
"Siapa nama kamu sayang," Clarissa membelai dan mengusap air mata gadis dihadapannya itu. yang terlihat masih enggan untuk melepaskan pelukannya dari tubuh Clarissa.
"Lara,"
" Nama kamu cantik sekali Nak" tanpa sadar refleks tangan Clarissa membelai wajah ayu Lara, yang mengingatkan Clarissa pada wajah Anyelir mertuanya. mereka mempunyai raut wajah yang sangat mirip, namun mustahil dalam pikiran Clarissa jika mereka memiliki ikatan.
Suara nyaring Davina, membuyarkan kehangatan pertemuan mereka itu, membuat kebencian Lara kembali memuncak pada teman sekelas nya ini.
"Bunda, ayo cepetan," ucap Davina dari dalam mobil, sambil membalas tatapan marah lara dengan senyuman manis penuh persahabatan.
"Iya sayang" ucap Clarissa.
"Lara yuk ikut Tante, biar sekalian saja Tante antarkan kamu pulang," senyum lembut Clarissa, mengajak Lara yang masih terpaku melirik kearah Davina.
"Ng... ngak usah Tante, aku bawa mobil sendiri" jtolak Lara.
"Begitu ya, Tante duluan saja ya Sayang," mereka kembali berpelukan, sebelum Clarissa berjalan menuju mobilnya.
"Kenapa tatapan mata anak itu membuat ku luluh dan sangat menyayangi nya, dan aku merasa kehidupan ku begitu lengkap saat bertemu dengan anak ini," gumam Clarissa yang kembali menoleh kebelakang lalu melambaikan tangannya pada Lara yang masih menatap punggung ya dari belakang.
"Bunda kelihatan dekat banget sama Lara, apa Bunda sudah lama mengenalnya.?" tanya Devan.
"Belum nak, tapi bunda mersa seperti sudah mrmgrnlnlama fan dekat sekali." jawab Clarissa.
__ADS_1
" Aku juga merasa hal yang ma Bun." kata hati Devan.
"Tapi bunda terlihat sering melamun, setelah bertemu Lara." sela Davina yang memperlihatkan sikap aneh Bunda nya.
"Ngak papa sayang" mencoba mengalihkan perhatian kedua sikembarnya yang telah beranjak remaja.
Jessi tersenyum senang, saat mendapatkan informasi dari orang suruhan nya. yang ditugaskan untuk mengintai perkembangan Lara disekolah, serta pertemuan Lara dengan Clarissa siang tadi.
"Clarissa lihatlah, aku telah berhasil membuat anakmu menderita, dan tidak pernah mendapat kasih sayang orang tua nya, sementara anakku Davina sangat kamu manja dan begitu kalian sayangi. kita lihat apa yang akan terjadi dengan anakmu Lara setelah ini. dia akan semakin hancur dan terjerumus dan aku akan membuat anakmu ini akan membencimu dan Zio, dan aku pastikan juga Davina Putri ku akan menguasai semua aset kekayaan keluarga Mncr groups, ha...ha...ha...kamu telah merebut kaki yang aku cintai, sekarang anakku Davina juga akan merebut kasih sayang kalian berdua."
Jenni tertawa puas dan sangat kencang, hingga terdengar sampai ke luar ruangan kerjanya, membuat karyawan dan Asisten pribadi nya menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah dan sikap bos mereka itu yang sering berubah- ubah.
Lara melakukan mobilnya, dia hanya ingin merasakan ketenangan bathin yang begitu nyaman dalam pelukan Clarissa, tapi tidak mungkin bagi nya mengutarakan hal itu pada Clarissa langsung apalagi meminta pada Davina agar mau berbagi kasih sayang Bundanya.
"Bunda, aku juga ingin memanggilmu dengan sebutan itu." gumam Lara. dan kembali melajukan mobilnya kearah Apartemen.
Bi Ijah berjalan mendekati Lara yang baru datang, nampak raut sedih terlihat dari mata Lara yang sembab, habis menangis.
"Sudah pulang Non, capek ya...sini bibi bantu" mengambil tas Lara yang masih tergantung di bahunya, dan memindahkan sepatu nya ke rak yang tersedia. Lara tidak menjawab pertanyaan bi Ijah, tubuh dan pikirannya tersa lelah.
Lara melihat punggung bibi sekilas, wanita paruh baya itu begitu setia dan tabah menghadapi sikap buruknya, yang terkadang kasar dan sering membentak, dilubuk hatinya yang terdalam sebenarnya Lara sangat menyayangi pengasuh nya itu, Lara bersikap seperti itu untuk menutupi kekecewaannya terhadap kedua orang tua nya Edo dan Jess i yang tidak pernah perduli.
Sudah sering Lara mencoba untuk menemui Edo yang dia tahu adalah papanya, namun Edo selalu berusaha untuk menghindar dari Lara, dan selalu mengutus sang asisten pribadi nya untuk menemui Lara, mungkin Edo tidak ingin scandal nya dengan adik sepupunya itu ketahuan oleh istri barunya Denada.
__ADS_1
"Papa....Mama... kenapa kalian tidak pernah menyayangi ku, apa salah Lara... kenapa kalian tidak menginginkan ku." air mata meleleh membasahi kedua pipinya, hingga tanpa sadar Lara menangis lagi sesungukkan, hingga capek dan akhir nya tertidur begitu saja di sofa dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya.
Bi Ijah membetulkan posisi tidur Lara, dan mengunakan bantalan sofa sebagai penyangga kepala nya. dan menyelimuti tubuh Lara dengan penuh kasih sayang.
" Non Lara sayang, kasihan sekali kamu Nak" Membelai sayang rambut bergelombang itu dan merapikan nya.
Lara tidur sambil bergumam tidak jelas, dia memasuki alam mimpinya, nampak sekali dari tidurnya yang gelisah dengan keringat dingin di seputaran wajah nya yang cantik.
"Bunda...., Lara berjalan sendiri ditengah-tengah hutan, tanpa seorang pun yang berada di sana, dia ketakutan sekali ditambah dengan suara binatang hutan yang membuat nya mengatupkan kedua tangan untuk melindungi tubuhnya yang menggigil ketakutan. sambil mencari-cari sosok Bunda.
Lara menangis ketakutan dan memanggil kedua orang nya, Mama....,, Papa...tolongin Lara...hu...hu...hu..,,
"Lara sayang sini nak, peluk Bunda.....,,
Lara mendongakan wajah nya menacari asal suara, dan menatap sosok bayangan seorang wanita cantik, dan itu bukan Jenni tapi Clarissa bunda Davina wanita yang dibencinya.
"Tan... Tante ?"
"Panggil aku Bunda sayang dan jangan takut lagi..Bunda akan selalu bersama mu. mulai sekarang..,,
Lara menghambur Ingin memeluk wanita itu, namun bayangan Bunda tiba-tiba menghilang..
"Bunda.... bunda.... jangan tinggalkan Lara" Lara terus-menerus memangil bayangan itu hingga dia terbangun dari mimpi itu dengan nafas terengah-engah, karena jatuh dari sofa.
__ADS_1
Bi Ijah nampak tergopoh-gopoh menghampiri Lara, sambil membawa segelas air putih.