
"Brengsek, ternya dalang dari semua ini Jeni dan saudara sepupunya." teriak Zio begitu mendapatkan informasi dari orang-orang nya yang menyelidiki semua kejadian beberapa tahun silam itu.
"Apa mas jadi Jeni benar-benar menyimpan dendam masa lalu pada kita?"
"Ya dan ternyata Lara adalah benar-benar anak kita, kembaran Devan. tes DNA juga menyatakan hasil yang positif " terang zio.
"Jadi lara adalah anak ku," Ucap Clarissa menangis.
Davina yang menguping pembicaraan kedua orang tua nya, tiba-tiba seakan kehilangan tempat untuk berpijak. Davina berjalan mendekati orang tuanya, menatap xio dan Clarissa bergantian lalu Devan yang sudah sembuh sementara Lara masih belum sadar.
Davina ingin minta penjelasan tentang siapa sebenarnya tentang siapa dirinya dan perempuan yang bernama Jeni itu. apakah ibunya Lara atau dirinya sendiri.
"Kak siapa Jeni, dan apa hubungannya dengan ku atau Lara?" tanya Davina namun semua diam saja. tidak ada yang berani berterus terang.
"Clarissa sudah waktunya Davina mengetahui semua ini, dan aku rasa ini adalah saat yang tepat" ucap Zio.
"Tapi Bunda belum siap kehilangan Davina" Clarissa tiba-tiba menangis.
__ADS_1
"Siap tidak siap, kita harus membuka rahasia besar ini mi, lagian Davina akan tetap menjadi Putri kita" Ucap Zio
Clarissa Akirnya menggangguk pelan,dan mengikuti langkah Zio menuju meja makan kembali.
"Pi kenapa Bunda menangis" Davina mendekati Bunda nya, dia masih terlihat bingung.
"Davina Putri ku hu...hu..." Clarissa memeluk erat tubuh Davina.
"Mami kenapa" Milka mengelus punggung maminya seakan memberikan kekuatan sedangkan Aurel dan Milko diam tidak berani bersuara, karena mereka berdua telah mengetahui semuanya.
"Iya pi" Davina duduk di sebelah Bundanya.
"Davina sayang.. dengar ya nak, apapun penjelasan yang akan papi katakan nanti, kamu harus siap dan jangan pernah membenci kami atau pun pergi meninggalkan kami" bujuk Zio
Davina mulai merasa was-was dan detak jantung nya saling berpacu, rada penasaran dan kwatir menjadi satu. Davina mulai merasa kan ada sesuatu yang tidak baik. dia kembali menatap satu persatu.
"Davina siap pi mendengar semua pi" nada suara Davin terdengar bergetar, dan tiba-tiba Clarissa kembali memeluk erat tubuh nya, sambil bergumam pelan "Putri ku.... Putri...ku"
__ADS_1
"Begini Davina beberapa tahun silam, papa mempunyai dua sahabat azka dan Daniel, dan tiga sahabat perempuan Caca, Agnes dan Jeni. namun persahabatan kami rusak karena masalah percintaan kami yang rumit. Om azka menikahi Tante Caca, dan Om Daniel bersama Tante Agnes, sementara Jeni yang diam-diam menyukai papa. menaruh dendam karena papa lebih memilih Bunda adik kelasnya.
Sementara papa berhasil Menikah dengan Bunda, sehingga Jeni yang sudah lama mencintai dan mempunyai ambisi yang besar terhadap papa , mengambil kesempatan untuk membalaskan dendam setelah dia hamil bersamaan dengan Bunda. " terang Zio hati-hati.
Davina meremas kedua jemarinya, namun masih fokus pada penjelasan Zio tersebut.
"Lanjutkan Pa,dan apa hubungannya cerita papa tersebut dengan Davina" ucap Davina tidak sabaran.
"Lalu saat mami melahirkan anak kembar, Jeni saat itu juga melahirkan bayi perempuan, anaknya bersama Edo . dan...dia memanfaatkan situasi itu dengan menukar salah satu bayi perempuan kami dan anaknya, yaitu Lara dp dan kamu Davina" ucap Zio yang ikut merasa khawatir akan reaksi Davina nantinya.
"Jadi...Jad....jadi aku bukan anak kandung Bunda dan pspa" tangis Davina pecah, Devan berlari mendekati dan memeluk tubuh Davina yang merosot bersimpuh dilantai.
"Tidak sayang... bagaimana pun kamu anak bunda dan papi" ucap Clarissa menangis
"Iya Davina , kamu adalah saudara perempuan ku sekarang dan untuk selamanya" Devan ikut menangis.
"Aku hanya anak penjahat....hu...hu... ternyata aku....." Davina tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, dengan berurai air mata Davina berlari keluar di kegelapan malam
__ADS_1