
Clarisa dan Zio saling pandang kebingungan, saat melihat mamanya berjalan cepat menuju kamar. seperti menyembunyikan sesuatu dari mereka. sementara Oma tidak melihat hal itu karena tengah sibuk mengurus Opa memberikan obatnya.
"Zio, Clarisa tunggu sebentar ya. papa kekamar dulu lihat Mama mungkin Mama kurang enak badan." ucap papa.
'Ya pa," jawab mereka serempak.
Gilang bangkit dan langsung menuju kamar mereka, Ceklek pintu kamar terbuka dan segera Gilang menutup pintu itu kembali namun tidak terlalu rapat. dan mendekati Cantika yang menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. tubuh istrinya itu bergetar menahan isakan tangis.
"Sudahlah sayang, aku mengerti perasaanmu dan kesalahan masa lalu kita. mereka tidak bersalah kita tidak bisa menghukum dan memisahkan mereka hanya gara-gara ini." bujuk Gilang merangkul tubuh istrinya.
Diruangan keluarga pasangan muda itu terlihat sama-sama heran dan penasaran. namun mereka berdua lebih memilih untuk diam dengan segala rasa penasaran dan kebingungan mereka berdua.
"Sayang toilet nya dimana ?" Zio menegang perutnya yang sedari tadi ingin buang air kecil.
__ADS_1
"Dibelakang kak, yuk biar Clarisa antarkan saja." berdiri berjalan lebih dahulu dari Zio yang mengikuti dari belakang. namun tiba-tiba langkah Clarisa terhenti tepat di pintu kamar Mama papa nya, ketika mendengar suara tangis. karena sedari tadi masih penasaran Clarisa terpaksa menguping suseuatu yang tidak disukainya selama itu.
Tubuhnya hampir jatuh kedepan, ketika Zio menabrak dari belakang.
"Sayang hati-hati," bisik Clarisa sambil meletakkan jari telunjuknya diatas bibir.
Zio menarik tangannya untuk menjauh, namun gerakan nya terhenti ketika mendengar ucapan Mama Clarisa yang menyinggung nama kedua orang tuanya, rasa penasaran itu membuat Zio ikut mendengar.
Dikamar Cantika menumpahkan tangisan di dada suaminya,
"Keluarga Rama orang baik ma, mereka pasti akan menerima semua ini dengan lapang dada." bujuk Gilang menenangkan istrinya. Cantika terus menceracau menumpahkan isi hatinya sehingga semua kejadian itu terdengar jelas oleh Zio dan Clarisa.
Gadis itu hampir ambruk, jika Zio tidak segera menahan tubuhnya dan menarik tangan Clarisa untuk mengikuti nya keluar dari rumah. Clarisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya untuk menahan isakan tangis. mereka duduk dikursi taman belakang.
__ADS_1
Ditempat yang sepi itu Clarisa menumpahkan segala tangisnya, begitu mendengar kenyataan yang tanpa mereka duga sebelumnya. begitu juga dengan Zio, pria itu terlihat syok dan memilih bungkam dan mengelus punggung wanita yang dicintainya.
"Aku malu kak Zio, aku tidak pantas menjadi pendamping mu." ucap Clarisa.
"Tidak sayang, jangan berbicara seperti itu. aku mencintaimu dan tidak Akan pernah meninggalkanmu hanya karena masalah yang tidak kita ketahui. dan lagian itu hanya masa lalu keluarga mu dan mereka pun sudah saling memaafkan." bujuk Zio.
" Clarisa maafkan mana nak." terdengar suara Cantika yang bergetar. sontak membuat pasangan itu langsung menoleh kebelakang.
"Mama." Clarisa menghambur kepelukan Mama dan papanya.
"Sayang memaafkan kami, bukan maksud Mama merahasiakan darimu nak, tapi waktunya belum tepat."
"Iya ma." membalas pelukan hangat mamanya itu.
__ADS_1
"Zio bagaimana menjelaskan hubungan kalian ini pada keluarga mu nanti." ucap Cantika.
" Kita akan cari waktu yang tepat ma." bals Zio tersenyum lega saat melihat Clarisa sudah terlihat tenang kembali.