
Clarisa, memutuskan memakai salah satu gaun kesayangannya. dan memutar-mutar tubuhnya didepan cermin besar kamar tidurnya.
"Bagaimana Monic, menurutmu penampilan ku sudah cantik belum.?"
"Nona itu sangat cantik, bahkan tanpa dandanan pun." ucap Monic.
"Ha...ha....kamu bisa aja Monic" Clarisa mengoles bedak tipis dan Lips gloss dibibir mungilnya, sederhana namun sangat cantik.
Tokc....tokc...pintu kamar Clarisa diketuk pelayan dari luar.
Monic yang mendengar langsung berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Ada apa bi Tini.?"
"Itu dibawah, Nona Clarisa tengah ditunggu cowok tampan, pakai mobil mewah lagi." jawab Tini janda paruh baya yang juga sering keganjenan.
"Pasti itu Zio." Clarisa langsung berjalan kebawah, meninggalkan Monic dan Tini yang mulai kepo.
Kedua asisten Clarisa itu, ikut berjalan kebawah dan bersembunyi dibalik tirai pembatas ruangan. mereka ingin melihat ketampanan Zio dan Clarisa yang akan pacaran.
Zio mengulum senyum, saat melihat dua pasang kaki perempuan yang terlihat saling berdesakan dibalik tirai, dia tahu jika itu kelakuan kedua asisten Clarisa yang kepo.
__ADS_1
"Kak Zio, udah lama nunggu." sapa Clarisa duduk disofa sebelah Zio
"Ngak, baru aja nyampai." tersenyum memperhatikan wajah cantik dan penampilan Clarisa yang sangat Natural, namun sangat indah dan terkesan mewah.
"Berangkat sekarang yuk." ajak Zio.
"Boleh." Clarisa ikut berdiri berjalan sejajar dengan Zio, yang tanpa canggung dan sungkan lagi membimbing tangannya menuju mobil.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua lebih banyak diam, menikmati perasaan Indah mereka yang saling jatuh cinta. tangan Zio sesekali menggenggam tangan Clarisa dan membawa keatas pahanya.
Tidak ada penolakan dari Clarisa, karena dia juga sangat menikmati momen kebersamaan dengan Zio. Clarisa ingin bercerita banyak dengan Zio namun mulut nya seakan terkunci. begitupun Zio.
"Kak Zio." ucap mereka berbarengan. hingga membuat keduanya tertawa lepas.
"Okey kamu yang duluan ngomong.?" Zio mengalah.
"Ngak Kak Zio saja yang duluan." elak Clarisa
Tanpa mereka sadari, suasa mereka yang semula dingin, kembali mencair dan penuh kehangatan.
Dirumahnya Mentari masih memperbaiki dandanan nya, dia ragu untuk menemani suaminya Farrel memenuhi salah satu undangan salah satu kolega bisnis, yang dulu merupakan rekan bisnis mertuanya Hendrawan, namun karena perusahaan sekarang dipegang oleh Farrel. maka Farrel yang mengantikan.
__ADS_1
"Ayi sayang, apa kamu sudah siap." Farrel menghampiri Mentari di kamar, seraya membawa Bunga kedalam gendongannya.
"Kak Farrel, aku gugup masuk dan mendampingi mu diacara besar itu." ucap Mentari
"Sayang, kamu tidak perlu gugup. mulai sekarang kamu harus terbiasa ikut dan menemaniku ke acara besar dan pertemuan perusahaan. karena kamu itu sudah menjadi Nyonya Farrel Hendrawan secara resmi." bujuk Farrel sambil menyibak anak rambut Mentari.
"Baiklah kak." berusaha menyingkirkan kegugupan nya.
"Kita berangkat sekarang, nanti jika kamu gugup. peganglah terus tangan ku." membimbing Mentari menuju mobil dan Bunga yang ikut senang dalam gendongan papanya.
Selama dalam perjalanan, Mentari merasa perasaan nya tidak enak. bahkan dia terlihat gugup dan gelisah. membuat Farrel mengerutkan keningnya. karena tidak biasanya Mentari gugup seperti itu.
Dia meraih jemari Mentari, dan mencium nya hangat. sambil tatapannya fokus ke jalanan yang dihadapannya. melihat Mentari yang pasrah dan tidak menghiraukan nya. timbul niat iseng Farrel.
Dengan genit dia semula hanya mencium, lalu mengigit salah satu jemari Mentari, hingga membuat istrinya itu berteriak kaget, dan kesakitan. Mentari tersadar dari lamunan nya. menatap kesal kearah Farrel
Tangan nya maju mencubit paha Farrel.
"Sakiiit tau, dada geniiit. ni rasain pembalasan ku."
"Ampun...ampun sayang...ha...ha...ha..." ucap Farrel sambil tertawa lepas, begitu juga dengan Bunga. yang ikut tertawa melihat kedua orang tuanya. kegugupan dan kegelisahan Mentari mencair dan ikut tertawa setelah puas membalas Farrel yang suka menjaihilinya
__ADS_1