
Sesuai janjinya, pagi ini Hendrawan telah mengirimkan seorang sopir untuk menjemput Mentari dan putri kecilnya. menuju apartemen mewah yang sengaja dipinjamkannya.
Selama dalam perjalanan, Bunga terlihat begitu senang. dia selalu berceloteh dan bernyanyi kesukaan nya. meski terdengar lucu setiap perkataan yang cadal diucapkannya. kadang dia bernyanyi juga terbalik-balik.
"Duuh,, senangnya anak Bunda." mencium kedua pipi cibi gadis kecil itu.
Sampai di lobby apartemen, Bunga langsung lari masuk tanpa arah. sementara Mentari tengah sibuk menurunkan barang-barang dan kopernya, dibantu sopir. sehingga dia tidak menyadari jika Bunga sudah tidak ada disampingnya lagi.
Bunga yang masih berlari-lari kecil, tidak menyadari jika telah menabrak tubuh seseorang pria dari belakang. hingga membuat ponsel pria tersebut terlepas dan jatuh kelantai karena kaget'.
Bunga mundur beberapa langkah kebelakang, dia terlihat ketakutan. dan tiba-tiba air mata lolos di kedua pipinya. dengan suara bergetar. gadis kecil itu memanggil Bunda dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.
"Bunda.....bunda....Bu...Bun...da."
Farrel yang semula kaget dan sedikit kesal, akirnya berubah menjadi luluh dan melunak, saat melihat kedua mata indah dan tatapan nya yang lembut. membuat Farrel seakan teringat kembali dengan tatapan lembut sang mama yang begitu dirindukannya. Farrel berjongkok agar posisinya sejajar dan berhadapan dengan Bunga.
"Sayang, kamu jangan nangis. Om orang baik kok dan ngak akan marah." ucap Farrel, sambil sebelah tangannya mengambil ponselnya yang sudah retak.
Bunga menghentikan tangisnya seketika, lalu mengangkat wajahnya. memandang lekat pria tampan itu.
"Om ciapa.?" tanya Bunga polos
"Nama Om Farrel Sayang, Om tinggal dilantai atas Apartemen ini. Bunga kok sendirian, ibunya mana.?"
"Bunda lagi belkemas, kalena mulai cakalang Bunga dan Bunda tinggal dicini juga."
"Oooo, begitu ya. Okey mulai sekarang Bunga dan Om sahabatan ya.!"
__ADS_1
Farrel mengangkat jemari nya tanda persahabatan mereka dimulai, yang diikuti jari mungil Bunga.
Farrel selama ini begitu kurang menyukai anak kecil, namun semenjak bertemu dan menata wajah Bunga. rasa sayang timbul begitu saja dari hati terdalam Farrel. bahkan dia merasa begitu dekat dengan Bunga. meskipun mereka bertemu masih dalam hitungan menit saja.
Di parkiran, Mentari langsung terlonjak kaget dan cemas, begitu menyadari jika Bunga sudah tidak berada disampingnya.
"Ya Tuhan, anakku Bunga." mulai panik, celingak-celinguk kebingungan. mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah.
"Ada apa Non.?" tanya pak sopir yang mengantarkan ikut panik.
"Bunga pak, bunga hilang.!" tangis Mentari pecah dan langsung berlari masuk menuju lobby. yang diikuti pak sopir.
"Kita harus segera melaporkan pada pihak keamanan." ucap pak sopir
Sementara Farrel langsung berdiri kembali, ketika sang asisten pribadi nya Frans telah berdiri disampingnya.
"Bos kita harus segera menuju kantor pusat sekarang, karena rapat besar akan segera dimulai." Frans melirik jam dipergelangan tangannya.
"Bos, sebaik kita titipkan saja anak ini, pada petugas keamanan apartemen ini saja, karena kita sudah terlambat."
"Baiklah." jawab Farrel
Frans Melambaikan tangannya, memanggil salah seorang security yang berjaga.
"Tolong kamu jaga anak ini baik-baik, sebelum orang tua nya datang menjemput atau mencari nya" perintah Frans.
Farrel mengayunkan langkah kaki panjang, karena ini rapat besar. dia harus berpacu dengan waktu, agar segera sampai. karena terlalu fokus. Farrel tidak menyadari jika dia dan Mentari berselisih dengan jarak yang begitu dekat. begitu pun Mentari dia juga tidak memperhatikan keberadaan Farrel. karena sedang panik mencari buah hatinya.
__ADS_1
"Bunda." terdengar teriakan nyaring suara kecil Bunga.
Mentari langsung memutar tubuhnya, mencari asal suara.
"Bunga sayang." Mentari langsung berlari menghampiri Bunga, yang tengah digendong seorang security itu.
"Bunda hu...hu..." mereka langsung berpelukan.
"Ibu, tolong lain kali berhati-hati lah. dan jaga Putri Anda sebaik mungkin. karena ini kota besar apapun bisa terjadi." petugas keamanan Apartemen mengingat kan.
"Iya pak, terimakasih atas bantuan bapak." Mentari menunduk hormat.
"Bunga lain kali jangan pergi-pergi sendiri, dan tidak boleh jauh-jauh dari Bunda ya nak."
"Iya Bunda.!" menenggelamkan wajahnya dipundak Mentari.
Mentari menurunkan Bunga, saat mereka telah sampai dalam ruangan apartemen.
"Bunda tempat ini bagus cekali ya.! ucap bibir polosnya
"Iya sayang, Bunga suka ngak tinggal disini.!"
"Su...kaaaa, banget Bunda."
"Besok pagi Bunda sudah mulai kerja, nanti Bunga tinggal sama bibi pengasuh ya.!"
"Iya Bunda.!"
__ADS_1
"Nanti Bunga tidak boleh nakal, dan harus nurut sama bibi."
Gadis kecil itu, mengangguk kan kepalanya, tanda setuju perkataan Bundanya. Mentari langsung menghubungkan kamera cctv apartemen. dengan ponselnya, agar dia bisa terus mengawasi Bunga. meskipun pengasuh yang direkrut dari yayasan resmi.