
"Aku harus segera bersiap, dan tampil cantik dihadapan Mami nanti," gumam Lara. sambil memilih-milih pakaian nya yang menurut nya paling cantik dan imut saat dikenakan nya nanti.
"Non Lara mau kemana?"
"Kerumah teman bi, belajar kelompok, " mulai menyusun buku-buku nya.
"Ooo baguslah, hati-hati dijalan ya non."
"Iya bi," teriak Lara yang sudah berjalan menuju pintu.
Dengan semangat Lara melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang mulai padat kendaraan, dia menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala dan bersenandung kecil menikmati suasana hati nya yang senang.
Pandangan mata Cantik Lara sekilas melihat seperti sosok Jeni yang sedang bermesraan dengan seorang laki-laki yang bukan papanya Edo, mereka berada tidak jauh dari deretan mobil nya yang berhenti. Lara mempertajam penglihatan nya, namun suara klakson mobil lainnya yang memekakkan telinga membuat Lara melajukan mobilnya kembali mengingat lampu merah sudah bertukar warna.
"Mama ternyata kamu berada di negara ini, tapi kenapa ma... kalian tidak memperdulikan ku bahkan untuk menjenguk ku pun tidak pernah. sebegitu tidak diinginkan kah kehadiran ku ditengah-tengah kalian"
air mata Lara kembali membanjiri kedua pipinya.
"Okey mulai sekarang aku tidak akan mengharapkan kasih sayang kalian lagi, aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri" mengusap air mata, kemudian Lara memperbaiki riasanya agar Clarissa akan tertarik melihat kecantikan nya.
__ADS_1
"Bunda, aku tidak sabar lagi untuk bertemu dengan mu." gumam Lara yang sudah memasuki gerbang utama Rumah mewah Davina, nampak mobil teman-teman sudah parkir di halaman luas itu, yang menandakan mereka telah berkumpul di dalam.
Lara melangkah turun, mengagumi keindahan dan kemewahan Rumah itu, Sambil tersenyum sinis.
"Beruntung sekali hidupmu Davina, aku juga ingin hidup seperti dirimu." gumam Lara seraya berjalan menuju pintu dan memencet bel, tidak lama pelayan Rumah membukakan pintu.
"Mari Nona silahkan masuk" ucap pelayan hormat.
"Terimakasih" Lara mengedarkan pandangannya kesekeliling rumah besar itu, dimana setiap sudut terdapat beberapa miniatur mahal.
"Wah bagus sekali" Lara berjalan mendekati dan melihat berbagai pajangan mewah, yang merupakan koleksi mendiang Oma Merlin semasa hidupnya.
"Bun.... Tante," Ucap Lara.
"Iya sayang, kamu apa kabar.?" sapa Clarissa ramah.
"Sehat Tante."
"Kamu pasti mau bela kelompok, teman-teman mu sudah menunggu di taman ************." Ucap cl.
__ADS_1
"Baik Tante, Lara segera kesana." karena tidak fokus berjalan, Lara menabrak sebuah miniatur menara hingga jatuh dan pecah.
"Lara kamu merusak peninggalan Oma ku yang paling berharga, aku yakin kamu sengaja melakukan itu" ucap Davina kesal, karena disekolah Lara pun sering mengerjainya.
"Aku tidak sengaja, lagian kamu mengagetkan ku" Ucap Lara yang tidak terima tuduhan Davina.
"Sudah....jangan ribut. Lara kan tidak sengaja, mending sekarang kalian belajar," Ucap Clarissa meminta pelayan untuk membersihkan pecahan itu. Suara mereka terdengar hingga ke taman belakang, teman-temannya berlarian menuju asal suara.
"Ada apa ini" suara bariton Devan terdengar memandang bergantian Davina dan Lara. sementara teman-teman yang lain bungkam, masih syok melihat pertengkaran itu
Melihat semua berkumpul, tiba-tiba Lara menangis, mencoba menarik perhatian semua orang yang berada disana.
"Hu...hu....hu....,, Davin aku sudah minta maaf, dan tidak sengaja menyenggol miniatur ini, lagian kamu datang secara tiba-tiba dari belakang mendorong dan mengagetkan ku hu...hu..." ucap Lara terus menangis.
"Bohong..aku tidak pernah mendorong mu Lara, lagian disini ada Bunda, kalau tidak percaya. kalian tanya saja Bunda." Davina membela dirinya.
Meskipun tidak begitu memperhatikan kejadian itu, hati Clarissa benar-benar luluh melihat air mata Lara, termasuk Zio yang ikut mendekati mereka, Zio menatap Lara dia merasa mata Lara itu mengingatkan akan mata maminya anyelir.
"Sudahlah sayang.... jangan menangis, cup...cup" Clarissa Mengusap sayang punggung Lara. dan memberikan minuman segar.
__ADS_1
"Terimakasih Tante" Lara meminumnya