Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)

Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)
Bertemu Clarisa


__ADS_3

Hari ini Zio datang ke perusahaan sang Papi, senyum Zio mengembang membalas sapaan para karyawan, yang kebetulan berpapasan atau sengaja menyambut kedatangan calon CEO baru perusahaan mereka nantinya.


"Pi, ternyata sudah sekian lama. suasana di kantor papi tidak ada yang berubah ya." ucap Zio sambil berjalan mengitari ruangan kerja Rama.


"Papi sengaja tidak merubah suasana nya, tapi setelah kamu mengantikan posisi papi nanti. kamu bebas melakukan dan merubah bentuk tata ruangan ini. sesuai dengan selera dan keinginan mu." ucap Rama.


"Zio Minggu depan adalah hari perayaan ulang tahun MNCR Groups, mami kamu sengaja memesan pakaian khusus untuk keluarga kita dari perancang muda dan sudah sangat terkenal." ucap Rama.


"Mami berlebihan sekali Pi." Zio duduk dikursi kebesaran sang Papi.


"Mamimu sengaja, karena selain acara ulang tahun perusahaan. akan ada juga acara penyambutanmu dan juga pelantikan resmi kamu menjabat CEO muda dan tampan yang telah akan mengantikan posisi papi." ucap Rama bersiap menuju ruangan rapat besarnya.


"Secepat itukah Pi.?" Zio menyipit kan matanya.


"Iya, karena papi mau fokus pada perawatan penyakit Opa, yang harus dilakukan di Jerman." ucap Rama sambil tersenyum melirik Zio yang masih terlihat kebingungan.


"Terserah papi sajalah." Zio akirnya mengalah.


"Sekarang kamu tunggu papi diruangan ini saja, mengingat papi ada urusan penting. nanti mami sempat menghubungi Papi. jika ada perancang pakaian yang datang kekantor ini. untuk mengukur tubuhmu agar nantinya pakaian itu sesuai dan pas saat kamu kenakan diacara penting itu."


Rama pergi meninggalkan Zio, dan menutup pintu ruangannya pelan.


"Aku yakin anakku Zio, akan mampu mengembangkan dan menjalankan perusahaan besar ini, meskipun tanpa campur tangan dariku lagi." Rama mengayunkan langkah penuh percaya diri dan yakin akan kemampuan anaknya kelak.

__ADS_1


Zio mulai fokus memeriksa beberapa file perusahaan, papi sengaja menyuruh Zio melakukan itu agar dia mudah belajar dan mengerti. konsentrasi nyabuyar ketika terdengar seseorang beberapa kali mengetuk pintu ruangan kerja Papinya tersebut.


"Masuk." terdengar suara sahutan Zio, yang kembali fokus pada file yang dipegangnya.


"Maaf Tuan saya terlambat." ucap seorang gadis cantik sambil menundukan wajahnya.


Tangan Zio bergetar, file yang dipegangnya seketika terlepas. saat telinganya kembali mendengar suara yang selama bertahun-tahun ini begitu dirindukannya.


"Clarisa....,," spontan Zio mengucapkan kata itu, dia berdiri berjalan mendekati gadis yang masih menunduk itu.


"Kenapa Tuan ini mengenali namaku." bathin Clarisa dan mengangkat wajahnya, pandangan keduanya bertemu. seakan bercerita kembali pada masa lalu indah sekolah mereka dulu. sebelum masalah besar itu menerpa hubungan mereka.


"Kamu Clarisa kan." ucap Zio antusias.


"Ya, dan kamu pasti Zio Aleksander." Clarisa mengangkat satu jari telunjuknya kearah Zio.


Rama yang baru selesai dari pertemuan penting. dengan klien dari Jepang, langsung masuk menuju ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu pintu tersebut. karena dia merasa cuma Zio sendiri diruang kerjanya itu.


"Zio." ucap Rama syok, pandangan mata nya membulat, seakan tidak percaya anak sulung kebanggaan nya berpelukan hangat dengan desainer pakaian keluarga mereka.


"Papi." Zio segera melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Clarisa. dia tidak kalah salah tingkah dengan Zio.


Dirumahnya Farrel, juga semakin gencar mendekati Mentari, bahkan dia sengaja pindah keapartemen Mentari agar selalu bisa dekat. alasannya demi Bunga.

__ADS_1


Meskipun jengkel dan marah, namun Mentari selalu berhasil dilumpuhkan oleh sikap lembut dan perhatian Farrel. seperti malam ini Farrel mengajak keluarga kecilnya untuk makan malam beragam. suasana yang romantis dan kue besar berbentuk hati terukur indah sebuah nama ditengah-tengah nya.


"I Love You. Mentari."


Me!buat Mentari terlonjak kaget, dia tidak menyangka jika Farrel telah mengetahui siapa jati dirinya yang sesungguhnya.


"Farrel jadi selama ini kamu..." ucapan Mentari terputus, saat jemari tangan Farrel diletakkan di bibir Mentari. kemudian tubuh Farrel turun memeluk kedua lutut Mentari sambil menangis.


"Mentari maafkan aku, sedari awal bertemu aku sudah tahu jika kamu Mentari, bahkan aku sudah menemui keluarga mu dikampung. untuk meminta maaf atas kesalahan yang aku perbuat. sayang tolong maafkan aku, aku benar-benar menyesal dan bersalah. semenjak kepergian mu aku selalu berusaha keras untuk mencari keberadaan mu sayang. aku tidak pernah menyerah. hingga jalan hidup mempertemukan kita kembali. aku mohon sayang tolong maafkan aku...hu...hu..."


Mentari yang semula begitu marah dan ingin mencakar wajah Zio dengan jurus kucing mabuk. akirnya luluh juga melihat kesungguhan dan air mata Farrel. dan pelukan Bunga yang begitu erat pada Farrel. seakan dia tidak ingin dipisahkan lagi dari papanya.


"Baiklah aku memaafkanku demi Bunga, ingat aku tidak akan memberikan kesempatan kedua lagi padamu Farrel. jika kamu nantinya menyakitiku dan Bunga."


"Tidak sayang, pegang janjiku."


Mereka meniup lilin ulang tahun bertiga, fran dan Dita mengabadikan momen bahagia keluarga kecil itu.


"Sayang ini untukmu." Farrel memberikan sebuah bingkisan ulang tahun untuk Mentari, dengan dada yang masih berdetak kencang, Mentari membuka bingkisan tersebut.


Matanya membulat melihat kado pemberian Farrel, sebuah sertifikat rumah mewah atas nama Mentari, dan deposito untuk Mentari dan Bunga.


"Farrel apa ini tidak berlebihan" tanya Mentari

__ADS_1


"Sayang ini tidak sebanding dengan pengorbanan selama ini, termasuk membesarkan dan mengurus Bunga sendirian."


Mereka bertiga berpelukan hangat, diiringi musik yang sangat romantis, Dita dan Frans ikut tersenyum senang. seakan-akan ikut terbawa suasana hati Bos besar mereka.


__ADS_2