
"Hu...uu... Om sedih Bunga." Farrel berakting nangis memeluk Bunga, dan mengedipkan sebelah matanya saat Mentari melotot tajam kearah Farrel.
"Om jangan nangis, Bunga sayang kok sama om Farrel."
"Kalau Bunga sayang sama Om, berarti Om boleh dong mengajukan permintaan pada Tuan Putri Bunga."
"Tentu boleh, permintaan apa Om.?"
"Om ingin mulai sekarang, panggil Om dengan sebutan Papa, mau nggak sayang...?" ucap Farrel.
" Tidak bisa.!!!" teriak Mentari, namun tidak dengan Bunga. dia nampak antusias sekali.
"Mau...mauu... Bunga sudah lama pengen papa....hore....hore...." gadis kecil itu tertawa lepas penuh kebahagiaan berlarian.
Farrel menitikan air matanya, dia terharu mendengar penuturan polos Putri nya. timbul rasa bersalah. karena telah menyia-nyiakan mereka. meskipun Farrel sudah lama berusaha kersa mencari Mentari dan Bunga.
__ADS_1
Mentari yang semula marah dan kesal, akirnya luluh melihat pancaran kebahagiaan Bunga. memangil Farrel dengan sebutan Papa.
"Tuan, aku harap kamu jangan besar kepala dulu, mendengar anak ku memanggilmu dengan sebutan itu. aku membiarkanmu karena tidak ingin merusak kebahagiaan putriku itu, dia terlihat sangat senang dan bersemangat bertemu dengan mu, aku harap kamu tidak membuat wajah ceria dan polos nya itu terluka." ucap Mentari lirih.
"Kamu tidak perlu khawatir Kejora, karena aku menganggap Bunga sebagai Putri kandungku sendiri, kamu tag sendiri kan ceritaku kemaren. aku kehilangan anak istriku. yang wajahnya sangat mirip dengan kalian berdua. bahkan aku sempat berfikir jika mereka adalah kamu dan Bunga." ucap Farrel.
"Apa.?? bren- kamu." Mentari yang kesal langsung mencubit kersa pinggang Farrel. namun dengan sigap Farrel menarik tangan Mentari, hingga hilang keseimbangan, dengan sigap Farrel membawa tubuh Mentari kedalam dekapannya. pandangan mata mereka kembali bertemu. seperti kejadian dalam lift.
"Bunda....papa...." teriak Bunga menatap heran kedua nya.
"Papa dan Bunda sedang apa.?" ucapnya polos
"Oooo, itu sayang, tadi papa minta Mama supaya nyuapi papa sarapan. tapi Bunda marah dan nyubitin papa keras...sakit lagi."
"Bunda jangan gitu, kasihan papa..., Bunda tolong ya suapi papa. Bunga mohon...." mengatupkan kedua tangannya ke depan dengan wajah imutnya.
__ADS_1
Mentari tercekat, tidak pernah dia melihat anaknya seperti itu, apalagi sampai memohon. Bunga selalu menerima apapun yang Mentari katakan. tanpa meminta ini dan itu.
"Ba...baiklah nak." Mentari terbata-bata dan berjalan menuju meja makan.
"Hore....hore..." Bunga dan Farrel tos bareng sambil tertawa senang.
Tangan Mentari sedikit bergetar, dan terlihat gugup. kenangan mereka selama Sekolah seakan kembali berputar indah. menghabiskan makanan sepiring berdua. sa!bila suap-suapan.
"Farrel, coba saja dulu kamu tidak pengecut dan benar-benar tulus mencintai ku dan bayi yang aku kandung. mungkin saat ini aku dan Bunga hidup penuh dengan kebahagiaan. sekarang kamu kembali... seakan memutar kembali kenangan indah yang pernah kita lalui berdua" bathin Bunga
Farrel tersenyum menatap Mentari, dia yakin sekarang Mentari pasti teringat kembali masa-masa indah mereka berdua dulu. tanpa sadar tangan Farrel juga terangkat dan balik menyuapi Mentari.
"Aku bahagia sekali, bisa merasakan kembali suapan dari wanita yang sangat aku rindukan ini. rasanya begitu indah dan makanan ini jauh lebih enak. karena sentuhan lembut tangnya." gumam Farrel
Keduanya saling pandang, seakan mencurahkan perasaan masing-masing. hingga sendok yang dipegang Mentari jatuh berdering jelang. membuat lamunan keduanya buyar.
__ADS_1
Tuti yang menyaksikan semua, membawa Bunga dalam gendongannya, dia seakan-akan ikut terbawa suasana romantis perasaan sang majikannya itu.