
"Marilah kita sambut bersama-sama calon penerus perusahaan MNCR Groups, Zio Alexander....." tetiak mc acara ternama, tepuk tangan yang meriah, mengiring langkah Zio menuju panggung megah itu. sambil mengangkat kedua belah tangannya menyapa semua tamu undangan.
Tidak banyak basa-basi yang keluar dari mulut Zio, selain menyampaikan visi dan misi perusahaan kedepannya, dibawah pimpinan nya nanti. Zio juga mengucapkan rasa terimakasih pada kedua orang tua, Opa dan kedua adiknya. yang selalu memberikan suport terbaik untuk nya. dan seseorang yang sangat spesial di hati Zio.
Clarisa menunduk tersenyum malu, saat Zio mengatakan yang terspesial dihatinya sambil menatap kearahnya. sehingga semua mata juga terfokus menatap kearah Clarisa.
Ada yang bertepuk tangan, namun ada juga sebagian wanita cantik disana menatao iri pada Clarisa. perempuan yang berhasil memenangkan dan menggaet hati CEO tampan Zio Alexander.
"Coba saja aku berada diposisi wanita itu, mungkin aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini." ucap salah seorang wanita.
"Aku juga demikian, tapi kalau diperhatikan mereka berdua tidak cocok loh." ucap teman disebelah nya.
"Maksud mu.?"
"Aku rasa, dan yakin sekali. jika wanita itu pasti memakai pelet. kalau tidak mana mungkin CEO baru kita ini tergila-gila nya."
"Ha...ha...ha..." mereka tertawa serempak.
__ADS_1
Clarisa yang mendengar, secara tidak langsung perkataan mereka. memerah kupingnya. dia geram dan emosi. namun sebisa mungkin dia mencoba menguasai keadaan. dan tidak terpancing omongan mereka yang seakan disengaja. agar Clarisa merasa down.
Di mobil, Farrel sesekali meringis. dia sengaja menarik perhatian Mentari yang sedang melamun. sementara Bunga sudah tertidur pulas dalam dekapannya.
Mentari tersadar, ketika Farrel meringis dengan lebih membesar kan volume nada Suara nya yang terkesan begitu dibuat-buat. sehingga Mentari melanjutkan tatapan pada kaca jendela mobil. yang sedang buram karena uap air hujan gerimis.
"Sayangku, Mentari pagi ku... sedang melamun apa sih. seharusnya kita senang dan bahagia sekarang. meskipun suami tampan mu babak belur." Tutur Farrel.
"Salah sendiri, makanya dalam hidup itu kita harus selalu berbuat kebaikan, bukan nya jahat sana - sini."
Mentari menatap Farrel, sebelah tangannya terangkat, membelai lembut wajah Farrel.
"Iya, kamu telah berubah. aku sangat dan bahagia, dengan perubahan mu itu."
Tanpa tersa, mereka sudah sampai di lobby apartemen, Farrel mengambil alih mengendong Bunga yang tidur sangat pulas.
"Biar aku saja, badanmu pasti masih sakit semua." ucap Mentari
__ADS_1
"Tidak, aku masih kuat sayang, bahkan memuaskan mu sampai pagi pun aku masih sanggup." goda Farrel, dan tetap bersikeras mengendong Bunga.
Sampai dikamar, Farrel menidurkan Bunga dengan perlahan, agar Putri kecilnya itu tidak terbangun. ciuman hangat mendarat dikedua pipinya. sementara Mentari membantu menyelimuti tubuh Bunga.
"Ayok sayang, kita kembali istrirah dikamar kita." ajak Farrel sambil merangkul tubuh Mentari.
"Mas Farrel, luka dan bekas lebab itu aku bantu kompres dengan air es ya." bujuk Mentari.
"Baiklah sayang," ucap Farrel menganti pakaian nya dengan piyama tidur, setelah itu dia berbaring disofa menunggu Mentari yang sedang kedapur mengambil air es dan kompresan.
Tidak lama Mentari datang, sambil menenteng air diember berukuran sedang dan handuk kecil. dia duduk disisi Farrel. dan mulai mengompres dengan penuh perasaan dan hati-hati.
"Aduuuuuh...,, teriak Farrel.
"Belum juga dimulai, udah teriak kesakitan." Mentari menatap sewot Farrel yang sengaja ingin menggodanya saja.
"Sayang, meskipun kamu belum menyentuhku, namun perhatian tingkah mu ini. sudah membuat aku sembuh." mengedipkan sebelah matanya. awal yang indah, untuk memulai malam panjang penuh gairah mereka berdua.
__ADS_1