
Lara dengan senang melangkah meninggalkan gedung sekolah, menuju mobil nya di parkiran sudut sekolah, tanpa menoleh kanan kiri terlebih dahulu. sebuah motor salah satu teman nya melaju kencang....
"Bruuuaggkk.....tubuh kecil Lara terhempas hingga kepalanya membentur pembatas selokan air. begitupun pemilik motor ikut terhempas jauh bersama motor nya. yang tak lain adalah motor Devan saudara kembarnya.
"Lara ....." teriak Dio histeris mengejar sahabatnya yang sudah tidak sadar kan diri, darah segar mengalir hingga mengenai wajah cantiknya.
"Bangun lara... " Dio panik, orang-orang membantu mengajar Lara menuju ke rumah sakit, termasuk pengendara motor yang menabrak Lara barusan yang ikut terluka parah, Dio membuka helmnya yang ternyata adalah Devan . kakak dari Davina yang sangat dibenci Lara.
Di Rumah Clarissa memecahkan gelas minum nya, persaan nya tiba-tiba tidak enak dan mulai kwatir, tidak begitu lama ponsel nya berdering. ternyata dari pihak sekolah.
"Hallo ada apa Bu?"
"Bu Clarissa, anak Anda Devan kecelakaan, motornya menabrak anak perempuan bernama Lara. sekarang mereka sedang berada dirumah sakit pusat. dan kehilangan banyak darah" ucap pihak sekolah sambil menyeka air matanya takut bakal terjadi sesuatu kepada anak didiknya mereka
"Apa" Clarissa syok merasa dunianya ikut berputar
__ADS_1
" Clarissa kamu ngak papa kan ? Ucap Zio berlari menangkap tubuh istrinya yang hampir ambruk.
Clarissa segera menguasai keadaan nya kembali, dan memeluk Zio untuk mencoba menenangkan pikiran nya.
"Ngak papa sayang, kita harus segera menuju ke rumah sakit" Ucap Clarissa.
Begitupun dengan Edo dia merasa gelisah dan kwatir, tiba-tiba dia teringat anak angkat nya Lara , tidak begitu lama ponsel Edo berdering
"Jeni kita harus kerumah sakit, Lara kecelakaan dan butuh banyak darah" ucap Edo ikut panik dengan kondisi anak angkat n nya itu, dan selalu meminta orang-orang untuk mengawasi Lara selama ini.
"Ha....Ha...aku puas, kedua anak Clarissa sama-sama celka." jawab Jeni tertawa senang.
"Ingat Jeni kita harus kesana, tanpa seorang pun yang bisa mengenali kita, kalau perlu lakukan penyamaran sebaik mungkin" bentak Edo
"Baiklah akan aku lakukan" Jeni segera memakai dress panjang dan hijap yang disertai cadar, begitu pun Edo memakai topi dan masker, karena tidak ada orang yang akan curiga dengan maker yang digunakan nya, mengingat konflik virus yang masih beredar dikalangan masyarakat.
__ADS_1
Mereka berjalan di koridor Rumah Sakit, dan sengaja menjaga jarak saat melihat Zio yang berusaha menenangkan dan membujuk Clarissa. yang tidak berhenti menangis, sementara Davina terlihat cemas di depan pintu ruangan tempat Devan mendapatkan penanganan.
Tidak lama dokter keluar dan menjelaskan jika kondisi Devan maipupun Lara, saat ini tengah kritis, jika pihak Rumah Sakit belum menemukan golongan darah yang cocok dengan Lara dan Devan..
Clarissa langsung pingsan saat hasil tes darah Devan dan Lara sama, sedangkan dan Davina yang akan menyumbangkan darah untuk kembaran nya itu, sama sekali tidak cocok.
"Ini aneh sekali, kenapa darah mereka bisa sama, sedangkan Davina berbeda dengan kita?" Ucap Zio.
"Tapi itulah kenyataannya Tuan" terang dokter.
"Jangan bersandiwara dengan ku dokter, kamu tahu siapa kami dalam sekejap aku bisa menghancurkan posisi mu ini" bentak Zio emosi.
"Maaf Tuan, tapi ini kenyataan nya. darah kedua pasien sama mereka kembar berdasarkan penelitian dan hasil pemeriksaan kami, " ucap dokter kesusahan berkata karena Zio semakin mengeratkan pegangannya pada kerah baju dokter yang menangani Davina dan Devan.
Zio melepaskan pegangannya dan terhenyak disamping istri tercinta yang masih pingsan, dokter menatap ke duanya bingung.
__ADS_1
"Cepat cari dan temukan bukti , dimana istriku pernah melahirkan anak-anak kembarku dan lakukan juga tes DNA terhadap putriku Davina" ucap Zio seakan tidak mempunyai tenaga lagi untuk berkata.
"Baik Tuan" jawab asisten pribadi Zio yang segera melacak data-data pasien yang Melahirkan diwaktu yang bersamaan dengan Clarissa.