
Azka memberanikan dirinya, mengayunkan langkah kaki Menaiki bis menuju tempat tinggal orang tua caca, keringat dingin membasahi tubuhnya. pikiran Azka berkecamuk membayangkan kemarahan orang tua Caca.
"Azka, jangan takut. kita akan hadapi bersama-sama apapun yang akan terjadi nantinya." suara Caca terdengar bergetar, meskipun gadis itu berusaha untuk tetap terlihat kuat dan berani.
"Iya Ca, demi anak kita." Azka tersenyum mengelus perut Caca yang duduk disampingnya.
Perjalanan yang mereka tempuh tersa begitu panjang, Azka sudah mulai mersa gelisah. pandangannya tertuju pada luar jendela Bis yang bergerak.
"Yuk Azka kita masuk," ajak Caca menarik tangan kekasihnya itu untuk mendekati pintu rumahnya yang masih tertutup.
"I...iya," jawab Azka gugup.
Pelayan rumah segera berjalan tergopoh-gopoh membuka pintu, begitu melihat kedatangan axka melalui celah pintu jendela kaca.
"Ceklek, non Caca silahkan masuk." ucap nya dengan wajah berbinar-binar bahagia melihat kedatangan Nona muda nya.
"Mama dan papa mana Bi?"
__ADS_1
"Ada Non, mereka sedang bersantai diteras taman samping rumah." terang Bi Yam pelayan yang sudah lama mengabdi kepada keluarga Caca.
"Terimakasih ya bi," jawab Caca tersenyum ramah sambil menggandeng Azka.
Biyam tersenyum juga melihat Azka yang masih terlihat gugup, dia menggelengkan kepalanya pelan mengagumi ketampanan Azka.
"Semoga non Caca bisa bahagia dengan pasangan pilihan hatinya, bibi hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan non Caca." Gumamnya pelan.
"Mama, papa." ucap Caca sambil berusaha memegang erat tangan Azka yang ikut dingin. aura ruangan itu tiba-tiba mencekam.
Mama dan papa, seketika menoleh kearah Caca dan Azka, tatapan mata mereka terlihat tajam dan menusuk. Caca tidak berani mengangkat kepalanya, begitu juga dengan Azka.
"Me...mencari Azka pa.!"
"Untuk vaoa kamu mencari laki-laki ini, apa ini hasil didikan yang kamu dapatkan selama ini.?"
"Pa, ma maafkan Caca, karena tidak bisa membuat kalian berdua bahagia. Caca dan Azka saling mencintai, pa."
__ADS_1
"Cinta tidak akan membuat mu hidup bahagia, apalagi dengan dia yang hanya anak kampung dengan masa depan yang tidak jelas." terang papa Caca emosi.
"Om boleh merendahkan saya, tapi paling tidak saya masih bisa menghidupi dan membahagiakan Caca dengan usaha saya sendiri." ucap Azka tidak terima diremehkan papa Caca.
"Usaha apa? kamu pikir mampu menghidupi anak saya dengan usaha jengkol mu itu?" tersenyum meremehkan.
"Pokoknya Caca hanya ingin menikah dengan Azka, jika papa dan Mama tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang ayah." cac menangis tubuh nya bergetar dan langsung berlari Menghambur ke pelukan mamanya, yang terlihat lebih bersikap sabar dan sedikit tenang.
"Ma, tolong bujuk papa. dan resrtui kami." ucap nya menangis.
"Apa kamu hamil nak?" Mama Caca tercekat tidak percaya dengan pendengaran nya.
"Dasar anak tidak berani...berita.. guna kamu!" ucap papa sambil memegangi dadanya tersa perih dan sesak.
"Pa,papa kenapa?" Caca dan Mama berlari menghampiri papanya yang amruk tidak sadarkan diri lagi. sementara Azka kebingungan harus berbuat apa.
"Bangun pa, bangun hu...hu..." tetiak Mama dan Caca.
__ADS_1
Azka dibantu sopir pribadi papanya segera melarikan papanya kerumah sakit terdekat, untuk segera mendapatkan pertolongan. sementara Mama terus menerus menangis disamping suaminya.
Rasa penyesalan dan kesedihan membuat Caca menutup mulutnya dengan punggung telapak tangan, berusaha menahan isakan tangis. Caca berjalan mendekati Azka mereka pun berpelukan.