aku boleh menunggu Zio di sofa itu." tunjuk Caca melirik ruang tunggu disudut lobby perusahaan besar MNCR Groups tersebut.
__ADS_1
"Terserah Nona." balas resepsionis.
Caca merebahkan tubuhnya yang sering mersa kekeh dan mudah capek pada sandaran sofa, sambil sesekali mengedarkan pandangannya berharap Zio lewat dan membantu nya. terutama mempertemukan dirinya dengan Azka, sang kekasih pujaan yang telah meninggalkan benihnya dirahim Caca hingga tumbuh berkembang.
Caca tertidur karena kelelahan dan rasa ngantuk yang teramat, tubuhnya tersandar pada sandaran sofa itu, para karyawan kantor yang sempat melintas dan melirik Caca menggelengkan kepalanya pelan.
Sementara diruangan Zio sudah bersiap ingin pulang, dia melonggarkan dasinya dan melangkah menuju lift khusus CEO. yang diikuti asisten setianya dari belakang. saat sampai di lobby Zio menghampiri kerumunan karyawan nya yang saling berbisik.
"Ada apa ini?" tanya Zio melirik tidak suka melihat karyawan yang berkumpul dan berbisik itu.
"Itu Bos , ada wanita yang tidak dikenal. ketiduran disofa kelihatan nya dia pucat sepertinya kondisi nya kurang baik. berdasarkan informasi dari resepsionis dia mencari Bos." terang mereka.
"Mencari ku,?" Zio mencoba melihat gadis yang dimaksud, semua menghindar memberikan jalan untuk CEO mereka.
"Caca." ucap Zio sambil terlonjak kaget, semua terlihat heboh karena Bos mereka mengenali gadis itu.
__ADS_1
"Caca bangun, kamu kenapa sampai seperti ini." Zio menguncang pelan bahu Caca yang sangat panas.
"Zio." ucap Caca pelan sambil berusaha tersenyum, namun tiba-tiba Caca melihat semuanya berputar-putar dan gelap, dia pingsan sempurna setelah bertemu dengan Zio.