
"Jangan mendekat, jangan...." Mentari menutup matanya, ketika merasakan hembusan nafas Farrel yang semakin mendekat kearah bibirnya. pergerakan Mentari telah dikunci kedua belah tangan kekar Farrel.
Farrel menghentikan gerakannya, dia menatap lekat, wajah cantik yang selama ini dirindukannya. putih bersih dengan bibir merah muda yang dulu begitu manja.
"Aku begitu yakin dengan perasaan ku sekarang, dia benar-benar Mentari ku."
Tiba-tiba Farrel mengulum senyum, Melihat wajah lucu Mentari yang mengoceh pelan, tapi terdengar tidak jelas sambil menutup matanya. hal yang sering Mentari lakukan dahulu, jika ngambek pada Farrel.
Tingkah Mentari yang seperti itu, membuat Farrel gemas dan tidak tahan untuk membawa wanita yang sangat dirindukannya itu kedalam pelukan hangatnya.
"Lepas, jangan lakukan ini. Presdir Anda tidak bisa memelukku sembarangan. hey kalian berdua tolong aku...!!!!"
Mentari berusaha untuk melepaskan dirinya, namun semakin dia berusaha semakin erat pelukan Farrel. sebelah tangan Mentari berhasil menggapai baju Dita, dan menarik kuat, tapi Frans malah membantu Dita untuk lepas lalu mereka berdua mundur beberapa langkah dari Mentari. bahkan Frans dan Dita menutup telinga mereka dengan handset dan memutar musik, seolah-olah mereka begitu terhanyut dengan suara alunan lagu yang mereka dengar kan.
Mentari menatap kesal wajah Farrel, yang tidak lepas dari wajah mesum dan senyum nakalnya.
"Tolong lepaskan aku." ucap Mentari dingin tanpa ekspresi.
"Okey, aku akan melepaskanmu dengan satu syarat.!"
"Apa syaratnya.?" balas Mentari membuang muka dari Farrel yang tidak lepas menatap wajah nya.
__ADS_1
"Peluk dan cium aku."
"Apa.??? jangan mimpi, aku tidak akan melakukan itu padamu.! bentak Mentari yang mulai berani.
"Baiklah kalau kamu menolak, kita akan terus seperti ini. kamu pikir bisa lepas dariku semudah itu." ucap Farrel.
Mentari menyadari jika lift itu sengaja telah dimatikan, dia yakin Farrel sudah mengatur semua ini. sebelum dia masuk keruangan itu.
"Baiklah." ucap Mentari tertunduk lesu, karena berteriak pun percuma. tidak akan ada orang yang menolongnya.
Farrel mengambil belanjaan Mentari, dan menyerahkan langsung pada Dita, sekarang posisi mereka tanpa jarak sedikit pun.
"Aku malu." suara lembut Mentari terdengar bergetar.
Farrel segera paham maksud Mentari, dengan bahasa isyarat dia memberi kode pada Dita dan Frans untuk membelakangi mereka.
"Sekarang aman, ayo peluk aku sayang,!" Farrel telah merentangkan kedua tangannya.
Mentari memejamkan matanya pasrah, perasaannya bercampur aduk. antara marah, benci , muak dan perasaan rindu yang mendalam pada cinta pertamanya itu menjadi satu. air mata Mentari luluh dalam pelukan hangat Farrel.
Mentari merasa begitu damai dan nyaman dalam pelukan Farrel, dan terus memejamkan matanya. mulut terasa terkunci. ingin rasanya dia berteriak menumpahkan segala kemarahan dan kebencian nya dan mendorong kuat tubuh Farrel, tapi disisi lain dia begitu ingin menikmati rasa rindu dan cinta nya.
__ADS_1
Mentari kembali tersadar, " aku tidak boleh larut dengan perasaan ku, pria brengsek itu harus menerima pembalasanku"
Mentari membuka matanya ketika merasakan lembut dan kenyal bibir Farrel menyentuh bibirnya. sekuat tenaga dia mendorong Farrel hingga jatuh tersandar di pintu lift.
Dita dan Frans langsung terlonjak kaget, mereka berdua segera membantu Farrel untuk berdiri.
"Nona Kejora, apa yang telah kamu lakukan.?" bentak Dita. namun Farrel menatap tajam pada Dita, yang membuat ajudannya itu langsung terdiam.
Mentari menangis menumpahkan segala yang dirasakannya, Farrel tercekat melihat wanita yang dicintainya begitu menderita. hatinya ikut hancur menyadari kekhilafan nya.
"Kejora maafkan aku." ucap Farrel berusaha mendekat.
"Cepat keluar kan aku dari sini.!" ucap Mentari disela-sela Isak tangisnya
"Baik'."
Lift seketika menyala kembali, Mentari langsung berlari ke luar menuju kamarnya, tanpa memperdulikan belanja bulanan nya yang masih dipegang oleh Dita.
"Kalian tetap awasi dia, tapi jaga sikap kalian. dia itu adalah istriku." ucap Farrel melangkah menuju kamarnya sendiri.
"Istri.????" ucap keduanya serempak sambil menatap punggung Farrel Bingung.
__ADS_1