Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)

Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)
Perasaan iri


__ADS_3

"Davina tenangkan dirimu dek, kakak tidak akan tinggal diam dan akan mengusut Siapa yang melakukan ini terhadap mu" ucap Devan, meskipun ujung-ujungnya nanti dia akan membatalkan niatnya, karena tidak tega jika Lara harus mendapatkan masalah.


"Kenapa dengan ku, selalu merasa tidak tega pada cewek sialan itu. padahal sudah jelas-jelas dia memperlakukan Davina dengan buruk." gumam Devan sambil membantu Davina un masuk kedalam mobilnya dan meluncur pulang, karena tidak mungkin bagi Davina untuk masuk kembali kedalam kelas dengan pakaian bah dan kotor.


Sampai dirumah Clarissa langsung syok melihat penampilan anak kesayangannya,


"Davina kamu kenapa sampai seperti ini sayang." panik sambil memperhatikan anaknya.


"Aku tidak tahu Bunda " Milka kembali menangis


"Devan cepat kamu usut, atau bunda dan papamu yang langsung turun tangan." Clarissa terlihat marah sambil Menuntun Davina kekamar dan membersihkan tubuhnya.


"Kenapa dengan ku, setiap kali bertemu dan melihat wajah Lara aku merasa begitu dekat, seperti melihat diriku sendiri. sudah berapa kali dia berbuat jahat dan berniat menjatuhkan Davina, namun aku selalu kalah dengan persaan ku sendiri yang tidak mampu membalas perbuatan jahat nya itu.


Aku bingung apa yang membuat ku seperti ini, padahal tidak ada hubungan apapun diantara kami. Okey Lara, aku akan mencaritahu secara diam-diam apa sebenarnya motif mu yang begitu membenci kembaran ku Davina, yang tidak pernah berbuat salah terhadap mu" bathin Devan yang kembali menuju sekolah karena jam pelajaran mereka belum berakhir.


Berbagai pertanyaan selalu bermunculan dibenak Devan, dan masih tentang masalah yang itu-itu saja.


"Permisi buk "


"Sasha dari mana saja kamu? kenapa begitu lama pergi ke toilet nya, dan kemana Davina belum balik-balik juga kejelas" ucap Bu Mery dengan wajah sanggar.


"Maaf Bu, tadi Davina terkunci dalam toilet, dan dia langsung pulang karena pakaian nya basah dan kotor" ucap Sasha.

__ADS_1


"Kenapa Bisa" Bu Mery mengerutkan keningnya bingung dan penasaran.


"Seseorang telah berniat jahat terhadap sahabat saya itu " Sasha melirik Lara dan teman-temannya yang tiba-tiba memucat ketakutan.


"Siapa yang melakukannya Sasha, kalian semua harus hati-hatupi karena Davina anak kepala yayasan ini, bisa-bisa kalian akan mendapatkan masalah jika berbuat buruk terhadap nya, lagian Davina itu anak baik." ucap bu Mery sambil menyuruh Sasha duduk kembali ke kursi nya


"Brengxxxx kenapa cepat sekali Davina keluar dan mendapatkan bantuan, aku belum puas mengerjainya" Lara menatap punggung Sasha yang duduk di deretan Kursi paling depan.


"Tenang Lara kita masih punya banyak waktu" bisik Dio tersenyum sinis, Dio dulunya anak yang baik. tapi semenjak berteman dan bergaul dengan Lara, sifat nya ikut berubah. mereka begitu akrab karena merasa memiliki nasib sama. yait kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua mereka yang kaya raya melintir.


Setelah merasa tenang kembali, Davina merebahkan tubuhnya di kasur dan tenggelam kedam selimut, sementara sang bunda mengelus-elus rambut nya dengan penuh kasih sayang.


Terdengar bel sekolah yang berbunyi, menandakan waktu untuk pulang . semua siswa berteriak kegirangan dan saling berpacu meninggalkan ruangan kelas Masing-masing.


Dia akan kembali pulang, sudah sore menjelang dan langsung ketiduran sampai dirumah. kadang dia terbangun malam, dan langsung menuju club malam untuk kembali bersenang-senang, bi Ijah sering menangis melihat kehidupan Lara yang bebas.


"Lara sayang, beribadah untuk menjadi anak baik sayang. bibi sangat menyayangimu melebihi hidup bibi sendiri." Ucap bi Ijah mengelus rambut Lara yang tertidur begitu saja fisofa setelah diantarkan oleh teman-temannya.


Besoknya disekolah, Lara kembali tersenyum senang setiap kali melihat Clarissa datang dan menjemput anak-anaknya, Devan dan Davina. dia terus memperhatikan dari kejauhan.


Clarissa tersenyum manis menunggu anak kembarnya, sambil berdiri memainkan benda pipih ditangan nya membalas chat sang suami Zio yang tengah berada di sebuah pulau Bintan untuk menjalankan proyek perusahaan papanya dulu Rama Alexander


Clarissa sengaja hari ini menjemput kedua anaknya, dan sesekali mengunakan jasa sopir pribadi untuk antar jemput mereka, untuk Devan pun demikian jarang dia mengunakan mobil. mereka lebih suka tampil apa adanya, mencerminkan sikap Zio yang sangat sederhana yang merupakan turunan dari Oma Anyelir.

__ADS_1


" Bunda" sapa Davina berlari menuju Bundanya yang diikuti Devan.


"Udah pulang sayang" sapa Clarissa.


" Bunda kelihatan nya senang banget, balas chat siapa sich ? goda Davina.


"Papamu sayang"


"Kapan papa pulang ya Bun," Davina udah kangen banget nih"


"Sabar..,lusa juga pasti Udah nyampe Rumah" bujuk Clarissa.


Lara yang berdiri tidak terlalu jauh dari merekalah sekarang, mengusap air mata yang lolos begitu saja. dia juga menginginkan kasih sayang seperti yang didapat Davina.


"Aku merasa sakit melihat kebahagiaan mereka, Davina memiliki segalanya. Bundanya sangat cantik dan sangat lembut, menyayangi anak-anak, sedangkan aku hanya anak yang tidak diinginkan oleh kedua orang tua ku yang tidak tahu keberadaan nya, Tuhan kirimkan aku orang tua yang seperti ayah dan Bunda nya Davina, aku juga ingin kasih sayang dan perhatian seperti yang mereka dapatkan." menatap kebahagiaan mereka sedih.


Secara tidak sengaja Clarissa melirik kearah Lara yang terpaku menatap mereka yang hendak memasuki mobil.


"Kalian tunggu Bunda dimobil dulu ya"


Clarissa berjalan mendekati Lara sambil tersenyum ramah menyapa nya, entah kenapa hatinya terasa begitu bahagia dan tenang melihat wajah anak tpremaja didepannya ini.


"Kamu menunggu siapa nak, kalau tidak keberatan mari Tante antar kamu pulang. kamu pasti temannya anak Tante Davina?"

__ADS_1


"I...iya Tante, namaku Lara " menatap wajah Clarissa, Lara merasakan begitu tentram dan menemukan sosok seorang, tanpa sadar dia menghambur menangis memeluk Clarissa. yang membuat nya begitu hangat dan nyaman, rasanya Lara tidak ingin melepaskan pelukannya. begitu juga Clarissa merasakan hal yang sama.


__ADS_2