
Giska melonggos kesal, saat melihat tatapan hangat yang ditujukan Farrel pada saat berpapasan dengan Kejora. sementara dirinya tidak sedikit pun di lirik oleh Farrel.
Niat jahat menguasai pikiran Giska, saat melihat Farrel akan memasuki ruangan rapat. diikuti oleh semua peserta rapat. ditambah posisi Kejora berjalan tidak jauh dibelakang Farrel. dengan gerakan cepat dia mendorong tubuh Kejora, hingga gadis itu tidak mampu mempertahankan keseimbangan tubuh. karena sepatu hak tinggi yang dipakainya.
"Ha....ha...rasain kamu cewek sok kecantikan. tamatlah riwayat mu bekerja di perusahaan ini. Bos Farrel tidak akan mentolerir kesalahan anak baru seperti mu. apalagi saat ini dia sedang pusing dengan masalah yang terjadi diperusahaan ini." Giska tersenyum penuh kemenangan.
"Aaawww... brrruuuaarrgg."
Tubuh Mentari oleng, hingga menabrak tubuh Dita. sekretaris pribadi Farrel yang hampir menyerupai laki-laki itu. Dita yang ditabrak dari belakang langsung ambruk. sementara Farrel dengan sigap meraih tangan lembut Mentari. hingga dia belum sempat menimpa tubuh Dita.
Farrel Manarik tangan Kejora dan merapatkan ketubuhnya, seolah-olah mereka sedang berpelukan. pandangan mata keduanya bertemu. seakan menyiratkan perasaan masing-masing.
"Aku merasa dia benar-benar Mentari ku yang dulu, tatapan mata serta sifat gugup nya. hingga aroma tubuh yang tidak pernah berubah. rasanya aku tidak ingin kehilangan gadis ini lagi. Farrel ingin mendekatkan wajah. namun dia kembali tersadar. saat Mentari bergerak mundur dan menarik tangannya dalam genggaman hangat Farrel.
"Tu....tu...Tuan maafkan aku, ti... tidak sengaja." Mentari gugup, dia segera menguasai keadaan. serta melepaskan tubuh dari cengkeraman Farrel. yang seakan-akan tidak mau melepaskan tangannya.
"Kenapa detak jantung ku terus berpacu, saat merasakan kembali hangat sentuhan kak Farrel. tidak...aku tidak boleh terbawa perasaanku, pada kaki-laki brengsek, dan pengecut ini."
Mentari mundur, berdiri disamping Aa Dirga yang terlihat ikut cemas.
"Kejora Kamu ngak papa kan ?" tanya Dirga
__ADS_1
Kejora hanya menjawab dengan gelengan kepala, dan tersenyum tipis. seolah-olah menyembunyikan perasaan yang dirasakan saat ini.
Melihat hal itu, Giska bukan nya mengalah. tapi dia mempunyai seribu akal untuk menyingkirkan Mentari.
"Kejora kamu benar-benar keterlaluan, baru beberapa hari bekerja. sudah memberikan kesan yang buruk terhadap Presdir. Bos Farrel tolong maklum sikap anak baru ini memang terkesan sangat ceroboh. nanti jika perlu saya kan meminta kepala divisi untuk memberikan hukuman. jika perlu memecatnya sekalian Bos." ucap Giska antusias. berharap Farrel sependapat dengan nya.
Mendengar hal itu, Dirga dan Mentari terperanjat kaget. Dirga yang merasa tidak terima ingin maju. namun Mentari dengan sigap menahan tangannya.
"Jangan Aa, biarkan saja." bisik Mentari
Farrel tersenyum sinis mendengar penuturan Giska. dan menjawab dengan nada kesal.
Semua saling pandangan, karena biasa nya Farrel akan langsung menghukum atau tidak akan mentolerir kesalahan para karyawan. namun sekarang berbanding terbalik.
Mentari duduk disebelah asisten Dirga, mereka berdua ibarat satu Tim. sekretaris dan asisten yang bekerja untuk Tuan Hendrawan. rapat dimulai dengan Farrel sebagai pemimpin rapat besar itu. penampilan nya sangat sempurna dan terlihat tanpa emosi dan kemarahan. seperti yang diduga semua peserta rapat.
Farrel sesekali mencuri pandangan kewajah cantik Mentari, tiba-tiba mata Farrel fokus pada tahi lalat yang tidak dimiliki oleh gadis ini.
"Aku merasa dia benar-benar Mentari, tapi gadis ini tidak memiliki tai lalat di sudut bibirnya. bahkan dia seolah-olah tidak mengenali ku." Farrel pun membisikkan sesuatu pada Dita.
"Dita coba kamu periksa semua data-data dari sekretaris baru itu, dan segera bawa kehadapan ku." perintah Farrel.
__ADS_1
"Baik Bos,"
Dita dengan segera pergi menuju HRD. tidak butuh waktu lama bagi Dita. dia sudah kembali dengan sebuah map ditangannya.
"Ini Bos, data-data lengkap gadis itu."
Farrel memeriksa berkas Kejora dengan teliti, dan berharap sekali dugaannya benar. namun dia kembali dibuat kecewa.
"Tidak... tidak mungkin, aku merasa dia itu benar-benar Mentari ku. semua raut wajahnya dan lekuk tubuh sama persis. cuma tai lalat itu yang tidak dia punya. serta semua datanya juga jauh berbeda."
Farrel menelan Salivanya, dengan perasaan sedih dan penyesalan akan masa lalunya.
"Mentari kamu pergi kemana sayang, apa kamu menjaga dengan baik anak kita."
Farrel bangit, dan meninggalkan ruangan rapat begitu saja.
"Fans kamu lanjutkan saja." ucap Farrel pada asisten pribadi nya.
Sebelum melangkah keluar, Farrel kembali menatap Mentari.
"Aku yakin sekali dengan perasaan ku, aku akan mencari bukti sendiri tentang dirimu sesungguhnya cantik. calon ibu dari anak-anak ku seterusnya." Farrel mengulum senyum kearah Mentari. membuat gadis itu langsung menunduk gugup dan malu. persis sewaktu dia mengejar-ngejar cinta Farrel dulu.
__ADS_1