
Edo mengusap dadanya berusaha untuk menguatkan hati dan perasaan rindu pada Putri kandung nya Davina, dia benar-benar hancur dengan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam, Atas kejadian beberapa tahun silam. kerena kesalahan yang berakibat fatal menghamili Jeni yang merupakan adik sepupu nya. membuat nya kilaf dan gelap mata menyerahkan putri yang baru terlahir ke dunia beberapa jam suster yang mereka bayar untuk menukarkan anak mereka, Edo juga takut dengan ancaman Jeni yang akan membeberkan pada orang tua mereka jika Edo tidak mau menyetujui idenya. .
Meskipun Edo pernah menemui Jeni dan membujuknya untuk mengakhiri permusuhan dan dendam itu, namun tidak membuat Jeni itu luluh, bahkan mengancam akan menghabisi nyawa Lara atau Clarissa. jika berani membuka tabir rahasia itu.
"Bodoh kamu Edo , seharusnya kamu bangga anakmu akan mewarisi kekayaan MNCR groups, bahkan nantinya secara tidak langsung. akan aku buat dia membantuku membalaskan dendam ku terhadap Clarissa" Jeni tertawa puas dengan ambisinya yang menggebu.
Edo Akir nya pasrah dan kembali menetap tinggal di Luar Negeri dan mengikuti perkembangan Davina melalui media sosial nya.
"Putriku kamu memang cantik," mengusap lembut foto Davina, seiring berjalannya waktu Davina tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar. hingga membuat Edo tidak tahan lagi dan memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air nya.
Siang ini Edo sengaja mengikuti Davina dan teman nya, yang sedang berbelanja berbagai macam pakaian remaja masa kini. Edo berjalan melintasi mereka.
Tiba-tiba Edo langsung menghampiri Davina begitu mendengar suara teriakan minta tolong dari sang putri Davina yang melangkah keluar, dengan menenteng barang-barang belanjaan nya. tiba-tiba dua orang berbadan tegap mengadang langkah Davina dan temanya.
“Jangan berteriak Nona, jika tidak terpaksa kami menyakiti tubuh cantik mu dengan pisau ini.” Ucap mereka.
Davina ketakutan dan kebingungan, tempat nya lumayan ramai namun orang-orang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Penodong ini juga cukup profesional dia seolah-olah tidak sedang menodong. Orang-orang yang melihat pasti mengira hanya ngobrol biasa.
“Tolong jangan sakiti aku,” Davina mencoba membuka tasnya dan memberikan pada mereka.
__ADS_1
Edo yang melihat gelagat aneh itu, segera menghadang mereka. Perkelahian pun terjadi Edo mampu dengan mudah melumpuhkan kedua penodong itu. hingga pisau ditangan mereka terlempar jauh.
Semua berteriak histeris, termasuk Davina menutup matanya dengan kedua tangannya, membayangkan kehidupan nya di dunia akan segera berakhir.
“Nak kamu tidak apa-apa Khan.?” Terdengar suara Edo dengan nada cemas dan sangat kawatir.
Perlahan Davina membuka matanya, Melihat laki-laki yang sedikit terluka memegangi sebelah lengannya yang mengeluarkan sedikit darah. Sementara kedua penjahat itu sudah berhasil diamankan oleh pihak yang berwajib.
"Ngak papa kok Om, terimakasih sudah menolong kami." Ucap Davina tersenyum tulus.
"Tangan Om berdarah," Davina terlihat cemas melihat ketangan Edo.
"Ini cuma luka kecil nak," tangan Edo yang terluka diberikan obat p3k oleh salah seorang petugas keamanan disana.
Davina dan Anye sahabat nya saling pandang, mereka terlihat ragu dan malu untuk berterus terang, jika sesungguhnya mereka berdua belum makan siang.
"Sebenarnya Om belum makan, Kalian berdua mau nggak temani om makan di restoran Jepang itu"
Edo menunjuk Restoran Jepang yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
__ADS_1
"Bisa kok om" mereka bertiga pun berjalan memasuki restoran, berjalan beriringan.
"Ya Allah ampuni kesalahan yang pernah aku perbuat, ternyata Putri ku tumbuh menjadi anak yang baik, serta lemah lembut. ternyata keluarga Alexander mendidik Putri ku menjadi anak yang baik. maaf kan kesalahan ku... termasuk mengabaikan anak mu Lara." gumam Edo.
"Baiklah setelah ini aku juga akan belajar menyayangi dan mencintai Lara, seperti yang kamu lakukan kepada Davina anak ku, meskipun dia terlahir tanpa kami kehendaki, namun sekarang aku begitu menyayangi nya."
"Om silakan dimakan"
"I...iya nak, kalian berdua dihabiskan juga makanannya" ucap Edo menatap Davina dengan penuh kasih sayang, dan Anye sahabat Davina terlihat risih.
"Davina, hati-hati kayaknya om itu naksir kamu dech." bisik Anye.
"Ngak mungkin Anye, dia terlihat baik dan tulus membantu kita." balas Davina.
"Oya kita belum kenalan tapi udah akrab gini ya " Celetuk Anye akirnya.
"Iya ya maaf Om juga lupa memperkenalkan diri, panggil saja aku Om Edo. karena kalian berdua seusia anak Om" ujar Edo.
"Boleh juga" ucap Davina dan Anye.
__ADS_1
"Kalau nama aku Anye dan ini temanku Davina" ucap Anye akirnya.
"Ini kartu nama Om, kalau ada apa-apa atau perlu Om , kalian bisa hubungi alamat dan nomor ponsel Om yang tertera di sini," ujar Edo.