
Zio menghembuskan nafas dalam-dalam, mencoba memberi ketegaran dan kekuatan pada hatinya sendiri. berat' bagi Zio berpisah dengan Clarisa dengan cara yang seperti ini. namun dia tidak bisa berbuat banyak untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Lamunan Zio buyar ketika getaran ponsel, yang disimpan di kantung celananya. segera Zio mengangkat panggilan dari maminya tersebut, sambil berjalan masuk kedalam kamar.
"Assalamualaikum mi....!" ucap Zio dengan nada suara kurang semangat.
"Waalaikumsalam sayang ...., aduuuuuh anak ganteng mami kok lesu gitu, ayo semangat sayang. karena besok pagi sopir jemputan yang dikirim papi bakal kesana untuk menjemput mu nak" ujar Anyelir
"Iya mi"
"Apa kamu sudah berkemas sayang ?"
"Belum mi, baru akan memulai untuk berkemasnya" jawab Zio singkat
"Kalau gitu, mami tutup dulu telponnya"
"Ya mi" Zio berjalan menuju lemari pakaian nya, mengeluarkan koper besarnya dan mulai menyusun satu persatu pakaian nya.
"Kamu benaran balik duluan ke Jakarta, tanpa menunggu bukti kelulusan kita serta serangkaian acara perpisahan sekolah kita yang penuh dengan kenangan indah ini" ujar Daniel
"Indah pala'mu..."
ucap Zio dengan nada kesal, karena malam perpisahan yang sudah lama dinanti-nantikan nya, Zio bakal kembali mengungkapkan perasaan pada Clarisa, malah berubah menjadi tragedi yang memalukan, sebelum niatnya terlaksana.
"Kami ngerti Zio bagaimana perasaan mu, tapi paling tidak tunggu lah disini untuk beberapa hari ini" ucap Azka
__ADS_1
"Tidak bisa, lagian papi ku masih tidak terima atas perlakuan tidak adil yang menimpa ku" Zio masih sibuk menyusun pakaian nya.
Daniel dan Azka akirnya angkat bahu pasrah, karena mereka seolah-olah kehabisan kata-kata untuk membujuk Zio.
Dikamar nya Clarisa mengusap air matanya, dan ikut menutup gorden jendelanya saat melihat Zio telah masuk kedalam sambil memegang ponselnya.
"Pasti kak Zio sangat sedih dan terpukul sekali dengan masalah ini, Farrel kenapa kamu begitu jahat, apa salahku terhadapmu, begitupun Mentari kamu tega merusak sahabat baikku. kehadiran mu telah merusak segalanya Farrel. kamu jahaaattt..... jahaaattt....." pekik Clarissa memukul-mukul guling yang dipeluknya untuk menumpahkan tangisan.
Cukup lama Clarisa menangis malam itu, hingga paginya dia ketiduran, cahaya sang Surya yang masuk melalui celah-celah jendela. membuat Clarisa mengucek matanya karena merasa silau. dan merubah posisi dia ingin melanjutkan kembali tidurnya. namun tiba-tiba dia kembali terlonjak kaget
"Kak Zio......."
Clarisa baru tersadar jika pagi ini Zio akan pergi meninggalkan sekolah ini. dia langsung bangun dan membuka tirai jendela secara tidak sabaran lagi. dia langsung mengedarkan pandangannya ke arah asrama putra, tepatnya kamar Zio yang masih terlihat tertutup.
"Apa kak Zio telah pergi dari sekolah ini.?"
"Ya aku harus melihat dan menemui kak Zio untuk yang terakhir kalinya, paling tidak aku akan melepasnya dengan senyuman"
Clarisa dengan tergesa-gesa menganti pakaian nya dan berlari turun, Clarisa tidak memperdulikan tatapan orang-orang melihat tingkah nya, baginya harus segera bertemu dengan Zio sebelum terlambat.
Dengan deru nafas yang terengah-engah, Clarisa akirnya sampai juga didepan pintu kamar Zio.
"Tok....tok....tok...."
Clarisa mengatupkan kedua belah tangan nya ke dada, berharap Zio masih berada di kamar asrama itu. sambil menahan gejolak perasaannya.
__ADS_1
Tidak lama pintu kamar terbuka, namun bukan Zio yang keluar melainkan Azka dengan kaos oblong dan celana yang begitu pendek.
"Eeeee.... Clarisa, pasti nyariin Zio ya...?" ledek Azka sambil memajukan telunjuknya kearah wajah Clarisa
"I..iya kak, Zio nya mana ?"
Clarisa mencoba mengintip kedalam melalui pintu yang terbuka, namun terhalangi oleh tubuh Azka yang berdiri di depan pintu itu.
"Clarisa datang kesini nya kok telat banget, Zio barusan pergi. mungkin sekarang masih dibawah" ucap Azka santai
"Apa ...!!!
Teriak Clarisa syok, membuat Azka terlonjak kaget mendengar suara Clarisa yang tidak seperti biasanya, lembut dan pelan
Tanpa banyak bicara lagi, Clarisa langsung berlari menuju tempat parkir mobil yang biasa menjemput atau mengantar siswa-siswi sekolah itu. air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya.
Sambil dibawah Clarisa langsung berteriak memanggil Zio, saat melihatnya akan masuk ke dalam mobil. namun Zio tidak menghiraukannya. karena dia tidak mendengar teriakan Clarisa.
"Kak Zio tunggu kak....hu....hu....hu...."
Tubuh Clarisa terhenyak menangis dijalanan, di tertunduk lesu. seiring harapan nya yang ikut hancur melihat kepergian cinta pertama nya itu. dia tidak mampu lagi untuk mengejar mobil yang membawa Zio pergi.
Clarisa melihat sepasang sepatu berdiri di depan nya, dia tersenyum dan berharap itu adalah sepatu dan kaki Zio. Clarisa menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya.
"Ha....ha.... Clarisa kamu bodoh sekali menangisi Zio , karena aku yakin sekali dia bakal langsung ilfil terhadapmu jika telah menyaksikan Vidio kita ini" ucap lelaki itu yang ternyata adalah Farrel.
__ADS_1
"Bajingan kamu Farrel" Clarisa langsung berdiri menghadang Farrel