
"Kok heran gitu, Bunga cantik udah lupa ya...kita kan pernah ketemu di lobby" jelas Farrel.
Senyum mengembang dibibir mungil Bunga, saat dia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Farrel.
"Iya Bunga ingat. Om yang pernah nolongin Bunga waktu kita ketemu disana.!" Bunga menunjuk ke arah lobby
Mentari langsung menarik tangan Bunga, lalu membawa kedalam gendongannya.
"Sayang, kamu ngak boleh langsung akrab gitu, sama orang yang baru kita kenal." bisik Mentari namun terdengar jelas ditelinga Farrel. Mentari langsung menuju lift. karena dia yakin sekarang Farrel tidak mungkin lagi bisa berbuat macam-macam lagi terhadapnya, mengingat ada Bunga dalam dekapan nya.
Dalam lift. Farrel kembali berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengan Mentari, sambil terus menggoda Bunga yang begitu senang bertemu kembali dengannya.
"Ment,, uups lupa. Kejora sini aku bantuin gendong Bunga ya." bujuk Farrel. Namun Mentari memutar tubuhnya menghadap ke arah lain. dan menyapa seorang ibu-ibu yang ikut menaiki lift tersebut.
Farrel melonggos kesal melihat Mentari yang terus mengabaikan nya, namun dia tidak kehabisan akal.
"Bunga sayang, sini gantian yang gendongin. kasian Bunda nanti dia kecapean." bujuk Farrel sambil merentangkan tangannya pada Bunga. gadis kecil itu tanpa canggung lagi, langsung menerima uluran tangannya, Farrel tersenyum senang saat melihat wajah Mentari yang terlihat kesal itu.
"Mas anaknya cantik dan imut sekali ya." ucap yang lainnya.
"Iya mirip banget deh sama bapaknya.!" ibu yang berdiri disebelah Mentari ikut berkomentar.
__ADS_1
"Terimakasih Bu, atas pujiannya. saya sangat senang mendengarnya. paling tidak bukan saya saja yang merasa seperti itu, jika wajah kami berdua benar-benar mirip. Farrel mencium kedua pipi Bunga."
Melihat hal itu, Mentari mengepalkan tangannya. ingin rasanya dia mencakar- cakar wajah Farrel yang masih tertawa lepas. ditambah lagi Dita dan Frans yang sengaja ikut menimpali.
"Tahan Mentari. tahannnn....emosi dan kemarahan mu, mereka sengaja agar jati dirimu yang sesungguhnya terbongkar. atau mereka hanya ingin mempermainkan dirimu."
"Bos gimana jika Tuan Putri kita ini, diajak liburan ketempat bermain anak. kalau tidak salah namanya Taman seribu Bunga. disana terdapat air mancur, kolam renang, serta permainan anak-anak lainnya. juga disana dikelilingi taman bunga yang indah." ucap Dita.
"Iya Bunga mau....mau,, selama ini Bunda selalu sibuk. dan jarang ajak Bunga jalan-jalan." gadis kecil itu terlihat begitu antusias dan senang'.
Mentari merebut paksa Bunga dalam gendongan Farrel, dan langsung melangkah keluar dari lift. namun Mentari menghentikan langkahnya saat merasa Farrel sengaja mengikutinya. hingga pintu apartemennya.
"Kami tidak mengganggumu cantik, kalian berdua kembali lah menuju apartemen kalian masing-masing." perintah Farrel pada Dita dan Frans.
"Okey Bos, kalau begitu kami permisi dulu." mereka pergi
"Sekarang tinggal kamu cantik, kenapa masih berdiri disini. atau kamu mau ikut masuk kedalam apartemen ku. jika begitu aku sangat senang sekali. karena tidak merasa kesepian lagi tinggal sendirian." ucap Farrel
"Bunda Bunga mau tinggal bersama Om, biar Bunga juga ada teman." rengek Bunga.
"Tolong Anda tinggalkan kami, dan jangan ganggu kami lagi." Mentari sudah hampir kehilangan kesabarannya.
__ADS_1
"Okey baiklah, tapi tolong kamu minggir. karena kamu berdiri tepat di depan pintu masuk apartemenku." ujar Farrel sambil mengulum senyum.
"Apa." mata Mentari membulat. dia benar-benar syok dan tidak percaya, mengingat ruang apartemen mereka berhadapan.
"Kenapa wajahmu menjadi tegang begitu sayang, aku sengaja membeli apartemen ini. agar kita bisa setiap hari bersama baik dikantor maupun apartemen." goda Farrel.
"Apa tujuanmu mendekati ku.?"
"Tujuan ku cuma satu, ingin selalu dekat denganmu. mengingat wajah cantik mu itu mirip sekali dengan istriku yang hilang, meskipun nama kalian berbeda. coba kamu perhatikan password apartemen ku ini, sengaja aku mengunakan namanya." Farrel menekan password dengan kata Mentari.
"Aku tidak butuh keterangan mu itu, yang jelas aku bukanlah Mentari yang kamu maksud. tapi namaku Kejora. jadi jangan pernah menyamakan kami" elaknya
"Ngomong-ngomong, Kenapa wajah Bunga mirip sekali dengan ku ya. atau jangan-jangan aku bapaknya?" Farrel mengedipkan matanya.
"Emang, brengsek." ucap Mentari tanpa sadar dan langsung menutup mulutnya.
"Maksudnya, bapak Bunga telah meninggal. dan perlu kamu tahu akulah yang membunuhnya. jadi aku peringatkan Jangan ganggu aku lagi. jika Anda tidak ingin mengalami nasip yang sama."
"Tapi aku tidak takut, malah aku semakin tertantang untuk menggantikan papa Bunga yang telah kamu bunuh itu."
Bunga hanya menatap heran, kedua orang yang terlihat saling berdebat itu.
__ADS_1